“Assalamualaikum Cantik…mau ke mana sih?”

Catcalls atau panggilan-panggilan genit yang datang ke wanita memang sering kita jumpai sehari-hari. Di tengah segala kesibukan yang bisa dilakoni, orang iseng yang tidak bisa mengurusi urusannya sendiri memang masih banyak bertebaran di luar sana. Antara takut, kesal dan tidak habis pikir saat harus menghadapi mereka.

Orang-orang semi pervert ini harus diakui punya level kreativitas tinggi. Mulai dari suit-suit, memanggil nama, memuji dandanan kita — sampai menggoda dengan mengucapkan salam. Sering dipandang sebagai catcalls level paling rendah, menggoda dengan mengucap salam sebenarnya adalah catcalls paling jahat yang pernah ada. Kenapa? Di sini Hipwee akan mencoba mengungkapkannya.

Catcalls dengan salam ke cewek berjilbab menunjukkan tingkat penghargaan yang nihil. Sudah tertutup dan santun masih digoda. Salahnya di mana?

…salahnya di mana? via hijabtrip.com

Ketika melihat gadis berjilbab yang digoda oleh laki-laki, kadang saya berpikir.

Advertisement

Kalau yang berjilbab aja digoda, kita harus pakai baju apa biar aman dari suit-suitan genit?”

Ini bukan soal digoda menggunakan apa. Menggoda menggunakan salam tidak membuat si pelaku jadi kelihatan lebih bermoral. Malah catcalls dengan salam menunjukkan tingkat penghargaan yang nihil ke wanita. Sebagai manusia kita sudah berusaha bertingkah dan berpakaian dengan sebaik-baiknya. Kalau yang begini saja masih memunculkan ruang untuk menggoda, apa iya kita mesti pakai karung goni agar kelihatan tidak menarik?

Beberapa pelaku berlindung di balik alasan, “Ini ‘kan mendoakan…” Ini adalah alibi paling menggelikan

Mendoakan what? via id.pinterest.com

Mungkin perlu ada antropolog yang melacak dari mana akar catcalls menggunakan salam mulai muncul. Kok bisa kalimat yang seharusnya merupakan sapaan penuh doa berubah jadi kalimat yang bisa digunakan untuk menggoda dengan genit? Kenapa orang bisa mulai mengamini bahwa perubahan arti macam ini diterima dalam penggunaan sehari-hari?

Sebab sekarang alibi mereka yang menggoda dengan menggunakan “Assalamualaikum, Cantik…” makin banyak saja. Mulai dari ini adalah godaan yang paling halus, sampai menjustifikasi kalau catcalls macam ini merupakan bentuk doa yang terselubung.

Menggelikan. Bagaimana bisa keinginan melecehkan dibungkus jadi keinginan untuk mendoakan?

Sayangnya, kebanyakan cewek merasa catcalls hanya ada satu bentuknya. Selama tidak disuit-suit atau di grepe-grepe berarti masih masuk level sopan

Selama tidak digrepe-grepe, Assalamualaikum masih baik via adriani-a.blogspot.co.id

Yang menyedihkan dari fenomena diterimanya catcalls macam ini adalah rendahnya tingkat kesadaran cewek soal penghargaan  pada dirinya sendiri. Digoda dengan, “Assalamualaikum Cantik….” dianggap lebih bermartabat dibanding digoda dengan, “Cie…seksi.”

Seakan-akan dengan menambahkan atribut sedikit agamis catcalls jadi lebih bisa diterima. Masih jarang cewek yang memahami bahwa catcalls ada banyak bentuknya. Mulai dari yang memanggil dengan sapaan fisik, menggoda dari jauh, sampai dipanggil dengan: “Cieee temen TK-ku yang ngegemesin.

Catcalls bukan soal pilihan katanya. Catcalls adalah soal bagaimana pria tidak menghargai kita, menggunakan kata-kata untuk membuat kita nyaman dan memikirkan apa yang salah dengan penampilan sampai cara berjalan.

Catcalls menggunakan ‘Assalamualaikum’ sebenarnya tidak jauh lebih baik dari diperkosa. Bedanya tidak ada paksaan penetrasi saja

Hanya tidak ada hymen yang rusak saja via grungehijab.tumblr.com

Pemerkosaan terjadi saat seseorang memaksakan keinginan seksualnya pada kita. Mengunci kita di bawah tubuhnya, memaksakan penetrasi pada seruang bagian tubuh kita menggunakan bagian tubuhnya. Membayangkan hal ini saja kita sudah bergidik ngeri. Betapa banyak kehendak bebas yang terenggut di sini.

Tapi jika kita lihat, lagi catcalls sebenarnya tidak jauh berbeda dari tindakan pemerkosaan yang rendah. Digoda dengan Assalamualaikum membuat kita berpikir keras soal kesopanan diri. Godaan macam ini membuat kita merevisi berbagai nilai yang sudah dianut selama ini. Pertama, kita akan berpikir jika godaan macam ini jauh lebih baik dibanding suit-suitan nakal lainnya. Kedua, akan muncul pertanyaan apakah catcalls terjadi karena kita yang kurang bisa membawa diri? Jangan-jangan jilbab kita kurang panjang, celana kita ketat dan menunjukkan lekuk tubuh, cara jalan kita….ah!

Apa bedanya dengan diperkosa jika sampai menggerus harga diri semacam ini? Bedanya tidak ada organ intim yang lecet atau hymen yang robek saja. After taste-nya sama. Bahkan lebih nyeri setelahnya.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya