Bagi sebagian orang, menolak bukanlah sesuatu yang mudah. Terbiasa bisa melakukan segala hal, sampai takut menyakiti perasaan orang lain jadi alasan utama mengapa banyak orang lebih suka bilang iya daripada tidak.
Padahal, menolak permintaan itu sebenarnya lumrah, terutama untuk hal-hal yang memang tidak perlu atau tidak ingin kamu lakukan.

Jika kamu merasa sering jadi korban perbuatanmu sendiri, karena sering mengiyakan permintaan orang yang bertentangan dengan hati kecilmu, sedikit-sedikit kamu mesti belajar menolak. Nggak perlu merasa bersalah yang berkepanjangan setelahnya kok. 6 situasi ini bisa dengan mudah kamu hadapi dengan bilang tidak, alih-alih iya lalu menyesal setelahnya.

1. Karyawan yang rajin adalah idaman semua atasan. Tapi kamu punya hak menolak beban kerja lebih kalau itu di luar kontrak dan kesepakatan

boleh lho nolak kalau alasannya rasional

boleh lho nolak kalau alasannya rasional via sheleadsafrica.org

Advertisement

“Maaf ya, Ma. Hari ini pulang telat. Dapet kerjaan lembur.”

“Lagi?”

Ketika kamu sudah masuk dunia kerja, beban kerja yang banyak kadang menuntutmu untuk menghabiskan waktu dan tenaga lebih banyak dari yang seharusnya. Jika kamu memang merasa itu membantumu untuk berkembang ke depannya, maka kamu nggak bakal keberatan untuk diberikan beban tambahan. Tapi permasalahannya, bagaimana kalau kamu merasa beban kerjaan tersebut sudah melebihi apa yang disepakati di awal, dan kamu pun tidak mendapat keuntungan tambahan?

Menolak permintaan atasan memang terasa susah. Tapi jika kamu melakukannya dengan sopan, dan yang paling penting beralasan, tidak perlu khawatir kok. Atasanmu pun pasti mengerti bahwa kamu punya batasan profesional yang harus ia hormati.

2. Kehadiranmu saat hang out dengan teman-teman tentu sangat diharapkan. Tapi ingat, ini nggak pernah jadi suatu keharusan

sering hang out bikin boros

sering hang out bikin boros via www.meetup.com

Advertisement

Semakin beranjak dewasa, semakin sedikit pula waktu-waktu berkualitas yang bisa kamu habiskan dengan teman-teman. Sesekali, kamu memang perlu meluangkan waktu untuk hang out bersama mereka untuk mempererat pertemanan. Ajakan makan-makan di luar atau bersenang-senang seharian nggak jarang jadi godaan.

Menjaga silaturrahmi dengan teman-teman dekat itu penting. Tapi jangan sampai kamu jadi merasa punya keharusan menerima semua ajakan hanya karena nggak enakan. Mungkin kamu sedang punya prioritas pekerjaan lain yang harus diselesaikan, mungkin juga keuanganmu sedang seret karena harus membayar beberapa tagihan, atau mungkin kondisi fisikmu sedang tidak memungkinkan.

Tenang, yang namanya teman pasti mengerti kok. Kamu nggak bakal dikucilkan dari lingkar pertemanan hanya karena nggak nongol sesekali. Kalaupun mereka kadang bilang kecewa, pastinya dengan nada bercanda. Jangan baper gitu lah.

3. Ketika berorganisasi, selalu ada situasi-situasi tak terduga yang mengharapkanmu untuk siap siaga. Tapi kalau kamu benar-benar nggak bisa, nggak perlu maksain juga

solidaritas organisasi nih

solidaritas organisasi nih via papasemar.com

Berorganisasi di kampus atau di perkumpulan sejenisnya akan melatihmu untuk memiliki kemampuan manajerial. Selain itu, kamu juga akan punya teman-teman dari berbagai latar belakang yang sama-sama memiliki ketertarikan serupa. Di dalam organisasi, solidaritas tentunya jadi bagian penting untuk menjaga program-program yang telah direncanakan dapat berjalan maksimal.

Terkadang, ada situasi-situasi tertentu yang membuatmu merasa ingin turun tangan mengurusinya juga. Tak peduli bahwa sebenarnya sudah ada orang lain yang in charge di situ. Rasa setiakawanmu mengalahkan kenyataan bahwa sebenarnya kamu perlu mengurusi hal lain juga. Nah, mulai sekarang coba pilah-pilah dulu. Kamu kan bukan UGD yang 24 jam harus selalu siap siaga. Alih-alih selalu melakukan semuanya karena nggak enakan kalau nolak permintaan, belajar berbagi peran dan mendelegasikan tugas agar merata itu justru yang harus kamu lakukan.

4. Punya pasangan wajar kalau maunya saling menyesuaikan kebiasaan. Tapi secinta apapun, ‘kan nggak semua permintaan dia harus kamu iyakan

kamu tega sama aku?

kamu tega sama aku? via bisikan.com

Hayo siapa yang suka ngiyain aja semua permintaan pasangannya hanya karena males ribut? Awalnya sih mungkin oke, karena toh yang diminta itu hal-hal kecil. Tapi lama kelamaan kok jadi kebiasaan ya? Hmm.. Mungkin kamu harus mulai membuat posisimu jelas, bahwa iya memang kamu cinta sama dia, tapi bukan berarti kamu bisa menuruti segala permintaannya.

Agak tricky sih memang urusan yang satu ini, tapi pasti bisa kok. Jelaskan baik-baik alasan kenapa kamu nggak bisa mengiyakan apa yang dia mau untuk saat ini. Kalau kamu tenang dan tetap menatapnya dengan penuh kasih sayang, dia pasti ngerti. Asal teguhkan hatimu aja sama tatapan mata kucingnya yang melas dan bikin luluh itu.

5. Sebagai calon pelanggan, kamu sering ditodong beli sama orang-orang yang pada jualan. Awas lho nyesel kalau gaji sampai habis cuma karena nggak enakan

pengen beli satu, tiba-tiba beli semua

pengen beli satu, tiba-tiba beli semua. 😀 via www.punchbowl.com

Diskon, voucher, promo, barang baru, sama limited edition. Wuih banyak bener ya godaannya, terlebih buat kamu yang doyan belanja. Niatnya cuma cuci mata, tapi apa daya pulang ke rumah bawa banyak tote bag isi barang-barang baru.

Selain emang suka sama barangnya, yang bikin kamu nggak pikir panjang sebelum beli juga karena sifat nggak enakanmu sama penjualnya. Panggilan nyaring sesederhana “mampir dulu, kaaaak..” pun sukses membuatmu melihat-lihat kemudian membeli barang jualannya. Kan nggak enak tuh kalau udah liat-liat lama terus nggak jadi beli.

Hmm, jangan sering-sering ya. Kuatkan tekad deh! Rencanakan pembelian dengan matang, dan kurangi belanja impulsif karena kamu nggak bisa nolak. Daripada nanti akhir bulan bingung mau makan apa karena nggak punya duit lagi, ya kan?

6. Memilih jalan hidup yang berbeda dari harapan orang sekitar pasti menimbulkan banyak pertanyaan. Nggak apa-apa, toh kamu nggak berhutang sama mereka untuk menjelaskan

nggak apa-apa jadi berbeda

nggak apa-apa jadi berbeda via quotesgram.net

“Kamu kenapa malah masuk bank? Padahal udah susah-susah kuliah di arsitektur.”

“Lho, kalian putus? Sayang lho, padahal udah jalan lima tahun.”

“Kok nggak ngikutin jejak kakaknya aja sih? Enak lho bisnis sendiri itu, nggak kerja sama orang.”

Untuk setiap keputusan hidup yang kamu buat, akan selalu ada orang yang berkomentar. Mungkin maksudnya baik, mau menunjukkan kepeduliannya sama kamu. Tapi jangan sampai komentar orang jadi pertimbangan utamamu untuk memutuskan apa yang terbaik untukmu.

Saran orang lain boleh didengar dan diterima, tapi jangan berpikir semuanya harus kamu laksanakan. Kamu yang tahu apa yang paling baik buat hidupmu. Kalau pada akhirnya kamu memilih jalan yang berbeda, yang penting kamu tahu alasannya. Mereka yang terus-terusan berkomentar itu biarkan saja. Kecuali kepada mereka yang membesarkanmu, mendanaimu, atau mendukung setiap langkahmu, kamu nggak berhutang apa-apa sama yang lainnya.

Di dalam hidup ini, kamu akan dituntut untuk selalu mengambil keputusan bagi dirimu dan orang lain. Sifat nggak enakanmu itu sekarang mungkin masih bisa ditolerir, tapi mungkin suatu saat nanti itu akan jadi bumerang buat dirimu sendiri. Belajarlah menolak tanpa merasa nggak enak. Daripada rugi waktu, pikiran, energi, juga materi. Iya kan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya