Menjadi salah satu Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) adalah kebanggaan tersendiri. Selain perannya yang begitu penting dalam Upacara Kemerdekaan, yang merupakan salah satu penentu sukses tidaknya, ada seleksi panjang yang dijalani siswa SMA dan SMK untuk menjadi salah satu anggota. Pun latihan yang panjang dilakukan untuk bisa menjalankan tugas dengan sempurna.

Upacara kemerdekaan 2019 sudah selesai dijalankan dengan lancar. Namun, ada banyak kisah haru yang terjadi di baliknya, lo. Menjalankan tugas yang sudah diamanatkan ternyata tidak segampang yang kita lihat. Berikut, beberapa kisah inspiratif Paskibraka yang seru kita simak.

1. Luka dan perih tak dihiraukan. Kaki tertusuk paku, Dina Nursadilah tetap bawa bendera

tertusuk paku saat membawa baki via www.instagram.com

Advertisement

Upacara Kemerdekaan di Morowali Utara sedikit berdarah. Pasalnya, Dina Nursadilah sang pembawa baki tertusuk paku saat menjalankan tugas. Awalnya, Dina mengira itu hanya kerikil, tetapi, perihnya semakin menjadi-jadi. Dina berusaha menahan dan tetap melaksanakan tugasnya sebagai pembawa baki dengan sempurna, meski menahan perih saat berjalan dari barisan hingga tribun Bupati.

Setelah tugasnya selesai, Dina langsung ambruk dengan kaki berdarah-darah. Ternyata ada paku sepanjang 7cm yang menusuk sepatunya dan tembus hingga ke kaki. Wah, kebayang nggak sih gimana Dina menahan sakit selama melaksanakan tugas demi pengibaran bendera pusaka yang sempurna? Terima kasih, Dina!

2. Kondisi lapangan yang penuh lumpur, membuat seragam paskibraka tak lagi putih bersih. Tapi tugas tetap jalan~

seragam penuh lumpur via www.tribunnews.com

Tak hanya diwarnai luka sang pembawa baki, upacara kemerdekaan di Kabupaten Morowali Utara juga penuh dengan keunikan. Pasalnya, tanah lapang yang digunakan dalam kondisi becek dan penuh lumpur. Seperti foto yang dibagikan oleh akun @makassar_iinfo, terlihat seragam Paskibra yang kita tahu putih bersih, jadi cokelat karena terciprat lumpur sana-sini. Hal ini justru bikin banjir pujian dari warganet. Iya dong, kita harus ikut bangga dengan perjuangan dan pengorbanan mereka dalam mengibarkan bendera pusaka.

3. Pinjam sepatu tetangga untuk bisa ikut seleksi. Perjuangan Asraf terbayar dengan menjadi paskibraka nasional

pinjam sepatu demi seleksi

Advertisement

Menjadi yatim sejak lahir, membuat Muhammad Asraf hidup dengan kondisi finansial yang serba kekurangan. Sang Ibu bekerja serabutan dengan pendapatan 75 ribu setiap harinya, itu juga tidak pasti. Akan tetapi, semangat Asraf untuk menjadi Paskibraka tidak surut.

Demi mengikuti seleksi, siswa dari SMAN 1 Kampar Kiri Tengah itu meminjam sepatu tetangganya yang sudah robek. Sebab sang Ibu tak mampu membelikan sepatu baru yang memenuhi syarat. Selama menjalani latihan sebagai Paskribra baik di sekolah, seringkali Asraf juga tidak dibekali uang. Namun, perjuangan Asraf tidak sia-sia, karena dia berhasil lolos hingga menjadi Paskibraka tingkat nasional.

4. Berusaha memanjat tiang bendera karena tali tersangkut, Herodes Maukesa justru terjatuh dan pingsan

jatuh saat memanjat tiang

Insiden bendera tersangkut yang tahun lalu viral, kembali terjadi di tahun 2019 ini di Upacara Penurunan Bendera di Desa Alemba, Kecamatan Lembut, Kabupaten Alor, NTT. Tali untuk menurunkan bendera tersangkut, dan salah seorang pengibar bendera yaitu Herodes Maukesa berinisiatif memanjat tiang bendera untuk membetulkannya. Malang, tiang bendera itu terlalu kecil dan tidak bisa menahan tubuh Herodes. Akhirnya, tiang bendera patah, dan Herodes Maukesa terjatuh serta sempat pingsan. Akan tetapi, upcara tetap berjalan dan tiang yang patah sudah kembali ditegakkan.

5. Tak dapat seragam, paskibraka di Kecamatan Amalatu mengibarkan bendera sambil berurai air mata

mengibarkan bendera sambil menangis via regional.kompas.com

Upacara Bendera di Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku diwarnai dengan isak tangis dari para pengibar bendera. Pasalnya, alih-alih memakai seragam putih-putih seperti paskibraka lainnya, mereka hanya mengenakan seragam sekolah. Hal ini dikarenakan pihak kecamatan tidak menyediakan seragam akibat keterbatasan dana.

Awalnya, panitia upacara menjanjikan seragam untuk paskibraka. Akan tetapi, hingga tanggal 16 Agustus, seragam itu tak kunjung ada. Karena sudah mepet, mereka berinisatif memakai seragam sekolah saja. Rasa kecewa serta malu dengan kecamatan lainnya, membuat pengibar bendera menjalankan tugasnya sambil berurai air mata. Tak hanya mereka, hadirin dan undangan pun ikut bersedih. Namun, tugas tetaplah tugas. Meski sedih dan kecewa, paskibraka berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.

6. Kisah-kisah perjuangan paskibraka harus menjadi simbolis penyemangat untuk mengalahkan segala tantangan yang mengadang

momen haru paskibraka via tirto.id

Beberapa kisah inspiratir para pengibar bendera itu bisa menjadi pengingat untuk kita semua. Bahwa setiap keinginan dan cita-cita selalu saja akan menemui halangan dan rintangan. Tinggal seberapa keras kita berusaha mengalahkannya. Sebab dengan tekad yang kuat dan semangat yang menggelora, setiap orang bisa menemukan jalan untuk mewujudkan impiannya. Pun, kondisi yang kurang sempurna tak perlu menyurutkan semangat untuk memberikan yang terbaik untuk negara.

Melihat proses pengibaran dan penurunan bendera di televisi selalu menimbulkan decak kagum. Barisan yang rapat dan rapi, wajah yang semringah penuh dedikasi, serta perjalanan bendera yang selaras, menjadi sebuah simfoni yang indah. Namun, semua itu tentu tidak terjadi begitu saja. Ada usaha dan perjuangan di baliknya, dari masing-masing yang terlibat. Perjuangan dan pengorbanan para pengibar bendera ini wajib kita tiru dan teladani.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya