Menjadi pria sejati itu bukan soal punya rumah, mobil, pakaian berkelas, maupun hal-hal materiil lainnya. Menjadi jentelmen adalah perihal sikap: bagaimana kamu bisa berlaku hingga semua orang yang berinteraksi denganmu akan menjadi manusia yang lebih baik. Menjadi jentelmen adalah tentang membuat orang lain nyaman, tanpa rasa keterpaksaan.

Jadi, kualitas seperti apa sajakah yang harus kita miliki supaya bisa menjadi seorang jentelmen yang sebenarnya?

1. Mereka Menghargai Setiap Orang

Menghargai setiap orang via miastylemama.com

Banyak orang merasa bahwa dengan menghargai orang yang menarik perhatian mereka, mereka sudah berlaku layaknya pria sejati. Tapi pria sejati akan mampu bersikap sopan pada siapapun yang melintasi jalan mereka, bahkan jika orang tersebut berpenampilan sekadarnya. Tak peduli suku, agama, atau status orang tersebut di masyarakat, seorang pria sejati akan sadar bahwa dia punya kewajiban untuk memperlakukan orang itu sehormat-hormatnya.

2. Jujur dan Terbuka

Jujur dan terbuka via beingabeautifulmess.wordpress.com

Advertisement

Terkadang, kita merasa perlu memakai topeng dan menjadi seseorang yang bukan diri kita hanya agar terlihat menarik di mata orang lain. Tapi tidak dengan para jentelmen. Mereka jujur dan terbuka. Cara mereka menjadi menarik adalah dengan setia pada jati diri mereka.

Pria sejati percaya bahwa dengan bersikap jujur dan terbuka, mereka bisa menemukan pasangan dan sahabat yang tepat — orang-orang yang akan bisa menerima mereka apa adanya.

3. Selalu Mendukung Mimpi dan Tujuan Pasangannya

Mendukung mimpi pasangan via www.justladies.in

Pria sejati adalah mereka yang hidup dengan impian dan tujuan mereka, sekaligus mampu mendukung pasangannya untuk menggapai impian mereka. Bahkan, walaupun impian itu sukar untuk dicapai. Mereka tak akan menjatuhkan mental pasangannya dengan kalimat semacam “ah, kamu coba ganti mimpimu, lah!”. Mereka tahu bahwa mereka justru harus mendorong pasangannya untuk maju.

4. Mereka Tetap Berada di Samping Pasangannya, dalam Situasi Apapun

Selalu di sampingnya saat senang dan susah via www.freshfreewallpapers.com

Hubungan manusia ada pasang surutnya. Seorang pria sejati tak akan meninggalkan pasangannya begitu saja ketika terjadi konflik dalam hubungan mereka. Mereka yang berjiwa ksatria selalu berusaha membina hubungan dengan serius, dan menganggap konflik sebagai hal yang wajar dan tak terhindarkan.

Seorang jentelmen juga tak akan melepaskan hubungan kala pasangannya berada di kondisi terpuruk. Sebaliknya, ia akan bersedia merengkuh pasangannya dan mengajaknya bangkit. “Kita akan melalui ini bersama” adalah kalimat yang akan keluar dari mulutnya.

5. Tak Keberatan Diajak Berkompromi

Bisa diajak kompromi via outnow.ch

Manusia tak bisa hidup sendiri. Dan hubungan sosial apapun pasti melibatkan kompromi. Seorang jentelmen akan menyadari bahwa berkompromi dengan pasangan adalah syarat mutlak untuk membina hubungan yang baik. Oleh sebab itu, mereka bersedia untuk mempertimbangkan pendapat dan kebutuhan pasangan, terlepas dari kebutuhan dan keinginan mereka sendiri.

Mereka bukan manusia keras kepala yang menganggap bahwa sikap tak mau mengalah adalah “ciri-ciri pria”. Sebaliknya, mereka tak ragu untuk mempertimbangkan posisi pasangannya, dan mencari jalan tengah bersama-sama.

6. Tahu Kapan Harus Mengaku Salah dan Meminta Maaf

Tahu bagaimana meminta maaf via www.internetcolocation.com

Setiap manusia mempunyai ego, yang membuat kita rentan melakukan kesalahan. Pria sejati akan berhenti keras kepala ketika waktunya tiba; ia bersedia mengesampingkan egonya dan meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya.

7. Bersedia Menahan Pintu untuk Orang Lain di Belakangnya.

Menahan pintu untuk orang lain via www.huffingtonpost.com

Suatu hari kamu berjalan beriringan dengan orang lain di depanmu melewati suatu pintu (contoh paling gampang: pintu minimarket). Orang di depanmu masuk terlebih dulu, lalu pintu itu terbanting tepat di depan wajahmu. Bagaimana perasaanmu?

Bersedia menahan pintu untuk orang lain di belakang kita adalah contoh sederhana dari sikap altruisme. Gestur simpel ini akan membuat orang lain merasa dihargai dan seorang jentelmen akan dengan senang hati melakukannya.

8. Mereka Feminis

Mereka feminis via everydayfeminism.com

Jangan alergi dulu dengan kata ‘feminis’ di sini. Feminisme pada intinya hanyalah gerakan yang mengakui bahwa wanita adalah manusia. Seorang jentelmen menghormati harkat dan martabat wanita serta menganggap mereka punya kedudukan yang setara; mereka bukan sekadar objek dan tak layak dipandang lebih rendah dari pria. Pria sejati akan menghormati setiap wanita sebagaimana ia menghormati ibunya.

9. Mereka Tak Ragu untuk Membantu Orang Lain

Membantu orang lain tanpa ragu via conservativepost.com

Mereka yang jentelmen tak akan ragu untuk meminjamkan tangan pada orang yang sedang membutuhkan, baik itu seseorang yang mereka kasihi maupun orang yang asing sama sekali. Bukan berarti mereka harus mendedikasikan seluruh waktu mereka buat membantu orang. Cukup dengan menunaikan kebaikan yang tak diminta di saat yang tak disangka-sangka, kamu akan bisa menjadi selayaknya “pria”.

10. Mereka Menomorsatukan Keluarga

Menomorsatukan keluarga via yalelawgroup.com

Keluarga bisa berarti orang tua, pasangan, saudara, bahkan teman dekat. Jentelmen selalu mengedepankan mereka semua di atas hal lainnya. Dia tak akan meninggalkan orang tuanya yang sedang sakit untuk nongkrong bareng teman-temannya. Dia tak akan asyik main game saat tahu teman dekatnya sedang membutuhkan bantuan. Pria sejati akan menomorsatukan mereka yang berada di dekatnya.

11. Lebih Banyak Bertindak Dibanding Bicara

Bertindak, tak cuma bicara. via memoryispower.wordpress.com

Ya, pria sejati bukan sekadar pandai bicara: mereka mampu mengejawantahkan ide-ide mereka ke dalam tindakan nyata. Bahkan, mereka cenderung untuk lebih banyak bertindak daripada sekadar omong. Mereka sadar bahwa bicara itu mudah. Mewujudkan omongan itu yang tak mudah.

12. Mereka Tak Mengklaim Dirinya sebagai ‘Cowok Baik’

Mereka tak akan merasa dirinya ‘cowok baik’ via www.itslavida.com

Karena pria sejati merupakan orang yang tulus, mereka tidak akan dengan sengaja memanfaatkan “kebaikan” hanya untuk menarik perhatian wanita. Bagi kaum jentelmen, kebaikan adalah bagian dari diri mereka sendiri, bukan bagian dari kepura-puraan untuk mendapatkan hati sang pujaan.

Mereka paham paradoks kebaikan: orang yang baik tak akan mengklaim bahwa dirinya baik. Makanya, seorang jentelmen tak akan pernah menganggap dirinya orang yang jatmika. Mereka rendah hati, dan tahu diri — dua kualitas yang begitu langka saat ini.

Menjadi jentelmen yang sesungguhnya itu tidak mudah. Tapi, dunia bakal menjadi tempat yang jauh lebih baik jika ada lebih banyak orang yang mengadopsi perilaku jentelmen dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, kita mulai dari diri sendiri.