Masalah datang seperti biasanya, di waktu yang terduga, dengan solusi dan jalan keluar yang entah di mana mencarinya. Di kehidupan ini semua masalah adalah risiko, bisa juga menjadi batu loncatan buat menghadapi jenjang baru dalam kehidupan. Sementara itu, dunia maya dibangun dengan begitu luasnya, media sosial contohnya. Media sosial  sekarang dianggap menjadi wadah atas keresahan, seperti yang kamu rasakan sekarang. Tampaknya nggak ada tempat lain untuk curhat selain di media sosial. Curhatmu di media sosial ini tujuannya hanya satu, mencari solusi. Solusi yang di dunia nyata belum kamu adapatkan atau malah belum kamu usahakan. Awalnya hanya sekali saja kamu menjadikan media sosial sebagai pelarian, tapi sekarang kamu udah kecanduan. Dikit-dikit cekrek lalu upload. 

Sebenarnya kamu boleh saja mengadu lewat postingan di medsos. Tapi jangan jadi kecanduan hingga menggantungkan solusi dari masalahmu dari sana. Buat kamu yang udah mulai kecanduan tiap ada masalah trus ‘lari’ ke media sosial, ada beberapa alasan yang menguatkan agar kamu tak keterusan.

1. Niatmu memang untuk menghindar. Tapi pada akhirnya balik juga ke dunia nyata karena di dunia maya kamu tak dapat apa-apa

Berawal dari dunia nyata, baliknya pun dunia nyata itu. via unsplash.com

Advertisement

Kamu yang sedang masalah, seperti dikejar-kejar bayangan yang mengancam. Kamu takut untuk menghadapinya sendiri dan berlari ke dunia maya. Update story ini itu, mencoba dapatkan penyelesaiannya dari pemirsa. Tapi yang kamu dapatkan justru sebaliknya. Bukannya solusi, kamu justru mendapatkan berbagai kalimat yang menyakitkan. Ih kenapa sih gini aja curhat ke sini? katanya. Dunia maya hanya selingan, kamu bisa mencari solusi dari situ tapi penyelesaiannya pasti balik lagi ke dunia nyata. Kalau begini, kenapa nggak dari awal kamu selesaikan dulu masalahmu? Baru setelah itu menjamah dunia maya sesukamu.

2. Unggah status keluhan memang bikin banyak orang bersimpati bahkan berempati. Tapi penyelesaiannya pasti balik ke kehidupan nyata lagi

memang banyak yang bersimpati, tapi keputusan tetap ada di kamu …. via unsplash.com

Semua masalah lahir dari dunia nyata, dan dunia maya adalah wadah menaruh perasaan, teori dan informasi. Tentu saja, secara praktikal semua hanya bisa dilakukan di dunia nyata. Jangan mendalami emosimu di lini media sosial. Semakin kamu emosional semakin leluasa kamu merangkai kalimat yang membahayakanmu sendiri. Baiknya, bijak dalam dunia maya. Tak perlulah tiap waktu unggah keluhan yang belum tentu bisa dapat penyelesaian.

3. Nggak dilarang kok mengeluh di dunia maya. Tapi ingat harus dibarengi dengan mencari solusi buat selesaikan masalah di dunia nyata

Jangan lupa cari solusi juga ya via unsplash.com

Bagimu, mencari solusi permasalahan lebih mudah dilakukan di media sosial. Tinggal ketik-ketik upload lalu tunggu sebentar, kamu udah dapat feedback meskipun nggak sepenuhnya memenuhi harapan. Nah hal ini yang kadang bikin lupa, kamu yang sedang memiliki masalah serius malah keasyikan menunggu balasan dari pemirsa di sana dan malah meninggalkan kenyataan yang sedang membelenggumu.

4. Kadang kamu juga dapat banyak masukan dari unggahanmu di media sosial. Tapi kamu justru kebingungan sendiri untuk menentukan

Banyak yang kasih saran tapi banyak juga yang menyesatkan via unsplash.com

Advertisement

Solusi bukan satu dua saja yang ada di dunia maya, ada berbagai sudut pandang yang tentu saja kalau kamu nggak bisa menyaringnya bisa jadi masalah baru bagimu. Ada banyak sekali jalan keluar yang ditawarkan di dunia maya terhadap masalahmu. Hal ini pasti buatmu bingung. Kalau diikuti semua, jelas nggak mungkin. Tapi kalau nggak diikuti, kok rasanya sayang udah capek-capek ngetik dan unggah. Kamu harus tentukan sikap sendiri, dunia maya hanya berisi opsi, semua hal yang kamu lakukan harus kamu yang tentukan.

5. Niatmu ‘berlari’ ke dunia maya adalah untuk cari solusi sekaligusmenghibur diri. Tapi pada akhirnya kamu justru ribet sendiri

Mereka yang melakukan cara sepertimu juga nggak sepenuhnya berhasil mengatasi masalah via unsplash.com

Kadang susah banget mencari jalan keluar yang spesifik di dunia maya. Sebab beda kepala, beda pula jalan pemikirannya. Kamu pun jadi bingung sendiri memilih di antara banyak pendapat yang masuk di inbox-mu. Kamu yang niatnya mencari bantuan bisa jadi malah tenggelam. Dan tanpa sadar dibuat ribet sendiri menentukan jalan mana yang diambil. Padahal kamu tak speenuhnya paham mana saja jalan yang sepenuhnya benar dan mana yang tipuan.

6. Curhatmu di media sosial juga bisa berujung bully. Ngeri kan kalau awalnya kamu butuh bantuan tapi malah jadi bahan bullyan-an.

Awas malah diserang balik via unsplash.com

Kamu punya segudang masalah. Apalagi masalahmu berhubungan dengan pihak lain. Niatmu curhat malah balik diserang dengan bully yang begitu kejam. Kamu yang awalnya menggantungkan penyelesaian dari mereka, bisa jadi malah hancur berkeping-keping dibuatnya. Makanya sebelum menuliskan keluhan dan curhatanmu di media sosial, sadari dulu konsekuensinya. Jangan sampai kamu justru menjadi pihak yang di-bully karena tak menyiapkan diri dan asal curhat di media sosial aja.

Ketahui juga kalau dunia maya itu nggak sesolutif seperti yang kamu kira. Ada banyak kekurangan, dari salah paham sampai aksi bully nggak bertanggung jawab. Dari sekian risiko yang ada di dalam dunia maya, apa iya kamu masih tetap ingin berkeluh kesah terus di dunia maya tanpa memikirkan solusinya di dunia nyata? Semoga kita semua bisa lebih bijak dalam menggunakan kecanggihan teknologi ini ya~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya