Kenapa ya hidupku begini amat?

Tuhan tuh nggak adil banget.

Ketika kamu tengah terkungkung dalam masalah, seringnya kamu merutuk dan mengeluh sebagai bentuk pelampiasan amarah. Hal yang manusiawi memang, namun akan menjadi terdengar cengeng manakala itu hanya disebabkan oleh hal yang remeh-temeh. Berusaha untuk tetap tersenyum dan bersyukur di tengah himpitan masalah, tak mudah memang. Tapi, bukankah pahit manisnya hidup bergantung pada penafsiran setiap individu saja?

Saat ini mungkin kamu mengeluh mengapa dosenmu begitu tega memberi tugas yang menumpuk? Kamu mengeluh manakala pekerjaan di kantor tak kunjung usai meski kamu sudah lembur setiap hari. Merutuk manakala tukang nasi goreng yang dinanti tak kunjung datang. Kesal lantaran tabungan gaji sudah sekarat padahal akhir bulan masih lama. Dan sederet masalah lain yang sebenarnya bisa kamu selesaikan ketimbang dirutuki.

Masalah-masalah kita mungkin tak seberapa dibanding mereka – para korban perang yang nasibnya terlupakan, mereka yang berusaha menerima hidup meski kelaparan dan kemiskinan mendera, atau mereka yang tertimpa bencana alam. Artikel ini tidak bermaksud untuk mempertunjukkan penderitaan mereka yang berada dalam penderitaan. Tapi mengajakmu untuk lebih banyak bersyukur dan menerima masalah sebagai bentuk pendewasaan. Mungkin setelah membaca ini, kamu tak mudah mengeluh karena hal sepele lagi.

1. PBB mencatat bahwa kematian anak-anak di Afghanistan meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu 6 bulan ke belakang

Kematian anak di Afghanistan meningkat 2 kali lipat, terhitung 6 bulan ke belakang. via www.mei.edu

Advertisement

Setidaknya 1.601 warga sipil di Afghanistan menjadi korban konflik dan serangan teror. Tercatat 388 orang diantaranya adalah anak-anak. Setidaknya itu adalah korban yang tercatat dari sejak Januari lalu. Jumlah korban di tahun ini terbilang yang paling tinggi sejak tahun 2009.

Coba ingat-ingat lagi masa kecilmu. Pernahkah kamu menangis hebat karena rumahmu dihujani tembakan, dan ibu ayahmu hilang tak bisa ditemukan? Tangis masa kecilmu mungkin hanya karena tidak dibelikan mainan. Bersyukurlah, kamu masih punya memori masa kecil yang tanpa rasa trauma.

2. Sementara itu kurang lebih 1,2 juta penduduk Afghanistan diketahui mengungsi akibat perang yang berkecamuk di negeri mereka

Pengungsi dari Afghanistan. via hawksnote.com

Sekitar 1,2 juta penduduk Afghan mengungsi di dalam negeri, demi mencari tempat yang lebih aman. Meski sudah jauh dari tempat tinggal mereka sebelumnya, pada kenyataannya nasib baik belum kunjung berpihak pada mereka yang mengungsi. Kondisi mereka justru jadi lebih memprihatinkan. Sepertinya nasib penduduk Afghanistan semakin terlupakan. Padahal penderitaan mereka belum juga usai.

Bersyukurlah kamu yang saat ini masih punya tempat yang layak untuk bernaung. Yang jauh dari dentuman peledak dan riuhnya suara tembakan.

3. Ketika kamu sedang bersantai menikmati makan siang, di belahan bumi sana sedang terjadi kekerasan seksual terhadap anak yang tak ada habisnya

Bacha Bazi, secara harfiahnya ‘bermain dengan laki-laki’. via www.dailymail.co.uk

Penderitaan akan perang tak cukup membelenggu negeri yang beribukotakan Kabul ini. Beberapa waktu terakhir sering terjadi pelecehan seksual terhadap anak. Yang mencengangkan adalah tradisi yang disebut dengan istilah Bacha Bazi, di mana anak laki-laki sengaja dijadikan budak seks untuk melayani orang-orang yang berpengaruh, yakni orang-orang kepolisian di sana.

Sebagai orang yang hidup tenteram tanpa ancaman, tentu kamu tak bisa membayangkan rasanya jadi mereka. Juga tak mengerti perihnya ketika dipaksa melakukan sesuatu yang nista karena pilihan lainnya adalah kehilangan nyawa.

4. Apa kabarnya penduduk Suriah? Beruntunglah kamu yang saat ini masih sehat walafiat

Mereka korban perang yang terlupakan. via www.islam-institute.com

Hingga tahun 2015, setidaknya lebih dari 200 ribu penduduk Suriah tewas akibat perang yang berkecamuk di sana. Sementara itu 20 ribu orang dinyatakan hilang selama rezim Bashar al-Assad. Suriah menambah daftar panjang sejarah perang di Timur Tengah.

Tinggal di lokasi perang, keamanan dan kesehatan tentu bukan hal yang dengan mudah mereka dapatkan. Apalagi kesejahteraan, itu adalah sebuah kemewahan yang mungkin tak berani mereka bayangkan.

5. Belum lagi mereka yang berada di Pakistan, di mana bom bunuh diri sering terjadi

Sungguh miris ketika mereka yang tak berdosa justru menjadi korban. via www.bbc.com

Pada Maret 2016 silam, bom bunuh diri mengguncang kota Lahore di Pakistan. Bom tersebut meledak di Taman Gulshan e Iqbal dan menewaskan sekitar 65 orang. Korban yang tewas mayoritasnya adalah ibu-ibu dan anak-anak. Oleh karena bom tersebut meledak di sekitar ayunan anak-anak. Kamu bisa membayangkan taman bermain yang identik dengan kebahagiaan berubah menjadi duka.

Walau anak-anak, wanita, dan orang tua sebenarnya tidak boleh diserang dalam perang, namun itu tidak menjamin mereka tidak jadi korbannya. Teror yang mencekam membuat tidak ada lokasi yang benar-benar aman untuk berlindung.

6. Bencana alam tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Seperti saat Banjir Bandang yang melanda Pakistan beberapa waktu lalu

Bencana alam tidak ada yang bisa memprediksi. via global.liputan6.com

Pada awal April lalu, banjir bandang menimpa Pakistan. Sekitar 92 orang tewas dan 900 lebih rumah warga rusak. Kamu saat ini mungkin masih tinggal di rumah sederhana, yang masih banyak kurangnya. Namun beruntunglah kamu karena bisa makan dan tidur dengan nikmatnya. Masih bisa menghirup udara bersih setiap saat tanpa terenggut bencana.

7. Masih segar dalam ingatan, berita tentang 58 ribu anak di Somalia yang nyaris mati kelaparan

Jangan gampang ngeluh karena hal yang remeh temeh. via www.dailymail.co.uk

Sekitar bulan Februari lalu, PBB menyatakan bahwa sekitar 58 ribu anak di Somalia terancam kelaparan. Sekitar 300 anak lebih yang berusia di bawah 5 tahun mengalami kekurangan gizi level akut. Beruntunglah kamu yang saat ini masih bisa memilih ingin makan siang dengan apa hari ini. Sarapan dengan menu apa hari ini atau bingung ingin ngemil apa sore hari nanti. Syukuri apa yang bisa kamu nikmati hari ini, karena di Somalia sana mereka berjuang melawan kelaparan.

8. Kamu yang sering mengeluh tugas menumpuk, baiknya melihat anak di pelosok Papua yang belum dapat akses pendidikan yang layak

Masih malas kuliah dan ngerjain tugas? Kamu sebaiknya berkaca pada mereka. via jmc.co.id

Bagi kamu, mengeluhkan tugas yang menumpuk dari dosen mungkin udah biasa. Nggak hanya itu, sekadar duduk manis mendengar kuliah dari dosen saja langsung mengeluh bosan. Jika demikian, baiknya kamu menengok pada anak-anak di pelosok Papua yang masih belum dapat akses pendidikan yang layak. Jangankan mendapat wajib belajar 12 tahun, wajib belajar 9 tahun pun belum sempat dituntaskan oleh Papua.

Bukankah keluhanmu selama ini terdengar begitu cengeng jika dibandingkan dengan penderitaan mereka? Jadi, sudahkah kamu bersyukur hari ini?

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!