Banyak orang mengira hidup yang sesungguhnya dimulai pada saat usia 25-an. Tapi sebelum memasuki usia seperempat abad sebenarnya kamu telah merasakan jatuh bangunnya kehidupan. Mulai dari euforia lulus kuliah lalu jadi pengguran tak kentara, teman satu per satu pergi hingga putus cinta yang buatmu patah hati parah. Hal-hal brengsek semacam itu pun akhirnya membuat usia 23-anmu semakin berat adanya.

Seberat apapun hidupmu di usia 23-an, sebaiknya kamu tak menyudahi langkah. Yakinkan hari untuk tetap bertahan dan mengembangkan senyuman kalau masih ada sisa energi. Semoga dengan 6 alasan ini, kamu mampu melewati fase seperempat abad yang berat ini.

1. Goncangan hidup di usia 23-an memang kadang hampir buatmu gila. Yakinlah fase ini hanya akan kamu lewati sekali, jadi jalani dengan sepenuh hati

Fase ini hanya sekali dalam hidup via www.unsplash.com

Advertisement

Tak perlu menunggu umur seperempat abad untuk merasakan hidup yang sesungguhnya. Diusia yang baru 23-an ini, kamu sudah merasakannya. Diangkat setinggi langit lalu dihemapskan dengan kenyataan pahit. Goncangan yang dahsyat dalam hidup ini memang hampir buatmu gila dan menyerah. Namun sayang rasanya jika perjalananmu harus berakhir tanpa usaha sebelumnya. Bertahanlah meski sakitnya sampai ke ulu hati. Yakin saja bahwa fase nggak enak ini hanya akan kamu lalui sekali seumur hidupmu.

2. Mengeluh dan menyalahkan keadaan menjadi pilihan yang logis untuk dilakukan. Tapi bukankah itu terlalu kekanak-kanakan?

Tak perlu mengeluh via www.unsplash.com

Saat hidup lagi tak bersahabat, wajar jika kamu sejenak berhanti untuk menghimpun semangat lagi. Tapi godaan untuk mengeluh dan menghentikan langkah selalu saja mencari celah. Makanya kamu selalu melirik ke dua pilihan sesat itu di kala berhenti sejenak tak cukup untuk mengembalikan semangat. Namun jika mengeluh setelah perjalanan panjangmu selama ini, rasanya kekanak-kanakan sama sekali. Di usiamu yang sebentar lagi seperempat abad ini memang sudah saatnya untuk menjadi dewasa. Baik secara usia maupun pemikiran.

3. Meski hidup rasanya brengsek sekali, tapi bertahan adalah satu-satunya pilihan agar ke depannya kamu lebih tangguh berjuang

Bertahan! via www.unsplash.com

Dinamika hidup di usia 23-an ini memang tak semudah yang kamu bayangkan. Karena kegagalan dan hal-hal buruk lainnya tak masuk dalam angan-anganmu dulu. Yang ada hanya main-main, mencoba hal-hal baru dan melakukan apapun sesuka hatimu. Tapi setelah kamu benar-benar memasuki usia 23-an, kamu mulai merasakan bahwa hidup di umur segini ternyata brengsek sekali. Banyak pilihan yang ada di sekitarmu. Namun pilihan logis yang mampu buatmu semakin berkembang adalah bertahan. Meski sakit dirasakan, tapi yakinlah bahwa kelak kamu akan menjadi seseorang yang lebih tangguh berjuang.

4. Jatuh bangun jalani hidup di usia 23-an ini memang tak enak. Tapi dari sana kamu belajar bahwa hidup kadang tak berjalan sesuai kehendak

Hidup tak sesuai kehendak via www.unsplash.com

Advertisement

Sebelum kamu benar-benar masuk usia ini, kamu pernah menyusun berbagai rencana indah. Dapat pekerjaan, mandiri secara finansial, bahagiakan orangtua, sampai merdeka masalah hati. Tapi rencana tinggal rencana ketika Pemilik Semesta punya ketetapan lain untukmu. Meski harus merasakan jatuh bangun kehidupan yang nggak enak sama sekali, tapi dari sana kamu jadi belajar sesuatu. Bahwa dalam kehidupan kadang harus ada yang direlakan berjalan tak sesuai dengan kehendakmu.

5. Hidup di usia 23-an ini mungkin fase terbrengsek dari semua yang telah kamu lalui. Namun lihat betapa hebatnya kamu sudah mencapai usia 23-an ini!

Kamu hebat udah sampai sejauh ini via www.unsplash.com

23 tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani waktu di hidup ini. Cobaan yang terus buatmu jatuh dan sulit bangkit berhasil menyita seluruh pikiranmu. Hingga kamu menobatkannya sebagai fase paling brengsek di hidupmu. Namun sadarkah kamu bahwa apa yang telah kamu lalui selama ini perlu mendapatkan apresiasi? Meski masih ada sakit yang kamu rasa, tapi ada sisi lain yang menegaskan kalau kamu hebat sebagai manusia. Karena berhasil sampai di titik ini.

6. Meski ingin merutuki hidup, lebih baik kembangkan senyum agar semangatmu kembali meletup-letup. Sebab perjalanan hidupmu masih panjang

Tersenyumlah dan bertahan via www.unsplash.com

Sakit, lelah dan merasa payah adalah hal-hal yang kamu akrabi. Kumpulan rasa yang nggak enak itu buatmu ingin sekali merutuki hidup ini. Namun masih ada sisi dalam dirimu yang selalu menahannya untuk tak melakukan hal itu. Daripada merutuki hidup yang tak ada manfaatnya sama sekali, coba kumpulkan sisa-sia niat dan kembangkan senyummu. Kalau kamu sudah bisa tersenyum dan hadapi brengseknya hidup di usia 23-an ini, semangatmu yang telah menipis pelan-pelan akan terisi lagi. Biarkan senyummu itu terus naikkan semangatmu hingga meletup-letup saat kamu masih usia belasan dulu.

Kalau boleh memilih, kamu pasti sudah mengatakan bahwa hidup di usia 23-an ini tidak menyenangkan. Tapi hidup tak sekedar pilihan senang atau tidak senang. Sebab hidup ini hanyalah perkara sudut pandang. Jika yang kamu rasakan memang hanya brengseknya hidup, jangan lekas menyerah dulu. Mungkin yang perlu diubah adalah cara pandangmu. Maka tersenyum dan bertahanlah. Perjalanan hidupmu masih panjang dan banyak hal-hal menyenangkan di luar sana.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya