Berhijab tapi kok masih pakai celana jeans?

Mungkin kamu sudah sering mendengar pertanyaan demikan. Kalimat yang begitu tajam nan menohok. Bagaimana tidak? Kebaikan kami disangsikan hanya karena kami berhijab dan masih mengenakan celana jeans. Terlalu dangkal jika hanya menilai akhlak seseorang dari penampilannya saja. Yang dengan kata lain memandang remeh kami yang belum menutup aurat dengan sempurna. Padahal di saat yang bersamaan, kami tak pernah lelah berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena kami percaya bahwa hubungan dengan Tuhan cukup hati ini saja yang menyimpan.

Bukannya tak ingin taat, tapi mengenakan jeans memudahkan kami dalam menjalani aktivitas

Kami merasa lebih leluasa dalam beraktivitas. via www.pinterest.com

Kami paham betul bahwa mengenakan rok lebih menyempurnakan keimanan. Bukannya enggan mencoba, kami hanya belum nyaman saja. Sampai saat ini mengenakan celana jeans dirasa lebih membuat kami leluasa dalam beraktivitas. Baik ketika berkendara atau bahkan saat berjalan kaki dari satu ruang kuliah ke ruang kuliah berikutnya. Sementara bagi kami pekerja kantoran, mengenakan jeans di tempat kerja terbilang anugerah. Bekerja jadi lebih terasa santai dan jauh dari kekakuan.

Berhijab namun masih mengenakan jeans, tak berarti kami lalai menjalani perintah agama. Biarlah hubungan dengan Tuhan cukup hati yang simpan

Hubungan dengan Tuhan, cukup hati ini saja yang simpan. via %20hayatimagazine.com

Advertisement

Kapan nih uhti berhijrah?

Hijab di kepala, T-shirt lengan panjang, celana jeans panjang, dan sepatu kets, adalah outfit yang membuat kami nyaman. Tak sedikit yang bilang bahwa itu melanggar aturan agama. Beragam poster dan selebaran bernada dakwah kerap ditujukan pada kami yang masih belum sempurna menutup aurat. Belum seutuhnya berhijrah. Namun, tak berarti kami lalai beribadah. Lima waktu tetap kami lakoni di sela kesibukan. Sungguh simpulan yang dangkal jika menghakimi kami sebagai manusia yang membangkang Tuhannya. Hanya karena kami berhijab dan masih mengenakan jeans.

Saat ini, kami memilih untuk tak terprovokasi oleh penghakiman mereka. Soal ibadah, cukuplah Tuhan yang tahu. Karena tak ada gunanya berisik memohon pengakuan bahwa kami manusia yang taat.

Sering dianggap sebagai muslimah yang ‘belum sempurna’, kami memilih menjalani proses dengan sebaik-baiknya

Kami tak pernah lupa untuk berbenah diri. via weheartit.com

Cap sebagai manusia yang enggan taat bukan sekali dua kali ditujukan kepada kami. Sudah tak terhitung berapa kali cap itu dialamatkan kepada kami. Padahal di saat yang bersamaan, kami sesungguhnya tengah berbenah diri. Kami paham bahwa ketaatan kepada Tuhan tak hanya soal penampilan, tapi lebih kepada perbuatan. Akan menjadi sia-sia jika kami sempurna menutup aurat, namun masih susah menerima kritik dari orang lain. Ramai mencibir mereka yang belum sempurna menutup aurat, namun dengan teganya berbuat anarkis. Sungguh, kami enggan menjadi pribadi yang demikian.

Lagipula, bukankah untuk menjadi pribadi yang baik itu hak siapa saja? Tanpa memandang seberapa sempurna dia menutup auratnya?

Siapa pun kamu berhak untuk menjadi baik. via www.outfittrends.com

Sudah menjadi hak semua manusia untuk menjadi pribadi yang baik. Siapa pun kamu, bahkan seberapa kelam masa lalumu. Kamu berhak untuk menjadi baik. Karena kamu selalu punya kesempatan untuk berbenah diri. Sungguh keji jika menyangsikan kebaikan yang dilakukan oleh mereka yang belum berhijab dengan sempurna. Hanya karena mereka berhijab dan masih mengenakan jeans.

Berhijab dan masih mengenakan celana jeans memang identitas kami saat ini. Namun, pada waktunya nanti, kami akan menutup aurat dengan sempurna. Mengenakan rok panjang, hijab yang menutup dada, dan membiarkan celana jeans kami hanya tinggal riwayat saja…

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!