Tak semua hubungan pertemanan bisa bertahan selamanya. Kontras dengan yang biasanya orang bilang, ini sebenarnya tidak apa-apa. Justru ada banyak hal buruk yang bisa terjadi ketika suatu pertemanan dipaksakan.

Teman — sahabat, bahkan — bubar karena berbagai alasan. Yang dulu bisa setiap hari bertemu, kini tak bisa mengobrol sesering dulu. Yang dulu disatukan karena hobi atau renjana tertentu, kini mendewasa dan tak lagi punya ketertarikan yang sama. Ada pula yang tak lagi berbicara setelah drama dan pertikaian terbuka.

Tak ada kata ‘putus’ yang terlontar. Kamu menyadari berakhirnya pertemanan itu setelah melihat jauh ke belakang. Sayang, memang, namun bukan berarti kamu sudah gagal — apalagi layak disalahkan. Lagipula, bukankah justru ini membuatmu semakin menghargai mereka yang masih kamu panggil sahabat hingga sekarang?

Beberapa pertemanan merenggang karena kalian beranjak dewasa. Apa iya, masa pendewasaan perlu di-undo supaya kalian tetap bersama?

Apa iya, masa pendewasaan harus di-undo? via kenisaiah.tumblr.com

Dulu, sebelum sedewasa sekarang, kamu punya satu geng yang ke mana-mana selalu berbarengan. Entah itu sekadar untuk makan siang, jalan-jalan, belajar — bahkan kalian saling berjanji untuk berusaha lulus kuliah bareng-bareng agar tidak ada yang merasa “ditinggal”. Setelah semuanya lulus kuliah, kalian menjalani hidup masing-masing. Ada yang pulang ke kampung halaman, ada yang tetap di kota tempat kalian belajar, ada pula yang merantau ke ibukota.

Advertisement

Kalian beradaptasi dengan lingkungan masing-masing dan menjadi individu yang berbeda. Saat bertemu lagi, hobi, selera humor, sampai keresahan hidup kalian tidak lagi sama. Sementara dengan beberapa orang ini bukan masalah besar, dengan sisanya kamu jadi kesulitan memelihara hubungan. Kalian pun tak lagi bisa sedekat sebelumnya, dan itu tidak apa-apa. Apa iya, kamu harus meng-undo proses pendewasaanmu dan jadi anak kecil lagi, supaya semua orang bisa tetap kamu akrabi?

Kalian mungkin tak sedekat dulu lagi, tapi toh tetap ada kenangan manis yang pernah kalian bagi

pernah ada yang kalian bagi bersama via tumblr.com

Meskipun hubungan kalian merenggang, saat masih rutin bertemu dulu, kamu dan mereka tulus menjalani kedekatan. Tidak ada dari kalian yang merasa dimanfaatkan. Baik kamu dan mereka tahu, tanpa satu sama lain tak ada kalian yang sekarang.

Pertemanan yang baik tak melulu pertemanan yang berlangsung selamanya. Kadang ia hanya bertahan sementara, namun waktu yang kalian lalui bersama tetap tak ternilai harganya.

Tapi ada juga hubungan pertemanan yang lebih layak mati — demi terjaganya kewarasan diri

Demi kewarasan diri via meetnlunch.com

Ada hubungan yang memudar karena memang orang-orang yang terlibat di dalamnya sudah tak sejalan. Tapi, ada juga yang akhirnya patah karena salah satu pihak — sadar atau tidak — meracuni yang lain. Mulai dari meminjam uang dan barang tanpa pernah berinisiatif mengembalikan, sering hilang tiba-tiba saat dia kamu butuhkan, bahkan berbohong padamu dan tentangmu. Ini adalah hubungan pertemanan yang justru lebih layak mati — demi kewarasan dirimu sendiri.

Ini justru membuatmu semakin menghargai mereka yang sampai sekarang masih di sisi. Tak ragu lagi, merekalah sahabat sejati

Hubungan pertemanan tidak selalu bertahan. Ini justru membuatmu semakin menghargai mereka yang tetap bisa kamu panggil sahabat sampai sekarang. Di antara puluhan orang yang pernah menjadi temanmu selama ini, tentu jumlah mereka bisa dihitung dengan jari. Tapi justru itu yang membuat mereka semakin bernilai. Tak peduli seberapa berubahpun kalian sejak pertama kali mengenal, selalu ada tawa dan ketulusan yang dihadirkan di tiap pertemuan. Merekalah sejatinya teman.

Tapi bukan berarti kamu tak perlu berterima kasih pada mereka yang dulu pernah mengisi hidup. Toh banyak kenangan menyenangkan yang kalian bagi sebelum akhirnya mereka meredup. Beberapa pertemanan memang punya jadwal kedaluwarsanya sendiri. Kita hanya harus duduk tenang saat menyadari itu terjadi.