Skripsi lancar, wisuda tepat pada waktunya, pekerjaan ada, gaji lumayan, pacar punya, malam mingguan lancar, semua hal itu membuatmu merasa hidupmu sudah baik-baik saja dan sempurna. Tapi apa iya kamu sudah puas dengan apa yang kamu capai selama ini? Atau ada mimpi-mimpi yang sempat terpikirkan dan kamu tepis sebelum menyusun rencana untuk mewujudkan?

Apa kamu sudah merasa hidupmu berkembang meskipun pelan-pelan? Ataukah kamu sudah terlalu senang di zona nyaman, meski dalam hatimu kamu tahu hidupmu sedang jalan di tempat? Kamu mungkin sedang tidak baik-baik saja. Hidupmu tidak sesempurna yang kamu pikirkan. Bila hal-hal ini masih kamu lakukan, itu tandanya kamu masih harus berbenah.

1. Kondisi ini itu kamu maklumi. Kamu sibuk mencari pembenaran diri, padahal kamu tahu seharusnya kamu bisa lebih dari ini

Jauh di lubuk hatimu, kamu tahu bahwa seharusnya kamu bisa lebih baik dari ini. Kamu bisa memilih karir yang sesuai passionmu, kamu bisa saja mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari saat ini, dan kamu bisa saja memperoleh hal-hal yang saat ini tidak kamu miliki. Namun kenyataannya, kamu hanya membuang-buang kesempatan yang tak tendu datang dua kali. Sayangnya, bukannya menyesali, kamu justru sibuk membuat pembenaran diri. Ah, sudah untung dapat pekerjaan yang gajinya lumayan. Ah, sudah bagus sekarang punya pacar jadi tidak dianggap jomblo mengenaskan. Ah, sekarang belum siap, kalau dipaksa nanti malah berantakan. Semua kamu alasan kamu pakai demi menutupi situasi yang sebenarnya: bahwa kamu sendiri yang membuat hidupmu begini.

2. Punya banyak rencana tapi tak pernah bernyali mewujudkannya. Percuma. Hidupmu akan begitu terus selamanya

Banyak mimpi. Yang diwujudkan? via www.pinterest.com

Advertisement

Soal rencana, kamu adalah jagonya. Di kepalamu, jutaan ide berjubelan minta dipikirkan. Kamu selalu punya keinginan, mulai dari yang sederhana sampai yang luar biasa. Kamu ingin belajar musik, kamu ingin kursus bahasa asing, kamu ingin traveling sendirian, kamu ingin ikut CPNS, kamu ingin membangun startupmu sendiri. Namun sayangnya, semua keinginan hanyalah keinginan dan setiap rencana selalu pudar tanpa sempat kamu wujudkan. Kamu punya seribu alasan untuk menunda. Mulai dari alasan belum waktunya, sampai kamu merasa tidak sanggup mewujudkannya. Padahal mungkin sebenarnya kamu hanya terlalu malas mencari kesempatan dan terlalu takut untuk mengambil risiko atas pilihan.

3. Katanya kamu sudah mandiri. Tapi nyatanya pendapatmu berubah setiap kali mendapat komentar orang. Kamu bukannya fleksibel, tapi tak punya pendirian

tidak punya pendirian bikin jadi plinplan via www.surveycrest.com

“Aku mau makan bakso ah. Kamu makan apa?”
“Pecel.”
“Ng… pecel kayaknya enak juga. Aku pecel juga deh.”

“Kayaknya aku nggak datang acara nanti sore. Males banget. Kamu datang nggak?”
“Datang kayaknya. Soalnya lumayan bisa makan gratis.”
“Ah, iya juga. Aku juga datang deh.”

Seiring kamu bertambah dewasa, seharusnya kamu mulai bisa mengambil pilihan dan keputusan sendiri. Karena setiap pilihan selalu mengandung konsekuensi, setiap pilihan harus dipertimbangkan sebaik-baiknya. Mendengarkan opini orang lain bisa jadi salah satu pertimbangan. Namun jangan sampai pendapatmu selalu ikut apa kata teman. Seperti kapas yang selalu ikut ke mana angin membawanya. Berganti-ganti pilihan karena mengikuti kata teman bukan berarti kamu fleksibel, tapi plinplan.

4. Menyalahkan orang lain dan keadaan untuk setiap masalah yang datang. Gagah berani mengakui kesalahan justru akan membuatmu banyak belajar

Menyalahkan keadaan via www.entrepreneur.com

Kegagalan dan segala sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana memang bisa saja terjadi dan membuat kecewa. Namun kamu yang pecundang, selalu enggan mengakui kesalahan dan kegagalanmu. Daripada mengakui bahwa ada yang salah dalam rencanamu, atau ada sesuatu yang seharusnya tidak kamu lakukan, kamu lebih memilih untuk menyalahkan orang lain atas segala yang kamu alami. Bila tidak ada orang lain yang bisa disalahkan, kamu akan menyalahkan keadaan. Kebiasaanmu mencari kambing hitam ini tidak akan membawamu ke mana-mana. Karena apa yang membuatmu maju ke depan adalah belajar dari kesalahan sebelumnya. Itu artinya, terlebih dahulu kamu harus mengakui kegagalan atau kesalahanmu.

5. Kamu membiarkan orang lain mengambil semua keputusan untukmu. Kamu menghargai pendapat orang, atau memang selalu cari aman?

jangan hanya membonceng keputusan via goodsparkgarage.com

Saat kamu kecil, kamu hanya melakukan apa yang disuruhkan Ayah dan ibu padamu. Mulai dari harus tidur jam berapa, makan apa, dan sekolah di mana. Namun setelah kamu dewasa, saatnya kamu belajar membuat keputusan untuk dirimu sendiri. Membuat keputusan memang bukan hal sederhana. Mengambil sebuah keputusan, artinya kamu berani mengambil segala konsekuensi dan risiko yang berderet di belakangnya. Cari aman dengan membiarkan orang lain yang mengambilkan keputusan, artinya kamu tidak siap memperjuangkan hidupmu sendiri. Bila untuk dirimu sendiri saja tidak bisa membuat keputusan, lalu apa yang kita harapkan di masa depan? Sementara kita sama-sama tahu bahwa tidak selamanya kita punya seseorang untuk diandalkan.

6. Untuk menghindari konfrontasi, untuk segala hal kamu bilang ‘sorry’. Kamu lupa bahwa kata ‘sorry’ punya makna yang hanya pas dipakai dalam satu situasi

Bilang sorry ada waktunya via jappybe.tumblr.com

Perminaat maaf berarti kamu mengakui bahwa kamu melakukan kesalahan yang merugikan orang lain. Namun untuk beberapa orang, biasanya yang memiliki hati sensitif, minta maaf seolah sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, meski kamu tidak salah, dan bahkan kamu tidak tahu apa yang kamu mintai maaf. Kamu lupa bahwa ucapan maaf tidak bisa dipakai sembarangan, melainkan harus di situasi yang sesuai. Mengatakan sorry, artinya kamu mengakui kesalahan. Tapi mengatakan sorry atas segala hal yang tidak perlu, artinya kamu terlalu takut menghadapi konflik dan konfrontasi. Kamu juga tidak tahu bagaimana menempatkan diri dalam sebuah situasi. Kamu berpikir bahwa dengan ‘sorry’ semuanya aman terkenali, padahal terlalu banyak mengatakan sorry justru akan membuat masalah baru.

7. Kamu terus-terusan membicarakan kejelekan orang di belakang. Tidak berani ya, menyampaikan kritikmu secara langsung berhadap-hadapan?

Ngomongin di belakang via www.hercampus.com

Membicarakan kejelekan orang lain di belakang adalah salah satu tanda jelas seorang pecundang. Selain hanya membuang-buang waktu, itu juga berarti bahwa kamu enggan berhadapan langsung dengan orang yang sedang kamu jelek-jelekan. Di hadapannya, kamu memasang wajah manis bak malaikat, memberikan selamat atas setiap keberhasilan, dan menyatakan dukungan atas semua rencana yang sedang dia buat. Namun di luar itu, kamu sibuk menusukkan pisau di belakang punggungnya dengan mengobral kejelekannya ke setiap orang yang mau mendengarkan. Bila memang kamu ada masalah dengan seseorang, bukankah lebih baik kamu sampaikan secara langsung daripada terus membicarakannya di belakang? Lebih lega dan barangkali lebih berguna untuk bahan evaluasi dirinya.

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Rasa khawatir menghadapi sebuah situasi adalah hal yang sangat manusiawi. Namun tidak selamanya kamu bisa bersembunyi. Kekurangan diri sendiri memang harus kamu hadapi dengan gagah berani. Dari situ, kamu mulai mengambil langkah untuk meningkatkan kualitas hidupmu. Hidupmu memang tidak harus semegah orang-orang kaya, seheboh-heboh selebritis, ataupun sehebat para tokoh hebat dunia. Tapi setidaknya, hidup harus selalu melaju ke depan. Seperti roda yang terus berputar, meski terkadang harus berada di bawah. Diri sendiri harus senantiasa diperbaiki, sebab hidup hanya satu kali.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!