Manusia berubah ke arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Pertama kali saya bertemu dengan Dhika 7 tahun lalu kesan pertama yang tertangkap di kepala adalah bagaimana dia kelihatan stylish dan girly sekali.

Ah, paling besok anak ini akan jadi PR atau masuk jadi management trainee perusahaan. Nggak mungkin dia mau cari posisi yang nggak nyaman.

Tapi Dhika–yang lebih memilih untuk menjadi anonymous ketika membagikan kisahnya ini, ternyata memilih melakukan sesuatu yang diluar anggapan kebanyakan orang. Karena panggilan hati Dhika memilih menjadi pengajar di dareah kecil yang bahkan namanya jarang kita dengar.

Perkenalkan, Dhika. Gadis cantik yang mendapat beasiswa sekolah pendidikan

foto ilustrasi Dhika via pexels.com

Di balik wajahnya yang selalu ceria sebenarnya Dhika menghadapi masalah keuangan keluarga yang cukup pelik. Pekerjaan ayahnya sebagai pemborong mengalami kelesuan. Dampaknya Dhika dan keluarg aharus berhemat untuk mencukupi semua kebutuhan.

Dampak penghematan ini juga terasa hingga ke biaya kuliah Dhika. Ayah Dhika jujur berkata jika dia tidak punya cukup dana untuk mengirim Dhika ke kampus impiannya.

Setelah memutar otak cukup lama Dhika akhirnya memutuskan untuk mendaftar ke jurusan pendidikan yang memungkinkannya kuliah gratis, mendapat biaya hidup, dengan kewajiban untuk mengabdi setelah lulus kuliah di pedalaman. Keputusan paling rasional menurut Dhika. Karena hanya dnegan cara ini dia bisa kuliah tanpa merepotkan keluarga.

Kerja sambilan sana-sini buat Dhika sudah biasa. Berjualan kue sampai ngamen pernah dilakoninya

foto ilustrasi

Walau mendapat biaya hidup dari kampus, kebutuhan harian Dhika tidak sepenuhnya bisa tertutup. Sadar tidak bisa meminta kiriman uang dari orangtua Dhika melakukan apa saja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Kemampuannya bikin kue dimanfaatkan untuk menawarkan jasa pembuatan kue lebaran ke teman-teman. Selain itu kemampuannya nge-band juga dimaksimalkan. Dhika nge-band ke sana kemari walau dengan honor yang tidak begitu besar.

Ditempatkan di pedalaman, Dhika belajar benar arti perjuangan yang jauh dari kata manja

foto ilustrasi via www.instagram.com

Ditempatkan di pedalaman Sumatera, Dhika bercerita bagaimana dia yang terbiasa tinggal di kota harus menyesuaikan diri dengan kondisi hidup yang jauh dari kata nyaman.

“Bayangkan. Buat ke sekolah aku harus melewati jalan dari tanah liat yang sulit dilewati. Perjalanan ke sekolah udah kayak mau perang. Pakai sepatu boot, pakai pelindung lutut biar kalau jatuh nggak luka-luka.”

Gaji Dhika sebagai guru di pedalaman juga tidak seberapa. Dhika mesti pintar-pintar membagi pemasukannya untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Juga untuk mengirimkan sedikit uang ke rumah setiap bulannya.

“Pernah tuh suatu hari aku cuma makan ikan keranjang sama nasi buat 1 bulan karena uang mepet. Kalau diingat lagi sekarang selalu mikir kok dulu aku bisa ya?”

Perjuangan mengajar anak-anak daerah juga banyak sekali ceritanya. Dhika belajar banyak soal pengabdian tulus di sana

foto ilustrasi via www.instagram.com

“Jangan dibayangkan sekolah di sana itu kayak di kota besar. Anak tinggal datang dan belajar. Yang ada guru-guru kadang harus menjemput muridnya yang nggak masuk sekolah karena disuruh orangtua mereka buat membantu di ladang.

Murid-murid Dhika yang unik diakui Dhika mengajarkannya banyak hal. Dhika belajar arti mengasihi yang sesungguhnya. Murid-murid dengan kebutuhan khusus membuatnya harus memutar otak untuk mendekati mereka. Bahkan Dhika dengan sengaja membuka pintu rumah kontrakan yang ditempatinya bersama 3 rekan lainnya untuk memberi kesempatan anak-anak didiknya datang saat mereka butuh bantuan dalam mengerjakan tugas sekolah.

Selepas masa penugasan, Dhika memilih kembali belajar untuk melanjutkan impiannya

foto ilustrasi via stocksnap.io

Setelah selesai masa penugasan Dhika memilih untuk kembali ke kampung halamannya demi melanjutkan kuliah. Dari pengalamannya mengajar Dhika menyadari bahwa panggilan hatinya adalah untuk melayani. Hatinya bahagia ketika bisa melihat anak didiknya berkembang. Karena itu Dhika memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Jurusan Psikologi Pendidikan demi mendalami keilmuan yang dicintainya.

Saat ini Dhika memulai TK startup nya sendiri. Gajinya masih kecil, tapi ini membuat Dhika merasa cukup dan punya arti

foto ilustrasi via stocksnap.io

Saat masih duduk di bangku kuliah Dhika mendapat tawaran untuk bergabung di sebuah taman kanak-kanak baru yang dikelola secara startup. Di sana Dhika diberi kesempatan untuk mengembangkan kurikulum dan menjadi asisten dalam menentukan pola pengajaran.

Saat ditanya berapa pemasukannya Dhika hanya tersenyum dan berkata, “Cukup kok. Cukup buat hidup sehari-hari dan cukup buat hati. Pekerjaan ini membuatku merasa punya manfaat buat orang banyak. Mendidik anak orang, meringankan beban kedua orangtuanya, memberi masukan soal perkembangan putra-putri mereka nggak bisa dibayar pakai uang deh.”

Cerita Dhika bikin kita kembali percaya nggak sih kalau kebaikan itu tetap ada? Ditengah  arogansi dan egoisme kita sebagai manusia tetap ada orang-orang yang punya hati dan tetap berusaha menjaga standar kebaikan yang mereka miliki. Sayang nih kalau kebaikan macam ini nggak kita bagikan. Karena kebaikan itu selalu menular!

Sekarang, mumpung lagi bulan Ramadan yang penuh kebaikan yuk kita sebarkan lebih banyak kebaikan lain ke udara! Bergabung bareng simPATI di gerakan #bersimPATI bakal bikin kamu lebih semangat untuk berbuat kebaikan karena merasa banyak orang yang juga melakukan hal serupa. Kamu bisa menceritakan kebaikanmu di sosial media, tag @simPATI dan tambahkan tagar #bersimPATI atau lihat langsung cara lainnya di website #bersimPATI.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya