Sudah banyak ujaran kebencian yang kamu temui di media sosial, bahkan ada yang terang-terangan mem-bully satu pihak. Media sosial yang jadi moda alternatif manusia untuk menjalin hubungan antar manusia lain telah berubah dengan cepat. Bak rodeo, media sosial adalah banteng gila yang semakin kuat menggulingkan jiwa sosial penggunanya. Bagi mereka yang tak siap menungganginya, sejenak nyaman namun akhirnya akan jadi pesakitan di medan maya ala media sosial.

Tak sulit menemukan ujaran kebencian, simak saja kolom komentar akun-akun gosip atau akun media faktual yang ada di medsos. Memang bukan perkara mudah untuk keluar begitu saja dari medan dunia maya, ada kebutuhan untuk bersosial tapi di lain sisi kita (sebagai pengguna) tak bisa memungkiri kejenuhan akan diorama permusuhan yang terjadi di sana. Tapi kalau memang kamu masih ingin dikatakan waras, harusnya memilih melakukan beberapa hal ini.

1. Tunjukkan kepedulian terhadap sesama atas dasar kemanusiaan, bukan suku, ras, agama dan golongan

Kita sama kan? Sebagai manusia yang berhati, kita saling menyayangi via unsplash.com

Advertisement

Kepedulian sangat penting, baik itu dalam persamaan ataupun perbedaan. Kepedulian atas nama perbedaan adalah kebaikan dari toleransi, sementara kepedulian atas nama kemanusiaan berarti kita setuju bahwa suku, ras, agama dan golongan bukan hambatan untuk menolong sesama. Semoga saja, kesadaran akan persamaan ini tak muncul tatkala satu dari yang lain sedang dalam kesusahan. Semoga saja kesadaran semacam ini mewujudkan toleransi dalam hidup bersosial.

2. Kita terlalu malu untuk mengaku salah dan terlalu sombong untuk sok benar. Sadari kesalahan serta tak perlu gengsi untuk minta maaf

“Aku salah, dan terimalah maafku… kumohon, Teman … “ via unsplash.com

Permintaan maaf dan pengakuan kesalahan sekarang, mahal harganya. Tapi itu menjadi sangat murah, ketika beberapa pihak merasa benar. Tak ada yang keliru dengan hal ini, itu sah-sah saja. Tapi sepertinya yang sering menjadi konflik adalah kesalahan di sini diandaikan sebagai kronik yang bebal dan tak bisa diperbaiki. Alih-alih menjadi suatu penyakit yang bisa disembuhkan. Mirisnya lagi, mereka yang menyimpan kesalahan seperti merasa benar dan tak mau berobat sambil menyembunyikan kesalahannya.

3. Di medsos, beda sedikit langsung dibully. Seharusnya meski berbeda-beda tapi tetap satu jua

Korban bully bisa terus bertambah via unsplash.com

Korban bully banyak sekali, media penyembuhannya hanya segelintir yang peduli. Termasuk kita ini, kita hanya bisa bersimpati melihat banyak sekali korban bully di media sosial. Tapi tindakan simpati juga tak bisa disalahkan, dan mungkin akan lebih baik lagi jika sedari awal kita dan mereka tetap waspada melindungi diri dari bully dan niatan mem-bully ini.

4. Tutup medsos sejenak jika semakin banyak perang urat syaraf, biar kamu tak ikut terbawa arus ini

Takut terbawa arus via unsplash.com

Advertisement

Tak banyak yang bisa kamu perbuat, karena kadang pembelaanmu untuk menyatakan keberpihakan sering kali diserang dengan debat kusir yang tak berujung. Bahayanya hal ini bisa memengaruhi kondisi batin kita, kebencian pun akhirnya menenggelamkan kita. Permusuhan terjadi, kita yang sedari awal tak ingin mencari musuh malah sekarang ketakutan menghadapi banyak musuh. Jangan sampai hal ini terjadi lagi, kemarahan di medsos harus dipendam, “keluar dari permainan” yang mereka buat dan baiknya menjamah dunia nyata yang sedikit lebih tenang.

5. Urungkan niat untuk berpihak kalau belum tahu pokok masalahnya, sebab kamu bisa tersesat pada sesuatu yang ternyata salah

Verifikasi beritanya dulu via unsplash.com

Karena keberpihakan dalam konflik di media sosial itu berbahaya, maka perlu membedah informasi dulu tentang pokok masalahnya. Alasan kita untuk mengajukan keberpihakan adalah soal pernyataan sikap, tetapi kadang orang yang berbeda pandangan ada saja yang menanggapi ini sebagai perilaku melawan. Mereka yang baper dengan keputusan keberpihakan kita akan menyerang dengan membabibuta tanpa dasar kuat dan penuh dengan ujaran kebencian. Kamu mau begini? Cari informasi yang lebih valid ya.

6. Kalau jalan menuju persamaan harus penuh paksa dan kebencian, sepertinya lebih baik berbeda tapi penuh tawa bahagia

Kita sama sebagai manusia via unsplash.com

Kita bisa saja terlahir dalam suku, ras dan agama yang sama, tapi takdir berkata lain. Masing-masing orang memiliki kepercayaan yang berbeda, tapi pasti masing-masing memiliki kebaikan yang bisa diamini secara universal. Bukankah perbedaan pula yang jadikan Indonesia ada. Toh asliya dalam persamaan pasti ada saja perbedaan. Melangsungkan hajat bersosial dengan pendapat dan latar belakang yang dipaksakan untuk sama malah akan penuh kebencian. Sementara kalau saja bisa saling menerima perbedaan, bukan tak mungkin beda jadi membahagaikan.

Orang-orang saling menuduh, saling menyalahkan, saling merasa benar, saling mengakimi, saling diam dan saling tak acuh. Orang-orang Indonesia hanya ada di Malaysia, hanya ada di Singapura, hanya ada di luar negeri. Begitu sampai ke bumi pertiwi kita seperti kehilangan Indonesia dalam diri kita sendiri. Untung sekali nasi yang kita makan ini tak peduli dengan kebencian manusianya. Untung sekali air yang kita nikmati tak peduli dengan permusuhan. Kita tak sengaja berbagi karena Bumi berbaik hati melihat pertengkaran naif ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya