Dalam pergaulan, kita akan menemukan berbagai macam orang. Ada yang dari kesan pertamanya sudah tidak mengenakkan, jadi kita langsung menghindar. Ada juga yang begitu ramah pada awalnya, sehingga banyak orang yang ingin jadi temannya. Anehnya meski kesan pertama begitu membekas, tidak semua sifat-sifat awal yang terlihat ternyata benar adanya. Maka dari itu pantas saja ada pepatah yang mengatakan bahwa hal paling misterius di dunia ini adalah hati manusia.

Pentingnya untuk memahami pepatah tersebut juga tentunya berhubungan dengan bagaimana kita menilai orang-orang di sekitar kita. Mana yang kiranya bisa dijadikan teman biasa, teman curhat, sahabat dekat, sampai calon pacar. Mana juga yang cuma perlu dikenal sekadarnya atau justru dihindari. Ilmu pergaulan tersebut penting supaya kita tidak terlalu lama menghabiskan waktu dengan orang yang akhirnya hanya akan meninggalkan luka dan penyesalan. Pastinya akan banyak orang yang tampak baik pada awalnya, tapi penting untuk bisa membedakan mereka yang memang benar-benar tulus dengan yang hanya bermuka dua.

1. Kebaikan seseorang memang patut diapresiasi, tapi niat dibaliknya siapa yang tahu. Tak terang-terangan minta pengakuan tapi secara tersirat terus memancing sanjungan, kamu perlu waspada akan ketulusannya

Selalu menanti pujian via unsplash.com

Berbuat baik sebagai sebuah tindakan pastinya selalu patut mendapat pujian. Tapi tentunya tak semuanya benar-benar memiliki niatan tulus. Bukan maksud berburuk sangka, tapi realistis saja banyak orang yang berbaik hati dengan mengharap balasan. Mereka mungkin tak terang-terangan meminta balasan, tapi mengungkit terus kebaikan yang telah dilakukan seakan memancing kita untuk meresponnya dengan sanjungan.

Jika hanya sekali-dua kali atau dari orang yang tidak begitu dikenal, kita bisa saja ‘menutup mata’ dan membiarkannya. Tapi misalkan itu rekan kerja atau teman kampus yang harus kamu temui tiap hari, maka berhati-hatilah bergaul dengan mereka. Pujian singkat mungkin tak akan cukup bagi orang-orang yang cenderung memiliki niat tersirat dari tiap tindakannya.

2. Selalu rajin memberi saran, tapi mungkin bukan demi kepentingan yang mendengarkan. Hanya demi memuaskan ego pribadi untuk didengarkan

Advertisement

Selalu berlagak mendengarkan, tapi akhirnya minta didengarkan via unsplash.com

Hidup dalam tatanan sosial pastilah kita harus saling bersandar dengan satu sama lain untuk bertahan. Terutama ketika sedang kesulitan mencari jalan keluar dan butuh saran. Kepada orang-orang terdekat pastilah kita akan berpaling meminta bantuan. Tapi mungkin ada orang di sekitar kita yang tanpa dimintai pun selalu rajin membagi opininya tentang segala hal, kamu harus bijak mendengarkan luapan sarannya. Tentu saja, pasti ada saran-sarannya yang bisa kamu pertimbangkan.

Tapi waspadalah jika kamu berniat mendengarkan semua sarannya, bisa jadi tak akan ada habisnya. Kenapa? Karena orang-orang seperti itu lebih sering berkomentar bukan atas dasar mendengarkan keluh kesah orang lain, tapi gara-gara mendengarkan ego-nya sendiri. Meski sekilas tampak jadi pendengar, sebenarnya orang seperti ini justru ingin selalu didengarkan dan jadi pusat perhatian. Bukannya menemukan jalan keluar atas masalahmu, bisa jadi justru makin tersesat karena mengikuti ego-nya yang tak ada habisnya.

3. Sering berlagak ‘meluruskan’ gosip yang sedang hangat diperbincangkan. Tapi sebenarnya justru memparah keadaan dengan menyelipkan gosip baru  

Lagaknya mau meluruskan, tapi justru jadi biang gosip via unsplash.com

Mau diakui atau tidak, bergosip tampaknya sudah jadi bagian yang tak terlepaskan dari keseharian kita. Lihat saja porsi acara gosip di jajaran program-program tv nasional atau followers akun gosip di media sosial yang jumlahnya tembus angka jutaan! Jika ada diantara temanmu yang memang bangga jadi biang gosip, pastinya kamu tahu bahwa itulah adalah peringatan jelas untuk tidak berbagi rahasia yang tak ingin tersebar. Yang justru bahaya adalah mereka yang sok tak ingin bergosip dan seringkali mengajukan fakta untuk ‘meluruskan’ gosip tersebut. Tapi anehnya justru karena ‘diluruskan’ tersebut, gosipnya justru makin panjang.

4. Baik menjanjikan banyak hal tapi nyatanya hanya sekadar obrolan basa-basi. Omongannya selalu tinggi dan penuh ‘bunga-bunga’, tapi realisasinya nol besar

Janjinya setinggi langit, jarang ada yang bisa mendarat ke bumi via unsplash.com

Saat pertama kali kenal, pasti banyak yang terkesan dengan orang-orang yang menawarkan atau berani menjanjikan berbagai hal-hal yang terdengar begitu luar biasa. Tapi lama kelamaan, kamu mulai menyadari kalau orang-orang seperti ini tak pernah menganggap serius janji-janji sebagai komitmen dan tanggung jawab yang harus dipenuhi.

Dari kebiasaan sederhana tapi menjengkelkan seperti membatalkan janji ketemuan di saat-saat terakhir, atau janji nebengin pulang sampai traktiran ulang tahun yang nyatanya sulit terwujud. Meski populer pada awalnya, orang-orang yang menganggap janji hanya sekadar basa-basi itu nantinya hanya akan dijauhi. Kalau kamu tak ingin harus terus dikecewakan oleh kebiasaanya menganggap enteng sebuah janji, ya tak perlu lah menanggapi janji-janjinya dengan serius.

5. Meski sering memuji, tapi kata-kata sanjungannya sepertinya tak keluar dari hati yang tulus. Terlihat dari bagaimana pujianya selalu diikuti oleh komentar bernada iri dan dengki

Jadi malas mendengar pujiannya via unsplash.com

Disamping murah opini dan janji, orang-orang yang bermuka dua juga biasanya murah pujian terhadap orang lain. Dari memuji baju atau potongan rambut barumu, sampai mungkin hal-hal remeh yang sebenarnya menurutmu tak perlu pujian. Tapi dibandingkan dengan pujian tulus dari teman yang benar-benar menghargai perubahan penampilanmu, orang-orang ini memuji layaknya sales yang ingin menjual produk. Entah diakhiri dengan pujian untuk diri sendiri atau justru kata-kata yang awalnya terdengar seperti pujian akhirnya hanya kritik merendahkan. Sama seperti saran dan janji-janji kosongnya, sebaiknya sanjungan dari orang-orang bermuka dua ini terlalu serius.

6. Tentunya mereka yang bermuka dua selalu gagal konsisten baik dalam perkataan maupun perbuatan. Pastinya orang-orang seperti itu akan seringkali tertangkap bohong atau plin-plan

Tak perlu berteman dengan semua orang kalau palsu, pertahankan saja yang asli dan tulus via unsplash.com

Orang tulus selalu berpegang teguh pada omongannya karena sepenuh hati ingin berusaha memenuhi janji dan bertanggung jawab atas perkataannya. Yang bermuka dua tampaknya tak pernah berpikir dua kali untuk mengingkari perkataannya. Entah karena alasan lupa, tak serius, atau memang tak cukup menghargaimu sebagai manusia, mereka yang bermuka dua selalu penuh alasan menjelaskan perilakunya yang selalu tak konsisten. Dalam pergaulan, kamu pasti akan banyak menemukan orang-orang seperti ini. Atau justru setelah membaca penjabaran di atas, kamu sendiri juga merasa punya sedikit kecenderungan bermuka dua, berhati-hatilah!

Peraturan paling penting dalam pergaulan adalah dengan menjadi dirimu setulus-tulusnya. Mungkin dengan jadi dirimu sendiri, kamu tak bisa menyenangkan semua orang. Daripada berusaha menjadi teman semua orang tapi malah kamu yang berakhir palsu dan bermuka dua, mending jadi teman terbaik untuk orang-orang yang memang bisa menghargaimu apa adanya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya