Bila diibaratkan Beauty and the Beast, selama ini kerja dan cinta sudah menempati posisinya masing-masing. Kerja adalah the beast, kehidupan yang sangat berat, pentung deadline, sumber segala stres, dan hal-hal menyebalkan lainnya. Sementara cinta adalah si cantik, sisi kehidupan yang begitu indah, penuh keceriaan, tidak membebani, obat penawar dari segala sakit, dan segala hal yang menyenangkan. Cinta adalah pemeran utama dalam setiap film dan lagu-lagu di dunia. Sementara kerja hanyalah figuran yang tak terlalu diperhitungkan.

Namun bila kita perbandingkan dengan hati yang lebih lapang, kehidupan pekerjaan justru jauh lebih mudah daripada kehidupan percintaan. Menemukannya dan menjalani pekerjaan jauh lebih mudah daripada menemukan dan menjalani cinta. Ini dia alasannya!

1. Dalam pekerjaan, kamu tidak dituntut untuk menggunakan perasaan. Profesionalitas adalah harga mati. Sementara dalam cinta, tak ada standar yang pasti

Di kantor segalanya profesional via www.avclub.com

Menurut Alain De Borton, seorang penulis dari Inggris, kerangka profesionalitas dalam pekerjaan memungkinkanmu untuk tidak menjadi diri sendiri dan itu bukan masalah yang besar. Kamu hanya perlu mengikuti sistem yang bekerja tak perlu memikirkan bagaimana perasaan si ini ataupun si itu. Karena kerangka profesionalitas itu, kamu sudah tahu bagaimana menghadapi situasi ini dan itu.

Dalam cinta, segalanya menjadi tidak pasti. Semuanya harus muncul dari dalam hati. Sementara apa-apa yang melibatkan hati memang rumit. Bila dalam bekerja kamu bisa menjadi orang lain, dalam cinta, bukankah kamu ingin dicintai sebagai dirimu sendiri? Namun kejujuran dan kebenaran ini terkadang begitu sulit untuk dijalani.

2. Dalam dunia kerja, kamu akan mendapatkan training dan pembelajaran. Dalam cinta, kamu tak bisa mencari referensi di manapun juga

Advertisement

Kamu mendapat training pekerjaan via mytourismjob.tumblr.com

Bila kamu seorang freshgraduate, kamu bahkan tidak dituntut untuk tahu segalanya tentang pekerjaan yang kamu lakukan. Posisi sebagai management trainee bahkan akan memberimu training selama beberapa waktu untuk membuatmu paham segala hal tentang seluk beluk pekerjaan. Bila kamu tidak paham, kamu bisa dengan mudah bertanya pada atasan.

Sementara dalam cinta, kamu tidak bisa mencari referensi. Kamu bisa membaca berbagai kisah cinta dari buku-buku klasik sampai modern. Kamu juga bisa mencoba memahami cinta dari banyak lagu romansa. Kamu juga bisa melihat cinta dari adegan-adegan manis dalam film romantis. Namun bila sudah masuk ke dunia nyata, situasi yang kamu hadapi akan sangat berbeda. Kamu tidak bisa menjadikan orang lain sebagai standar, sebab dalam cinta, kamu dituntut untuk otentik, dan menjadi dirimu sendiri.

3. Kamu bisa memikat bos dengan berbagai catatan prestasi. Namun cinta tak hanya membutuhkan list pencapaian diri, tapi juga kesiapan hati dan skill yang tak bisa kamu pelajari

Cinta memilih dengan hati via hgabmagazine.tumblr.com

Ketika kamu mencari kerja, kamu bisa memoles -dengan berbagai prestasi yang kamu peroleh selama ini. Keahlian dan pengalaman yang signifikan juga akan membuatmu mudah dipertimbangkan. Daftar pencapaian diri bisa menjadi poin plus yang kamu andalkan. Bila kamu sudah mengungguli semua orang, tak ada yang perlu kamu khawatirkan.

Sementara cinta tidak menuntut prestasi. Cinta bahkan tidak menuntut prestasi. Karena hati tidak memilih berdasarkan daftar keberhasilan ataupun pengalaman yang dimiliki. Dia yang mentereng di CV, tidak bisa dijadikan patokan untuk mentereng di hati. Cinta memerlukan skill-skill yang tidak pernah kamu pelajari di ruang akademi. Karena cinta memilih dengan hati, dan tidak ada kriteria yang pasti soal ini.

4. Mendapatkan feedback dari atasan akan membuatmu senang dan bersemangat. Sementara feedback dari pasangan bisa membuatmu down dan merasa tak diinginkan

Feedback menjadi sensitif dalam cinta via www.goodhousekeeping.com

Dalam pekerjaan, evaluasi adalah hal yang biasa. Tiba-tiba dipanggil oleh atasan, kemudian ditanya ini itu tentang hasil kerja yang kurang memuaskan bisa terjadi setiap harinya. Namun setiap feedback yang kamu dapat dari atasan selalu ditanggapi dengan senang hati. Meskipun sambil menggerutu, kamu tidak pernah menganggapnya sebagai serangan pribadi. Toh, kritik dan saran yang kamu terima berhubungan dengan pekerjaan yang wajib kamu selesaikan dengan sebaik-baiknya.

Namun dalam hubungan, feedback tidak bisa sekasual dalam pekerjaan. Karena itulah, pacaran dengan teman sekantor apalagi satu divisi tidak disarankan. Sebab bila sudah menggunakan hati, feedback bisa menjadi bumerang. Meskipun tidak ada yang salah dengan memberi masukan kepada pasangan, dan sebenar apapun itu, namun ada kalanya feedback itu sulit diterima. Namanya juga manusia. Dikritik oleh pasangan bisa menimbulkan rasa tidak diinginkan, meskipun itu untuk kebaikan berdua.

5. Kerja bisa dipaksa, karena tagihan-tagihan itu harus dibayar. Tapi memaksakan cinta hanya akan membuat dua orang saling melukai satu sama lain

Harus kerja untuk membayar tagihan via csdnews.com

Saat bekerja, kamu punya satu motif yang tidak bisa diganggu gugat. Kamu butuh uang untuk membiayai hidup sehari-hari. Dengan cara apapun juga, tagihan-tagihan dalam hidup harus kamu penuhi. Karena itu, setidak suka apapun kamu dengan pekerjaanmu, semenyebalkan apapun atasanmu, kamu punya alasan untuk tetap bekerja keras setiap harinya. Karena uang tidak datang dengan sendirinya.

Sementara cinta itu begitu rumitnya. Ada kalanya begitu banyak alasan untuk bersama, namun ada kalanya juga tidak ada alasan untuk tetap tinggal dan melanjutkan. Bila cinta itu sudah menghilang, komitmen telah pudar, semuanya menjadi begitu menyiksa. Perpisahan adalah jalan satu-satunya. Karena memaksa bertahan hanya akan membuat saling menyakiti satu sama lain. Memaksa untuk menjalani hubungan dengan orang yang tidak dikehendaki hanya akan membuat segalanya semakin rumit.

6. Pekerjaan berjalan dengan hukum aksi sama dengan reaksi. Sementara dalam cinta, apa yang kamu usahakan setengah mati, belum tentu berjalan sesuai dengan yang kamu ingini

Cinta tidak terduga via www.theodysseyonline.com

Segala hal dalam pekerjaan berjalan dengan pasti. Prosesnya dijamin dengan hukum aksi sama dengan reaksi. Kamu yang rajin dan tidak hobi menunda-nunda pekerjaan akan mendapatkan reputasi bagus di mata atasan. Kamu yang kerja keras dan tidak absen menelurkan ide-ide gemilang, akan mendapatkan promosi dengan mudah. Kamu yang mati-matian menyuguhkan performa prima, akan mendapat pujian dan bahkan bonus yang menguntungkan. Apa yang kamu dapatkan, kurang lebih sesuai dengan apa yang sudah kamu lakukan.

Sementara dalam cinta, semua hukum-hukum fisika gugur dengan sendirinya. Banyak hal yang melenceng dari rencana. Dia yang kamu inginkan setengah mati, belum tentu menginginkanmu juga. Dia yang kamu pertahankan mati-matian, belum tentu dia juga ingin bertahan. Terkadang apa yang kita kejar sampai ngos-ngosan justru semakin menjauh dari padangan. Mungkin itulah mengapa orang menyebut cinta itu tidak ada logika. Sebab yang terjadi di sana serba tidak terduga.

Di balik reputasinya, cinta sebagai sumber bahagia dan kerja sebagai sumber nestapa, cinta memang jauh lebih sulit dan rumit daripada kerja. Cinta tidak bisa dipelajari, tidak bisa dipaksakan, dan tidak bisa diprediksi. Banyak orang yang sukses dalam pekerjaan, namun mundur teratur bila sudah menyangkut percintaan. Karena cinta memang tidak pernah mudah.

Banyak hal yang harus dipersiapkan dan dipikirkan sebelum menjalin hubungan, agar kelak tidak kandas di tengah jalan. Tak perlu terburu-buru, karena segala hal yang dilakukan tergesa-gesa, membuatmu cepat lelah juga. Belum menemukannya sekarang tidak berarti kamu gagal, melainkan kamu masih sedang dalam perjalanan. Bila kamu terus memacu semangat untuk memantaskan diri, suatu saat nanti kamu akan tiba di tempat tujuan yang kamu ingini.

Suka artikel ini? Yuk, follow Hipwee di mig.me!