Nggak Semua yang Palsu itu Buruk. Penelitian Ungkap Senyum Palsu Nyatanya Bisa Picu Suasana Positif dalam Diri

Manfaat senyum palsu

Pernah nggak sih, kamu melakukan sesuatu yang dipaksakan? Seperti tersenyum misalnya. Meski terkesan sederhana untuk dilakukan, senyum nggak setiap waktu bisa hadir di bibir. Alhasil, kita kadang memaksakan bibir meluncurkan senyum meski sedang nggak ingin. Contohnya ketika disapa teman saat sedang bad mood, atau saat suasana hati sedang sedih. Kita biasa menyebutnya senyum palsu.

Advertisement

Meski begitu, senyum palsu tersebut bukannya nggak bermakna loh. Selain bisa memberi penghiburan terhadap diri sendiri yang sedang sedih, membuat senyum palsu nyatanya bisa picu suasana positif dalam diri. Fakta ini sudah dibuktikan oleh ilmuwan lewat hasil penelitian dalam jurnal berjudul Experimental Phsycology dan diterbitkan di laman Hogrefe pada 11 Mei 2020. Nah, buat kamu yang selama ini engan pura-pura tersenyum karena merasa nggak ada gunanya, melansir dari IFL Science, berikut Hipwee Motivasi rangkum penjelasan bagaimana ternyata ia bisa bermanfaat.

Pura-pura tersenyum akan merangsang bagian otak yang berkaitan dengan suasana hati, dan mampu mengubah persepsi jadi lebih positif

Photo by Nicholas Kusuma on Unsplash via unsplash.com

Dalam jurnal Experimental Physcology, tim ilmuwan dari University of South Australia mengatakan bahwa pura-pura tersenyum dapat memengaruhi bagian otak yang berkaitan dengan suasana hati. Mereka menjelaskan senyum palsu pada dasarnya dapat mengelabui pikiran kita untuk menerima ekspresi wajah dan bahasa tubuh orang lain dengan lebih positif, yang lebih lanjut meningkatkan suasana hati kita sendiri. Dari sini setidaknya kita bisa bersepakat kalau istilah “berpura-pura lah sampai kau lupa sedang berpura-pura” bisa terjadi.

Melalui penelitiannya, para ilmuwan ini melakukan eksperimen dengan mengumpulkan sekolompok peserta dan meminta mereka untuk meletakkan pulpen di antara gigi. Hal ini secara langsung akan memaksa wajah untuk tersenyum. Kamu boleh loh, cobain gigit pulpen. Pasti wajahmu sekarang seperti sedang tersenyum. Nah, setelah itu para peserta diminta untuk menilai ekspresi dan gerakan orang lain, bergantian saat mengigit pulpen maupun sebaliknya.

Advertisement

Hasilnya, eksperimen tersebut mengungkapkan peserta yang sedang mengigit pulpen, atau yang kita simpulkan sedang tersenyum palsu, melihat ekspresi wajah dan gerakan orang lain dengan lebih positif. Sementara hasil sebaliknya berlaku ketika peserta nggak mengigit pulpen, atau sedang nggak tersenyum palsu. Dengan ini para ilmuwan berkesimpulan bahwa dengan memaksa wajah tersenyum, pandangan kita terhadap orang lain bisa bergerak ke arah positif, terlepas dari kondisi mental masing-masing kita. Jadi kesimpulan yang bisa diambil, tersenyum, sekalipun palsu, mampu memberi banyak emosi positif dalam diri.

Senyum palsu punya implikasi yang menarik, dan bisa digunakan sebagai mekanisme meningkatkan kesehatan mental

Photo by Just Name from Pexels via www.pexels.com

Ketua tim peneliti yang merupakan ahli kognisi manusia dan buatan, Dr. Marmolejo Ramos, menjelaskan bahwa ketika sedang tersenyum otot akan mengatakan kita sedang bahagia, dan otak akan menafsirkannya dengan mengubah persepsi ke arah yang lebih positif. Lebih lanjut, dalam penelitian tersebut mereka menemukan bahwa saat sedang tersenyum sekalipun palsu, pusat emosional otak bernama amigdala akan dirangsang untuk melepaskan neurotransmiter agar keadaan emosional positif muncul.

Advertisement

Melalui kesimpulan penelitian ini, Dr. Marmolejo mengatakan senyum palsu memiliki implikasi yang menarik untuk kesehatan mental. Menipu otak agar menganggap senyum palsu sebagai tanda bahagia, menurutnya bahkan berpotensi untuk digunakan sebagai mekanisme dalam membantu meningkatkan kesehatan mental.

Wah, tersenyum sekalipun palsu ternyata bukan sebuah laku yang sia-sia, ya. Selain bisa membuat kita mempersepsikan suatu hal dengan lebih positif, ia bahkan bisa membawa dampak positif bagi kesehatan mental. Nah, apakah kamu sudah tersenyum hari ini?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

get me away from here I'm dying

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE