Persahabatan memang hal yang magis. Saat sudah ada rasa klik di antara dua manusia, entah bagaimana latar belakangnya kita bisa dekat dan jadi saling terbuka. Bukan cuma jadi pengisi hati saja. Konon persahabatan juga bisa membawa kita pada hal-hal terbaik di dunia. Masukan dan dukungan dari orang terdekat mendekatkan kita pada hal yang ingin kita wujudkan sebagai manusia.

Nggak terkecuali bagi kedua pria paruh baya ini. Hatimu akan hangat setelah tahu apa yang bikin mereka sahabatan? Yup, kekurangan lah yang membuat mereka jadi saling membutuhkan.

Jia Wenqi dan Jia Haixia, 2 orang difabel yang saling melengkapi

Jia Wenqi dan Jia Haixia, merupakan dua sahabat yang saling melengkapi satu sama lain. Wenqi berusia 54 tahun yang tak mempunyai tangan dan Haxia yang berusia 55 tahun dan juga seorang seorang tuna netra sudah berteman sejak kecil. Mereka tinggal di desa Yeli, Provinsi Hebei, China. Wenqi sudah kehilangan kedua tangannya sejak umur tiga tahun karena tidak sengaja menyentuh tali listrik. Tangannya pun terpaksa diamputasi. Sedangkan Haixia mengalami kebutaan karena kecelakaan tambang di tahun 2000.

Kekurangan yang ada tak lantas menjadi penghalang bagi mereka untuk berkontribusi terhadap masa depan

Menanam pohon bersama via blog.institutobrookfield.org.br

Advertisement

Tahun 2002, Wenqi dan Haixia memutuskan untuk melakukan hal yang akan mengubah kehidupan di desanya. Ya, dua difabel ini mulai menggarap sebuah padang tandus untuk ditanami pohon. Setiap hari, Wenqi menggendong Haixia menyeberangi sungai ke padang tersebut untuk sama-sama menanam pohon dan menyiraminya.

Sampai sekarang. Bagi Wenqi, Haixia adalah tangannya. Begitu pun Haixia. Baginya Wenqi adalah matanya.

Padang tandus yang saat ini sudah menjadi hutan hijau, adalah bukti nyata kontribusi mereka untuk dunia

Hasil kerja keras mereka 14 tahun via uploads.neatorama.com

Lebih satu dekade, tepatnya 14 tahun, hasil jerih payah mereka membersihkan, menanam, dan menyiram pun akhirnya membuahkan hasil. Barisan pohon-pohon yang sudah cukup tinggi ini seakan menjadi penjaga desanya. Padang tandus yang mereka garap dulu, berubah menjadi hutan yang hijau sekarang. Lebih dari 10 ribu batang pohon sudah berhasil mereka tumbuhkan di sini.

Bagi mereka uang bukanlah lambang kekayaan, tapi apa yang telah diperbuat untuk kehidupan

Meski sadar kalau apa yang dilakukan tidak akan serta-merta membuat mereka mapan dan kaya, Wengqi dan Haixa tetap melanjutkan pekerjaan sederhana (namun bermakna) mereka. Dengan sedikit upah dari pemerintah setempat atas jasa mereka, Wengqi dan Haixa merasa sudah cukup bersyukur sebab pemasukannya mampu menghidupi keluarga mereka masing-masing. Mereka juga bisa menjual ranting-ranting pohon yang sudah mati untuk menambah pendapatan mereka. Kaya bukan melulu soal harta, bukan?

Dan mereka tak akan berhenti melakukan penghijauan sampai maut memisahkan

Sampai maut memisahkan via i1.mirror.co.uk

Memasuki usia yang mulai senja, tidak menyurutkan tekad Wenqi dan Haixia untuk tetap melakukan misinya. Bahkan mereka berharap tetap bisa melakukan ini sampai dekade-dekade berikutnya. Selagi mereka tetap berdua, tak ada yang akan bisa menyurutkan niat mereka untuk berkontribusi bagi dunia. Bahkan hingga akhir hayat mereka. Semoga Tuhan tetap memberikan kesehatan dan umur yang panjang 🙂

Kekurangan bukan jadi halangan untuk tetap berkontribusi terhadap dunia, kamu yang diberi tubuh yang sempurna udah ngapain aja?