Menjelang pemilihan umum, entah itu pilkada maupun pilpres, tak hanya tensi politik saja yang meningkat, tapi juga gejolak di media sosial. Praktisi ataupun newbie berlomba-lomba angkat bicara soal politik sebagai bentuk kepedulian atau sekadar meramaikan suasana saja. Yang tak kalah ‘seru’ dari itu, tentu fenomena saling unfriend atau unfollow yang akhir-akhir ini mulai marak lagi menjelang pilkada serentak 2017 nanti.

Aksi balas-berbalas komentar yang tak dapat titik temu, hingga akhirnya salah satu memutuskan untuk unfollow dengan alasan ‘kita tak lagi sejalan’. Ada juga yang bermula dari ‘twitwar’ yang panas dan berakhir dengan aksi saling nge-block dengan alasan demi ketenangan. Tapi yang super kilat juga ada, begitu tahu bahwa pilihan cagubnya berbeda langsung saja unfollow dan unfriend sebagai tanda putus hubungan tanpa kata-kata. Yang selalu berseru untuk menghargai perbedaan pun ternyata masih khilaf mengaku baru saja nge-block, unfollow, dan unfriend temannya yang berbeda pandangan atas isu tertentu.

Alasannya demi menghindari perdebatan. Padahal bukankah perdebatan yang sehat justru tanda iklim demokrasi yang bagus? Apakah perdebatan harus selalu berujung konflik dan caci maki sehingga unfollow, unfriend, dan bahkan block adalah satu-satunya cara mempertahankan pendapat? Atau mungkin justru itu pertanda kita masih kurang dewasa menyikapi segala perbedaan?

1. Media sosial adalah tempat bertemu orang sedunia. Tentunya tetap harus menjaga sikap, tapi semua orang memang berhak berpendapat

Bebas nge-twit apa saja, orang lain juga bebas mengomentari via medium.com

Sebagai platform pertemuan, media sosial bukan hanya berfungsi untuk menjaga silaturahmi dengan teman yang sudah jarang ditemui. Melainkan juga sebagai tempat banyak orang bertemu dan bertukar pikiran tentang banyak hal. Ada yang curhat, ada yang ‘modusin’ gebetan, ada yang share-share informasi bermanfaat, ada yang ‘kultwit’ pendapat pribadi, dan ada juga yang silent reader saja.

Advertisement

Setiap orang bebas mengisi timeline media sosialnya dengan tema apapun, asal harus siap dengan reaksi atau komentar yang bakal menyertai. Seperti halnya anarki yang menciptakan keteraturan, meski media sosial adalah ruang terbuka namun penggunannya tetap harus tahu batasan masing-masing. Belajar membedakan antara pendapat dan yang sekadar caci maki memancing amarah. Karena mengutarakan pendapat tentu tidak sama dengan mencaci-maki pendapat yang dianggap tak tepat.

2. Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa, terutama dalam demokrasi. Pada dasarnya memang tidak ada manusia yang sama dengan yang lainnya

Perbedaan justru menjadi suatu keindahan via www.tumblr.com

Perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Karena dari sananya kita memang tercipta berbeda-beda. Itu juga-lah makna dari semboyan kita ‘Bhineka Tunggal Ika’. Bahkan dengan sahabat terdekatmu sekalipun, seringkali ada perbedaan pendapat. Dalam hubungan asmara juga belum tentu kalian berdua selalu sama dalam segala hal. Kamu dan suadaramu yang terkenal kompak, pasti pernah juga mengalami momen-momen kalian tidak sepakat. Ragam kekayaan pola pikir, budaya, dan sikap-sikap ini tidak perlu dihindari, justru harus kita banggakan. Setiap orang berhak mengutarakan pendapat yang berbeda, dan kamu juga berhak untuk menolak atau menerima.

3. Isu-isu yang diperdebatkan ini hanya sementara. Masa iya, mau mengakhiri hubungan selamanya hanya karena pendapat yang berbeda?

Nanti kalau isunya sudah reda, follow lagi ya? via storyboard.tumblr.com

Terkadang politik memang sedemikian lucunya. Hanya karena berbeda pilihan presiden atau gubernur, lantas merasa tidak lagi bisa menjadi teman. Padahal kalau dipikir-pikir, isu ini hilang dan timbul berulang-ulang kali. Tidakkah sayang mengorbankan persahabatan hanya karena kamu memilih calon nomor 1 dan dia memilih calon nomor 2? Demokrasi yang seharusnya menjadi cara damai untuk menentukan kebijakan bersama-sama, justru menjadi sumber perpecahan yang merugikan. Lantas setelah unfollow, unfriend, bahkan block dilakukan, selanjutnya apa yang didapatkan?

4. Pendapat yang berbeda seharusnya tak perlu ditakuti. Justru itu kesempatan untuk bisa menguji pendapat dan memperkaya opinimu

Berdiskusi justru akan menguatkan pemahaman diri via theyoddhas.blogspot.co.id

Bisa juga fenomena unfollow dan unfriend ini terjadi karena belum siap dengan perbedaan. Merasa ciut dengan perbedaan pendapat yang dinilai bisa mengintervensi pendapat sendiri. Dengan sendirinya pikiran jadi tertutup dan enggan mendengar persepsi yang berbeda. Padahal bertemu dengan orang-orang yang berbeda pendapat justru bisa menambah banyak pengetahuan. Diskusi yang sehat justru membuat pemikiranmu lebih kaya. Selanjutnya kamu bisa memutuskan untuk bertahan dengan pendapatmu sendiri atau merasa pendapat orang lain lebih benar. Toh, tidak ada yang memaksa. Itu semua hak, yang bisa kamu dapatkan tanpa perlu unfollow atau unfriend teman.

5. Media sosial adalah sarana paling mudah bagi kita untuk menghayati demokrasi. Belajar berpendapat dan mempertanggungjawabkannya sendiri

Sarana paling gampang untuk menghayati demokrasi via www.hongkongfp.com

Dulu orang bicara melalui mimbar dan koran. Kamu yang tidak jago nulis panjang dan bicara panjang lebar tentu tidak punya kesempatan. Tapi kini adanya media sosial memungkinkan kamu yang hanya bisa menulis 140 karakter punya kesempatan untuk ‘bersuara’ terlepas dari siapa kamu dan apa pekerjaanmu. Sudah sepatutnya media sosial bukan sekadar digunakan untuk stalking mantan atau cari-cari calon gebetan yang bisa ‘dimodusi’.

Media sosial adalah untuk belajar mengutarakan pendapat sekaligus mempertanggungjawabkan pendapat tersebut. Kamu bisa bebas berpendapat, tapi kamu tidak bisa hanya asal bicara. Media sosial adalah tempat yang bisa dengan mudah diakses semua orang untuk ‘belajar bicara’, sekaligus ‘belajar mendengar’.

6. Sebagai warga dari negara demokrasi, kita masih harus belajar banyak soal toleransi. Salah satunya adalah dengan cara menikmati perbedaan pendapat di media sosial ini

Meski berada di perahu yang berbeda, kita mengarungi lautan yang sama via www.kayakrockport.com

‘Belajar mendengar’ di media sosial artinya belajar untuk melihat persoalan dari banyak persepsi. Dengan demikian kita tidak terkurung dalam pikiran sendiri. Kalaupun nantinya persepsi itu tetap tidak bisa diterima, kamu akan belajar untuk menghargai masing-masing pendapat. Pada akhirnya kita akan belajar untuk punya sikap toleransi, yang meskipun sudah kita pelajari sejak SD di mata pelajaran PPKN tapi pada praktiknya begitu sulit dilakukan.

Hidup di negara yang begitu kaya akan keragaman memang menuntut kita punya sikap toleransi yang tinggi, bukan hanya kepada mereka yang berbeda, tapi juga kepada orang-orang yang tidak disukai. Perbedaan itu tidak perlu menjadi konflik, selama kita tahu caranya saling menghormati.

7. Unfollow atau unfriend teman yang pendapatnya berbeda sebenarnya bukan tanda keteguhan hati atau prinsip diri. Hanya menunjukkan kamu kurang dewasa menghadapi perbedaan

Block teman yang berbeda hanya membuktikan kamu kurang dewasa via www.scmp.com

Perbedaan adalah kenyataan yang tidak bisa dielakkan dalam kehidupan bersama. Namun perbedaan juga bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan. Yang menjadi masalah adalah seberapa dewasa kita menyikapi kenyataan hidup yang tidak terelakkan ini. Kita yang sulit menerima kenyataan akan sibuk memaksakan pendapat kita kepada semua orang. Dia yang berbeda berarti bukan teman, dan sebaiknya di-block saja karena tidak ada gunanya. Sementara kita yang bijak bisa menjadikan media sosial bisa menjadi sarana berdiskusi yang luas dan bebas hierarki. Di sini, perbedaan bukan lagi sesuatu yang bisa menjadi masalah, melainkan sebuah seni untuk hidup bersama.

Pada akhirnya, memilih untuk unfollow atau unfriend teman yang pendapatnya berbeda justru menunjukkan kamu kurang dewasa. Kurang siap menghadapi perbedaan yang sebenarnya sudah ada sejak awal hidup diciptakan. Namun lagi-lagi, kamu boleh setuju ataupun tidak setuju dengan isi artikel ini.

Yuk share pendapatmu di kolom komentar! 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya