“Keep going. Each step may get harder, but don’t stop. The view is beautiful at the top”

Mungkin saat kamu membaca tulisan ini, kita sudah ada di kota berbeda seperti awal sebelumnya. Ya, sesaat setelah gelar sarjana dikantungi kini tiba saatnya untuk pergi menghadapi realita hidup sesungguhnya. Mengadu nasib dan berjuang dengan masterplan yang telah disiapkan.

Advertisement

Kini kita bak tentara perang yang sudah siap dilepas ke medan perang. Dengan senjata berupa tabungan ilmu dan selembar ijazah sarjana, kita siap menjawab tantangan dunia. Aku dan kamu akan berjuang sekuat tenaga demi sejuta mimpi yang dipunya. Teman kini saatnya berjuang, semoga sepuluh tahun dari sekarang kita bisa melihat pelangi yang sama:

Tidak ada kesan mendalam di awal pertemanan kita, hanya ada sapa biasa dan senyum sederhana. Namun rasa asing itu perlahan sirna, kebersamaan membuat aku dan kamu bak berteman sudah lama

kita jadi sahabat

kita jadi sahabat via www.pinterest.com

Rasanya tidak ada yang istimewa dari perkenalan kita. Hanya ada jabat tangan biasa dan senyum ala kadarnya yang membuka percakapan sederhana. Tapi entah mengapa kekakuan tersebut nampaknya tidak bisa bertahan lama. Semua tingkah gila dan gelak canda yang dibagi bersama seolah menjadi gergaji kuat yang membuat kita berubah status secara cepat dari orang asing menjadi sahabat.

Kamu juga tentu belum lupa saat obrolan yang tadinya hanya berisi pembicaraan standar berubah jadi dalam. Aku tak lagi ragu berbagai keluh kesah tentang berbagai permasalahan, mulai dari perkara kuliah sampai pacar yang tak juga kunjung datang. Begitu pula dengan dirimu yang mulai nyaman menceritakan lika-liku asmara sampai masalah pelik keluarga. Tanpa sadar persahabatan kita tumbuh seolah tanpa rahasia.

Setumpuk tugas kuliah dan beban akademik memang tidak bisa dibilang ringan. Tapi keberadaanmu sebagai teman berbagi, membuat segalanya jadi lebih mudah untuk dijalani

kau membuatnya jadi lebih mudah dijalani

kau membuatnya jadi lebih mudah dijalani via www.pinterest.com

Advertisement

Sebetulnya tidak sulit mendeteksi mengapa persahabatan kita terjalin erat. Secara karakteristik ada banyak hal yang membuat kita sama-sama merasa ‘klik’. Sikapmu yang ringan penuh canda berpadu pas dengan kebiasaanku yang memang tidak pernah mau ambil pusing dengan segala perkara. Kita adalah dua pribadi gila yang siap menertawakan berbagai hal di sekitar kita.

Berbagai tugas kuliah juga membuat kedekatan kita terjalin rekat. Aku dan kamu seringkali terlibat dalam satu kelompok bersama. Seingatku kita hampir tidak pernah berada dalam kelompok berbeda. Di setiap malam pula kita meluangkan waktu untuk keluar makan bersama. Berada jauh dari keluarga memang membuat kita mencari sosok saudara.

Ada banyak malam yang kita lewatkan untuk merampungkan tugas kuliah. Bergadang di kafe murah demi mendapat internet gratisan adalah bagian dari kebiasaan yang rasanya sulit dilupakan. Aku juga masih belum lupa saat harus bersama mengejar deadline tugas. Meski saat mengerjakannya merasa tersiksa, namun aku adalah orang yang beruntung memiliki sahabat terbaik sepertimu yang punya seribu cara untuk membuat semua beban terasa lebih ringan.

Segenap penguatanmu tidak hanya kuterima saat masa kuliah saja. Ketika mengerjakan skripsi yang sarat air mata, dukunganmu hadir seolah tak ada habisnya

kamu selalu menguatkanku

kamu selalu menguatkanku via www.pinterest.com

Tantangan dalam dunia akademik terasa semakin berat saat kita harus sama-sama merampungkan skripsi. Mulai dari kebimbangan mencari tema penelitian sampai memikirkan cara yang benar menulis proposal penelitian semuanya sudah pernah kita rasakan. Berkali-kali juga kita harus jatuh semangat saat harus berhadapan dengan revisi. Pernah pula kita nyaris menyerah dan memilih kalah.

Berkeluh kesah saat mengisahkan betapa sulitnya menemui dosen pembimbing adalah bagian cerita yang acap kali kudengar darimu. Sebaliknya, aku juga sering menceritakan bagaimana aku yang sering kali tidak bisa memenuhi keinginan dosen pembimbing sehingga tidak jarang pulang dengan mengantungi kemarahan darinya.

Bersama kita berbagi dan saling menghibur. Saat hasrat untuk pulang dari perjuangan mulai ada, kamu adalah orang yang dengan cekatan berusaha meredakannya. Keberadaanmu sebagai sahabat yang rela menyediakan telinga membuat aku memiliki teman berbagai segala permasalahan. Ketika aku menghujani dengan berbagai keluh, kamu membalikannya dengan kalimat positif yang mengencangkan kembali semangat yang mengendur.

Tentu ada rasa bangga yang menyelimuti saat akhirnya kita berhasil mengenakan toga. Meski di sisi lain aku juga merasa sedih karena harus melepas sahabat berpindah kota

bisa lulus bareng

bisa lulus bareng via jmu-journalism.org.uk

Jatuh bangun menyelesaikan skripsi, pada akhirnya menemukan titik akhir yang melegakan. Pengorbanan begadang dari malam ke malam, membenamkan diri dalam buku, sampai perjuangan mengejar dosen pembimbing tidak berakhir sia-sia. Aku dan kamu berhasil pula mengantungi gelar sarjana. Ada rasa bangga dan puas karena pada akhirnya bisa menyelesaikan dengan baik tugas sebagai mahasiswa.

Akan tetapi meski merasa bangga, ada rasa sedih yang tertinggal di sana. Sebentar lagi, kita akan berpisah kembali ke kota asal. Terbayang sudah ada sepi yang akan melanda. Aktivitas yang biasanya kulewati bersamamu, kini harus direlakan menghilang. Tentu aku tidak bisa membohongi bahwa aku merasa kehilangan salah satu sahabat terbaik yang kupunya karena harus berpindah kota.

Sekarang sudah saatnya kita menggulung lengan baju dan berjibaku menata masa depan. Ada tangga kesuksesan yang sedang ku tata, agar kelak kita bisa berjumpa di atasnya

semoga kita bertemu di atas sana ya

semoga kita bertemu di atas sana ya via www.pinterest.com

Kini sudah waktunya kita berjuang untuk setiap mimpi yang pernah dirancang. Meski harus merasa sedih berpisah dengan teman terbaik, namun aku tetap setia mengirim doa untuk berbagai usaha yang kau lakukan di sana. Aku tahu masing-masing dari kita kini sedang menata tangga, demi kesuksesan yang selama ini di damba. Tentu ada kerikil tajam yang bisa saja melukai kakimu, bisa juga ada badai menggelapi langkah perjuangan itu.

Tapi satu yang perlu diingat bahwa kamu adalah sahabatku yang harus kuat. Seberat apapun tantanganmu kamu harus selalu tahu bahwa ada pelangi bila kamu terus berjuang sampai nanti. Walaupun sebagai teman aku sudah tidak bisa lagi mendampingi tapi satu yang perlu diinggat bahwa aku selalu bisa mendengar keluh dan mengirim semangat seperti biasa. Aku selalu berharap masing-masing dari kita suatu saat nanti bisa melihat pelangi yang sama.

Berlarilah dan berjuanglah sekeras yang kamu bisa lakukan. Kerja keras dan semua pengorbanan akan Tuhan bayar dengan harga yang pantas suatu saat nanti.

Featured Image by: www.pinterest.com

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya