Kesendirian pada awalnya terasa sangat mudah. Memikirkan diri sendiri adalah sebuah ‘hadiah’ untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan hal-hal baru. Namun seiring waktu berjalan, kesendirian menjelma menjadi sebuah ancaman terhadap ketakutan-ketakutan  di masa mendatang. Ketakutan selamanya menjalani apapun seorang diri, ketakutan pada ‘ketidakbahagiaan’, bahkan ketakutan karena tidak menjalani hidup secara normal seperti kebanyakan orang.

Ketika ditanya mengapa masih sendiri, kamu pasti menghibur dirimu dengan mengatakan bahwa ini semua memang belum waktunya. Terkadang kamu menyalahkan keadaanmu yang tidak kunjung dipertemukan dengan seseorang yang tepat. Kamu pun terjebak pada skema ‘menunggu’mu yang entah kapan akan berakhir. Pada akhirnya kamu akan menyalahkan takdir yang membuatmu menderita dalam kesendirian.

Advertisement

Tapi nggak melulu takdir yang salah dalam kondisi ini, terkadang justru hal-hal ini yang membuatmu masih juga sendiri sampai saat ini.

1. Terlalu takut menjalin hubungan. Alasannya kadang seklise trauma dengan yang sebelumnya

Alasan klise, trauma masa lalu via unsplash.com

Kegagalan hubungan di masa lalu memang bisa memicu ketakutan seseorang dalam menjalin hubungan selanjutnya. Meskipun menjalin hubungan dengan orang baru dan di lingkungan baru, hatimu terlanjur trauma untuk memiliki perasaan terhadap orang lain. Akhirnya kamu pun membentengi dirimu sendiri untuk tidak terlibat lebih jauh dengan urusan hati.

Biasanya ini terjadi tanpa kamu sadari, ini adalah reflek perasaanmu yang takut. Mulai sekarang, cobalah membuka diri. Jangan menyangkal bahwa mungkin kamu memiliki perasaan terhadap seseorang meskipun kamu punya ketakutan tidak akan berhasil, tapi mengusahakan sesuatu bukanlah hal yang salah.

2. Memilih mana yang terbaik untuk dirimu adalah sebuah kesalahan. Lebih baik kamu berusaha jadi pilihan terbaik

Menjadi pilihan terbaik via unsplash.com

Advertisement

Tidak semua hal di dunia ini berkiblat pada dirimu. Belajarlah untuk memperbaiki diri bersama dibanding memilih-milih calon yang sudah sempurna. Hidup nggak seperti memilih paket ayam di restoran cepat saji ‘kan? Mencari-cari harga terbaik dengan porsi terbanyak. Manusia juga bukan barang belanjaan, yang bisa kamu pilih, bayar, dan bawa pulang.

3. Kebanyakan pertimbangan bikin jadi bimbang. Mustahil untuk selalu terlihat sempurna di setiap sisi kehidupan

Kamu tak bisa membahagiakan semua orang via www.nessakphotography.com

Pertimbangan apakah orangtuamu menyetujuinya, apakah teman-temanmu mendukungmu, dan pertimbangan-pertimbangan lain yang tidak seharusnya terlalu jadi fokus pikiranmu adalah hal destruktifyang justru bikin kamu semakin ragu. Mustahil untuk membahagiakan dan menyenangkan semua pihak. Sekali-kali kenapa tak menikmati hidup yang hanya sekali saja ini?

4. Standar dan patokan yang terlalu tinggi. Bukannya mengajakmu rendah diri, tapi tidak ada salahnya untuk memahami diri sendiri

Coba pahami diri sendiri via unsplash.com

Membiasakan dirimu menetapkan tipe pasangan bikin kamu makin sulit mencarinya. Seringkali, mengkotak-kotakkan tipe orang memicumu mencari pasangan dengan level yang paling tinggi. Memahami sosok seperti apa yang kamu butuhkan lebih baik daripada berangan-angan akan sosok yang paling kamu inginkan.

5. Terlalu banyak memendam perasaan, saking tidak percaya dirinya. Lebih baik utarakan agar semuanya jelas

Utarakan perasaanmu via www.rd.com

Berpikiran lebih baik bertahan dalam keadaan dibandingkan mengutarakan karena takut akan penolakan adalah hal yang konyol. Jika mengutarakan, setidaknya kamu sudah mengatakan. Masih ada kemungkinan kalian akan bersama. Kalau pun harus menghadapi penolakan, setidaknya semua menjadi pasti. Kamu pun tidak lagi berlarut-larut dalam keraguan.

6. Selalu tidak puas dengan pencapaian, sehingga kamu merasa belum ada waktu memikirkan kesendirian

Waktunya memikirkan masa depan via unsplash.com

Jadi seseorang yang mandiri dan merdeka dalam finansial memang impian semua orang. Mengejar kesuksesan juga nggak pernah salah. Tapi yang salah adalah ketika kamu terlalu terlena dengan rutinitasmu saat ini dan tidak terpikir untuk menghadapi masa depan.

Kamu terlalu fokus pada pencapaian diri sendiri, sehingga lupa kalau di masa depan nanti kamu butuh pendamping. Coba selaraskan kedua hal ini. Agar kamu tak menyesal nantinya.

7. Membenci keterikatan dan komitmen. Saatnya mengubah cara pandang dalam menjalin hubungan

Saatnya mengubah cara pandang tentang hubungan yang salah via unsplash.com

Tidak semua hubungan dengan komitmen adalah hubungan yang merenggut kebebasan. Semua kembali lagi kepada dirimu dan calon pasanganmu yang menjalaninya. Nyatanya, kebanyakan orang lebih bahagia setelah menemukan belahan jiwa. Jika kamu takut akan keterikatan, mungkin definisimu mengenai ‘menjalin hubungan’ perlu diubah. Hubungan seperti apa yang sebenarnya diharapkan.

Mengeluh dan menunggu tidak akan ada artinya jika kamu pun tidak ingin mengusahakannya. Berlarut dalam kesendirian juga nggak baik lho buat kesehatan jiwamu. Jadi sekarang masa iya kamu masih mau menjadikan takdir dan keadaanmu sebagai kambing hitam asa kesendirianmu?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya