“Ta, nanti sore temani aku ke toko buku yaa?”

“Hmm…nanti sore ya? Uh…gimana ya? Insya Allah deh.”

Insya Allah yang juga berarti ‘Jika Allah Berkehendak’ sering digunakan dalam pembicaraan sehari-hari. Secara umum, Insya Allah memiliki makna bahwa sekeras apapun manusia berusaha, pada akhirnya Allah yang akan menentukan hasilnya. Tapi pada kenyataannya Insya Allah juga sering digunakan untuk menolak ajakan dengan halus.

Advertisement

Insya Allah yang seharusnya 99% jadi, berubah 99% tidak jadi. Huft. Harusnya generasi kita belajar untuk menggunakan kata Tidak dengan gagah berani. Bukannnya bersembunyi di balik kata Insya Allah terus-terusan macam ini.

1. Selama kamu punya alasan yang kuat, bilang ‘Nggak’ bukanlah kesalahan. Daripada menjanjikan hal yang belum tentu bisa dilakukan?

Berkata tidak itu bukan kesalahan

Berkata tidak itu bukan kesalahan via www.geckoandfly.com

“Nggak” adalah kata yang begitu sulitnya dikatakan. Bisa karena kamu merasa tidak enak menolak, bisa juga karena kamu enggan mengatakan isi pikiranmu yang sebenarnya. Karena itu, bila situasinya berhubungan dengan janji bertemu atau melakukan sesuatu, kamu cenderung mengatakan Insya Allah agar tidak terkesan terlalu terang-terangan. Padahal mengatakan ‘nggak’ bukan dosa. Bukan suatu kesalahan yang bisa membuatmu dihukum pidana. Satu-satunya yang harus kamu hadapi saat mengatakan ‘nggak’ hanyalah dirimu sendiri. Asalkan kamu punya alasan yang tepat, mengatakan ‘nggak’ adalah sepenuh-penuhnya hak.

2. Mengganti kata ‘Nggak’ dengan ‘Insya Allah’ sama saja dengan PHP. Apa kabar kalau dia benar-benar membutuhkanmu?

Kamu tahu kan dari mana munculnya istilah PHP alias Pemberi Harapan Palsu? Dari orang-orang yang memberikan harapan bagus di awal, namun mengakhirinya dengan pedih. Seolah-olah bisa diandalkan di awal, namun memberi ending yang mengecewakan. Nah, ketika kamu tahu bahwa kamu tidak akan bisa menepati janji saat seseorang memintamu melakukan sesuatu, namun karena kamu tidak enak menolak, lantas menggantinya dengan ‘Insya Allah’, otomatis kamu jadi orang yang PHP. Padahal mungkin saja dia benar-benar mengandalkanmu. Bila kamu menolak sejak awal, tentu dia tidak akan berharap lagi dan, mungkin, mencari solusi lain.

3. Mengganti ‘Nggak’ dengan ‘Insya Allah’ juga berarti kamu lebih suka lari dari masalah dan tanggung jawab, dengan mengatas namakan keadaan

Lari dari masalah

Lari dari masalah via www.polygon.com

Advertisement

Sebagai manusia, kita semua diciptakan sama. Kamu, dia, dan mereka semua memiliki hak dan kapasitas yang sama untuk menolak sesuatu dan mengatakan tidak. Ketika kamu mengatakan ‘Ya’ atau mengatakan ‘Tidak’, kamu tahu ada sederet konsekuensi yang harus kamu hadapi. Bila kamu berjanji dengan ‘ya’, bila kamu ingkar, ada nama baik yang kamu pertaruhkan.

Dengan memanfaatkan istilah ‘Insya Allah’ kamu akan mudah mengalihkan kesalahanmu pada keadaan. Dengan begitu, ketika ditanya kenapa kamu tidak menepati janji kamu bisa beralasan: “Ya kan gue udah usaha. Kalau gagal ya bukan salah gue.”. Namun, yakin, kamu sudah berusaha sebaik-baiknya? Karena terkadang kamu menggunakan kata ‘Insya Allah’ untuk menutupi kesalahan di awal, bahwa kamu tidak akan mengusahakannya dengan serius. Padahal tentu konsep ‘Insya Allah’ tidak begitu.

4. Mengatakan ‘Insya Allah’ membuatmu jadi mengentengkan janji. Lebih baik bilang ‘nggak’ di awal daripada dikenal sebagai tukang ingkar janji

Lama-lama kamu dikenal tukang ingkar janji

Lama-lama kamu dikenal tukang ingkar janji via www.milingual.com

Karena maknanya yang sering diselewengkan untuk mengingkari janji ini, terkadang dengan mengatakan ‘Insya Allah’ membuatmu memandang enteng sebuah janji. Kamu yang sejak awal ogah-ogahan merasa di atas angin dan tidak punya keharusan untuk menepati janji karena sudah beralasan ‘jika Tuhan menghendaki’. Lama-lama, kamu terbiasa memandang enteng pada janji, dan menggunakan kata ‘Insya Allah’ untuk mengingkari janji. Namun yang harus kamu tahu, saat itu kamu sedang membangun sendiri reputasimu. Kalau memang kamu tidak bisa, katakan saja tidak bisa. Daripada berpura-pura antusias dan bersemangat di awal, hanya untuk mengecewakan.

5. Belajar bilang ‘Nggak’ adalah satu cara mengungkapkan pendapatmu. Orang juga akan lebih menghargaimu yang nggak ‘Iya-iya’ melulu

Belajar mengemukakan pendapat

Belajar mengemukakan pendapat via knowyourmeme.com

Tidak perlu takut untuk menolak ataupun mengatakan tidak. Selain mengatakan ‘nggak’ bukanlah dosa yang tidak diampuni, berani menolak dan mengatakan tidak adalah bentuk dari menghargai diri sendiri. Selalu ingat bahwa kamu punya hak untuk menolak dan menyatakan pendapat. seperti yang dijamin oleh pasal-pasal negara. Jadi selain tidak PHP, mengatakan tidak sama berarti juga kamu belajar menyampaikan isi pikiranmu. Ketika kamu sudah bisa mengungkapkan isi pikiranmu, dan memperjuangkan apa yang menurutmu pantas diperjuangkan, orang juga akan lebih menghargaimu.

6. Berhenti mengganti ‘Nggak’ dengan ‘Insya Allah’

"Insya Allah" berarti ada usaha keras untuk menepatinya

“Insya Allah” berarti ada usaha keras untuk menepatinya via lifereimagined.aarp.org

Insya Allah adalah sebuah istilah yang filosofinya sangat tinggi dan mulai. Insya Allah mengisyaratkan bahwa kehendak manusia tidak ada apa-apanya bila Tuhan sudah bertindak. Dalam Insya Allah, terkandung makna bahwa kamu akan berusaha sebaik-baiknya, sekeras-kerasnya, dan biarlah Tuhan yang menentukan endingnya. Rasanya sangat tidak benar jika kamu bersembunyi di balik kata  Insya Allah karena kamu terlalu takut untuk mengatakan tidak dan menolak. Apalagi memanfaatkan Insya Allah sebagai ‘legitimasi’ ingkar janji. Sudah ya, jangan begini lagi.

Insya Allah berarti ada usaha keras untuk menepatinya. Bila memang kamu tidak bisa, atau tidak mau berusaha keras sejak awal, lebih baik kamu langsung bilang ‘nggak’ saja. Menjaga perasaan seseorang memang penting, mengatakan ‘nggak’ dibalik kalimat Insya Allah, bukanlah hal yang bijak.

Suka artikel ini? Yuk, follow Hipwee di mig.me!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya