Semakin kesini, undangan pernikahan yang dikirim dari teman-teman terus meluncur ke rumah. Akhir pekan bukan lagi soal pergi ke mall bersama atau nongkrong di kafe favorit. Tapi kini akhir pekan lebih identik dengan maraton dari satu kondangan ke kondangan lain. Sahabat-sahabat yang satu persatu sudah menemukan jalannya, jelas membuat kami senang dan lega. Status yang masih sendiri, tak pernah menjadi penghalang kami untuk ikut berbahagia.

Namun berada di tengah teman-teman yang sudah menikah dan berkeluarga, tetap menimbulkan ragam rasa bagi kami yang sampai kini belum juga menemukan pendamping. Ragam rasa, yang hanya kami yang pahami.

1. Melihat kebanyakan teman sudah menikah, kami yang masih sendiri sempat merasa kecil hati dan nggak percaya diri

kami merasa kecil hati via elizabethwellsphoto.com

Memandang teman-teman yang kisah cintanya berhasil hingga melenggang ke pelaminan, terkadang membuat pilu kami yang masih sendiri. Keinginan untuk segera menyusul jelas selalu ada di benak kami. Tak pelak rasa kecil hati dan nggak percaya diri kadang menghantui. Pertanyaan “Kapan bisa menemukan dia yang mau mendampingi hingga akhir hari?” pun selalu terngiang.

2. Pertanyaan basa-basi seputar “Kapan nyusul?” sudah sering bikin kamu salah tingkah sendiri

sering ditanya kapan nyusul via elizabethwellsphoto.com

Advertisement

Buruan nyusul ya. Jangan mikir kerja mulu, lho

Kamu cari yang gimana lagi sih? Udah keburu kemakan usia nanti

Pertanyaan macam itu kerap ditanyakan saat menghadiri pesta pernikahan teman sendiri. Pertanyaan basa-basi namun sebenarnya cukup menohok dan membuat kami ingin segera angkat kaki.

Kami bukannya tak mau segera menikah, namun memang takdir saja yang belum mengizinkan menyusul teman-teman dengan segera. Kami tidak mematok kriteria terlalu tinggi, memang dasarnya saja belum dipertemukan dengan kekasih hati.

3. Sejujurnya ada ketakutan dalam diri kalau menjadi satu-satunya yang masih sendiri dan belum memiliki pendamping

kami takut menikah paling akhir via elizabethwellsphoto.com

Ada ketakutan tersendiri dalam diri saat menyadari makin lama kian banyak teman yang sudah memasuki gerbang pernikahan. Ketakutan kadang membuat kami berpikir banyak hal yang menjurus ke hal-hal negatif.

Kadang kami takut jika menjadi satu-satunya yang tak menemukan jodoh ataupun yang terakhir dipinang kala usia tak lagi muda.

4. Namun kami menyadari, untuk menemukan seseorang yang mau mendampingi hingga nanti tak pernah mudah. Mereka yang duluan sudah melewatinya

mereka beruntung lebih cepat menikah via elizabethwellsphoto.com

Tapi untungnya akal sehat kami masih bisa bekerja. Kami sadar menemukan dia yang tepat untuk mendampingi hingga nanti tak akan pernah mudah. Harus ada fase jatuh bangun yang kami alami. Dan mereka yang sudah berlabuh ke pelaminan, pasti telah melewati banyak fase jatuh bangun yang menguras hati.

Ini pun giliran kami, untuk bersabar melewati setiap fasenya untuk menemukan dia yang tepat

5. Walaupun gelisah, kami tidak pernah merasa kehilangan tujuan dan arah

kami tidak kehilangan arah via elizabethwellsphoto.com

Gelisah tentu pasti kami rasakan. Apalagi menyadari umur kian bertambah. Namun tak lantas membuat kami hilang arah. Meski masih sendiri, bukan berarti kami menyendiri. Kami punya hidup yang mesti dijalani. Pekerjaan kami pun menyenangkan dan bahkan membuat kami rela menghabiskan waktu seharian di dalamnya.

Mungkin saatnya kami mencapai sesuatu yang lebih tinggi untuk dibanggakaan sebelum melangkah dengan dia yang namanya ditakdirkan untuk kami.

6. Kami pun ingin menikah, tapi mungkin waktu dan jodoh saja belum berpihak

hanya saja jodoh belum berpihak via elizabethwellsphoto.com

Kami juga ingin menikah, ingin merasakan bagaimana rasanya mengurus rumah tangga dan suami. Kami pun ingin tahu bagaimana rasanya menjadi orangtua beserta kerepotan yang ditimbulkan. Dan disitulah kami memahami bahwa kami juga akan segera mengalaminya, walau memang tidak secepat teman-teman yang lain.

Mereka hanya lebih beruntung karena bisa menemukan jodohnya lebih cepat. Sementara jodoh kami masih disimpan Tuhan untuk sementara, sampai kami sama-sama siap dipertemukan.

7. Sempat merutuki nasib, tapi kini kami menyadari bahwa hidup tetap indah walau masih kemana-mana sendiri

hidup kami tetap indah walau kami sendiri via elizabethwellsphoto.com

Walau sempat merutuki nasib yang tak kunjung bertemu dengan jodoh, namun kami sadar juga kalau kami beruntung. Kami masih leluasa untuk mewujudkan apa yang sejak dulu kami cita-citakan.

Mandiri jelas jadi nama belakang kami. Setidaknya, selalu ada kekuatan yang membuat kami tetap tangguh. Meski belum ada dia yang selalu menemani.

8. Kami pun memilih selow. Tetap berusaha, namun tak pernah ngoyo sekali. Akan ada waktunya nanti..

Akan ada waktunya nanti via elizabethwellsphoto.com

Kami tidak menutup diri serta pergaulan. Hari-hari kamu tak dihabiskan di rumah saja. Tetap ada pencarian, namun kami memilih untuk tidak terlalu kentara. Biarkan ini menjadi usaha diam-diam kami. Kami selow dan selalu percaya akan ada waktunya nanti.

Menjadi pribadi yang setiap hari lebih baik sedang kami usahakan. Biar saat saling dipertemukan tiba saatnya, kami sudah menjadi pribadi yang layak untuk dipertahankan hingga pelaminan.

Tak mengapa teman-teman lebih dulu meninggalkan kami dengan jodohnya masing-masing, sekalipun kerap membuat iri dan kecil hati. Namun kami tetap mensyukuri jalan hidup yang Tuhan pilihkan. Toh hidup setiap manusia memiliki takdir dan jalannya sendiri.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya