“Ya elah gitu aja tersinggung. Baper amat sih kamu? Kurang piknik ya?”

“Ebuset. Begini aja nangis dan mellow? Kok baper amat sih?”

Bila dicari di KBBI, kata baper memang tidak akan pernah kita temukan. Namun dalam bahasa sehari-hari kata baper sudah menjadi keseharian. Baper atau bawa perasaan ini sering kita sematkan pada teman yang gampang tersinggung menyikapi sesuatu, atau menanggapi sesuatu dengan terlalu serius dan dimasukkan ke hati. Padahal menurutmu seharusnya santai saja lagi.

Meski menjalani hidup dengan santai saja itu memberi banyak kemudahan, tentunya tidak adil bila kita mengharuskan semua orang menanggapi sesuatu sama persis dengan cara kita. Lantas dia yang lebih sensitive dan mudah sakit hati, begitu saja kita semati ledekan ‘Dasar baper!’, yang kira-kira mengandung makna bahwa rasa sakit hatinya itu tidak berdasar sama sekali.

Untuk beberapa hal dalam hidup, rasanya tidak bijak bila kita mengumbar kata ‘Dasar baper’ untuk orang-orang yang memang mudah tersentuh hatinya.

1. Hati setiap orang berbeda-beda. Kita mudah bilang ‘Ah, gitu aja baper.’ Tapi kalau buat dia itu hal yang sensitif gimana?

Hati orang berbeda-beda via www.mnn.com

Advertisement

Ada orang yang bisa mengabaikan segala omongan orang, ada juga merasa begitu terganggu dengan apa yang dikatakan orang. Sebuah isu bisa memiliki makna yang berbeda bagi masing-masing orang. Kamu bisa santai saja dengan segala ledekan tentang jodoh, suku, pekerjaan, namun tidak semua orang bisa secuek kamu. Begitu juga dengan apa yang menurutmu sangat sensitif, misalnya tentang berat badan, bisa saja bukan masalah besar untuk orang lain. Karena itu, apa yang sering kita bilang ‘gitu aja baper’ bisa jadi memang merupakan persoalan sensitif bagi orang lain.

2. Persepsi setiap orang juga berbeda. Apa yang kamu anggap lucu, tak selalu lucu bagi yang lainnya

beda persepsi via www.cosmopolitan.co.uk

“Gue bercanda, Bro. Nggak usah baper gitu deh.”

Ketika kita mengatakan ‘Dasar baper’ atau ‘gitu aja baper’, yang kita maksud barangkali bahwa apa yang baru saja terjadi itu hanya bercanda, tak perlu dianggap serius. Tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Bahwa maksudmu adalah melucu dan tidak bermaksud melukai hati siapapun. Namun memang terkadang kita melukai hati seseorang tanpa kita sadari. Meskipun maksud hati ingin menghibur, bisa saja lelucon yang kita anggap lucu itu memang menyinggung orang lain. Kita tidak pernah bisa mengontrol perasaan orang lain bukan?

3. Saran ‘Udah nggak usah dimasukin ke hati’ mudah dikatakan, namun sulit diterapkan. Hati bukan mobil matic yang gampang dikendarai

Sulitnya mengendalikan hati via onthefieldsoftrenzalore.tumblr.com

Menghadapi kawan yang sensitif dan terlampau lembut hatinya mungkin membuatmu yang lebih strong merasa gemas. Lantas kamu akan memberikan saran untuk “jangan terlalu sensitif” atau “nggak perlu dimasukin hati”. Saran tersebut sangatlah logis dan terdengar mudah. Namun masalahnya, hati seseorang bukanlah tombol on/off di komputer yang bisa diatur sesuka hati. Sulit untuk tidak memasukkan ke hati segala hal yang memang menusuk hati. Bukannya tidak bisa, namun jelas bukan hal yang mudah untuk dilakukan secara instan. Bukankah karena hati sulit diatur juga, sebab terkadang kita merasa jatuh cinta pada orang yang salah?

4. Tak ada orang yang ingin jadi sosok mudah baper. Namun hati yang sensitif itu tidak bisa dibohongi. Daripada dihina lebih baik dihargai

Sakitnya sampai ulu hati via www.hipwee.com

Bila bisa memilih, barangkali akan lebih mudah bila menjadi sosok yang cuek dan tidak sensitif. Dengan begitu, setiap langkah akan terasa mantap karena tidak harus memberi perhatian kepada sekitar. Siapa yang ingin menjadi orang sensitif? Yang mudah sakit hati dan tersentuh oleh hal-hal yang tidak orang mengerti. Meskipun bisa saja berpura-pura untuk tidak peduli, tetap saja nyeri di ulu hati tidak bisa dibohongi.

5. Galau sedikit dibilang baper. Tersinggung dibilang kurang piknik. Padahal barangkali memang ada masalah pelecehan yang terjadi

bully terkadang tak disadari via publichealthwatch.wordpress.com

Munculnya istilah ‘baper’ ini secara tidak langsung merujuk pada sikap terlalu lebay ketika menanggapi sesuatu. Ketika kita menyatakan “kok baper banget sih”, seolah-olah kita sedang meletakkan kesalahan pada orang tersebut. Bahwa yang bermasalah adalah dirinya, bukan guyonan atau perlakuan apapun yang membuat dia baper itu. Alih-alih introspeksi diri ketika ada orang yang tersinggung dengan sikap ataupun ucapan kita, kita justru dengan mudahnya menuding dia yang harus membenahi diri untuk mengurangi sensitifitas hati. Padahal, dalam bercandaan sehari-hari, tak jarang diwarnai pelecehan sana sini yang mungkin tak disadari. Sementara si orang sensitif yang merasa tersakiti dipaksa harus menguatkan hati agar menjadi biasa dengan hal-hal semacam itu.

6. Kalau sedikit-sedikit disebut baper, semua orang akan bebas melakukan apa saja tanpa memedulikan orang lain. Isu besar bisa hilang eksistensinya karena dianggap itu hanya sewajarnya

masalah-masalah besar jadi disepelekan via shortstoriesforkids.info

Ketika sumber masalah diletakkan kepada orang-orang yang baperan, maka semua tindakan yang memicu hal tersebut dianggap wajar. Menyatakan keberatan atas sebuah guyonan disebut baper. Menyampaikan emosi dibilang kurang piknik. Ini itu disebut baper. Lama-lama pelecehan terkait SARA juga akan dilindungi dalam satu kalimat yang penuh dalih ‘cuma bercanda, nggak usah baper’. Korban pelecehan seksual juga akan disebut baper karena nggak ada pelecehan, yang ada hanya bercanda dan bersenang-senang saja. Isu-isu besar yang harus diselesaikan menjadi hal biasa dan semakin terlindungi karena kita menganggapnya hal yang wajar. Sementara mereka yang tersakiti secara langsung hanya bisa menyimpan luka dan memasang senyum palsu. Sudah biasa, katanya.

Setiap orang memiliki sensitifitas yang berbeda-beda. Ada yang biasa saja ketika latar belakang kesukuannya dijadikan bahan bercandaan, namun ada juga yang menganggapnya sebagai hal yang serius. Ada yang biasa saja melihat pengemis tua di pinggir jalan, dan ada juga yang tersentuh hatinya hingga mudah menangis. Kamu berpikir A, orang berpikir B, itu adalah hal yang biasa. Tentu kita tidak bisa menerapkan satu standar untuk menentukan mana yang boleh dimasukkan ke hati, dan mana yang seharusnya dianggap angin lalu saja. Namun karena kita hidup bersama dalam sebuah dunia dengan segala perbedaan yang ada, tentu kita harus terus belajar untuk menghargai keberadaan orang lain dengan segala keunikannya.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!