Satu Kiat Bangkit dan Sukses Ala Angkie Yudhistia, Penyandang Disabilitas yang Jadi Staf Khusus Presiden

Angkie Yudhistia

Setelah jajaran menteri, Presiden Jokowi baru saja mengumumkan 13 staf khusus presiden. Staf ini merupakan lembaga non-struktural yang fungsinya membantu kelancaran tugas Presiden Republik Indonesia. Staf ini dibagi menjadi berbagai bidang seperti asisten pribadi, bidang komunikasi, politik, sosial dan sebagainya. Yang unik dari periode ini, Presiden Jokowi menunjuk 7 anak milenial sebagai staf khusus kepresidenan lho. Satu orang yang cukup menyita perhatian adalah Angkie Yudhistia, yang menjabat sebagai jubir bidang sosial.

Angkie Yudhistia ini spesial bukan hanya karena prestasinya di bidang sociopreneur, tetapi juga karena ia adalah seorang penyandang disabilitas, yaitu tuna rungu. Perempuan 32 tahun ini membuktikan bahwa keterbatasannya bukan penghalang untuk berprestasi dan memegang tugas-tugas yang penting. Ingin tahu satu hal yang akhirnya membuat ibu dua anak ini meraih kesuksesan? Simak selengkapnya kisah Angkie Yudhistia di sini.

Sebelum menjadi staf presiden, Angkie adalah founder dari Thisable Enterprise. Namanya sudah cukup didengar di dunia sociopreneur

Menerima penghargaan di Taipei via www.instagram.com

Advertisement

Penunjukan Angkie oleh Presiden Jokowi juga bukan tanpa alasan lho. Sebelumnya, sosok Angkie Yudhistia sudah bergelimang prestasi. Ia adalah founder dan CEO dari Thisable Enterprise, yaitu asosiasi SDM untuk penyandang disabilitas. Angkie juga pernah bekerja sama dengan Gojek untuk memberi peluang kerja bagi penyandang disabilitas melalui layanan Go-Glam dan Go-Auto.

Tahun 2008, Angkie mengikuti kompetisi Abang-None Jakarta dan mendapat predikat “The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008”. Lalu pada bulan Oktober kemarin, Angkie kembali mendapat penghargaan sebagai Asia Women Marketer of the Year 2019, di Taipei, Taiwan. Tak hanya itu, Angkie juga mendapat penghargaan Ikon Prestasi Pancasila 2019. Untuk berbagi inspirasi, Angkie juga menulis beberapa buku. Di antaranya adalah “Perempuan Tuna Rungu, Menembus Batas” dan “Setinggi Langit”.

Namun, kisah hidup Angkie tak semudah itu. Tuna rungu yang disandangnya sejak usia 10 tahun sempat membuatnya down dan tertekan

Dulu Angkie juga sempat down via www.instagram.com

Di usia 10 tahun, Angkie mengalami gangguan pendengaran. Hal itu diduga karena efek samping dari antibiotik yang ia minum saat mengidap malaria. Awalnya, suara-suara itu tidak terdengar sehingga ketika dipanggil Angkie tidak menoleh atau merespons. Meski sudah berusaha diobati, pendengaran Angkie kemudian lenyap sama sekali. Momen ini jelas bukan momen yang mudah bagi Angkie. Di usia remaja, ia harus membiasakan diri dengan alat bantu dengar di telinga. Hal ini membuat Angkie sering tertekan, berkecil hati, dan tidak percaya diri.

Butuh waktu hingga 10 tahun baginya untuk bisa menerima kondisinya. Kuncinya hanya satu: “Jujur pada diri sendiri” 

menjadi staf khusus presiden via www.instagram.com

Advertisement

“Dosenku bilang, kamu jujur sama diri kamu sendiri. Kalau kamu sudah jujur sama diri sendiri dan jujur sama orang lain, orang lain akan mengapresiasi kejujuran kita. Jadi benar, ketika aku jujur, mereka jadi sangat bantu,” tutur Angkie, seperti yang dilansir dari Kompas.com (21/11/2019)

Kita mungkin bisa menerima kekurangan orang lain dengan mudah, tetapi tidak dengan diri sendiri. Akui saja, kita sulit untuk menerima dengan ikhlas apa yang tidak kita miliki atau tidak bisa dilakukan. Angkie pun harus menempuh perjalanan panjang untuk bisa menerima kekurangannya. Sepuluh tahun setelah pendengarannya direngut, Angkie diingatkan bahwa ia tidak akan bisa menikmati hidupnya jika tidak menerima kekurangan tersebut.

Berawal dari obrolan dengan seorang dosen, Angkie belajar untuk jujur kepada diri sendiri, dengan cara menerima kondisi fisiknya. Selain jujur dengan diri sendiri, Angkie juga berusaha untuk jujur kepada orang lain. Nyatanya, kejujuran itu justru bisa membuka banyak peluang untuknya. Terbukti, kekurangan tidak harus menghalangi segalanya.

Keterbatasan membuat Angkie bersikeras menggali lebih dalam skill dan potensinya yang lain. Satu kekurangan tak mesti menutup semua kelebihan lainnya

Angkie bersama keluarga via www.instagram.com

Secara perlahan, Angkie mulai bangkit dan mengatasi rasa kurang percaya dirinya. Keterbatasannya tidak lagi dipandang sebagai halangan atau paksaan untuk mengubur mimpi, melainkan sebagai pecutan untuk menggali dan mengembangkan skill serta potensi lain dalam dirinya. Ia tahu bahwa dalam dunia kerja kita belum terlalu ramah bagi kaum difabel. Namun ia tidak menyerah di sini. Angkie pun tidak ingin berjuang sendiri, karenanya ia membangun Thisable Enterprise, supaya ia bisa membantu kaum difabel lainnya untuk bisa memperoleh kesempatan untuk berkarya.

“Aku percaya, tuli itu juga SDM milik negara, aset negara, jadi kita juga memiliki hak,” ujar Angkie seperti yang dikutip dari Kompas.com (22/11/2019)

Angkie menyadarkan kita bahwa hidup tak berhenti ketika satu hal membuat kita tak sempurna. Sebab, sempurna itu bukan perkara fisik semata

Angkie bersama teman-teman difabel via www.instagram.com

Memiliki keterbatasan fisik mudah membuat seseorang untuk merasa kecil hati. Kekurangan ini, sayangnya, sering dijadikan alasan untuk mengabaikan potensi-potensi yang lainnya. Padahal, apa yang bisa diperbuat seseorang tidak ditentukan dengan fisiknya. Seperti Angkie yang menjadikan keterbatasannya sebagai “pecut” untuk menggali dan mengembangkan potensinya yang lain, kita juga sama. Karena meski kekurangan itu membatasi, kita masih bisa menempuh jalan lain dan menutupinya dengan kelebihan yang lain.

Bersama Angkie, ada 6 milenial lainnya yang juga ditunjuk Presiden sebagai staf khusus. Keenam orang tersebut adalah Adamas Belva Syah Devara, Putri Indahsari Tanjung, Ayu Kartika, Aminuddin Ma’ruf, Andi Taufan, dan Billy Mambrasar. Kesemuanya adalah anak muda yang aktif dan berprestasi di bidangnya. Wah, sepertinya ini era anak milenial mulai unjuk gigi di pemerintahan, ya. Semoga bisa membawa warna baru untuk kebijakan-kebijakan Indonesia. Selamat bertugas, Angkie dan yang lainnya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta harapan palsu, yang berharap bisa ketemu kamu.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE