Artikel kali ini dipersembahkan oleh Tokopedia, online marketplace yang menawarkan pengalaman berjualan online gratis dan belanja online yang lebih aman.

Keputusan untuk meninggalkan rumah demi berjuang di perantauan telah mengajarkanmu banyak hal. Dari mendisiplinkan diri, menjaga perilaku walau tak ada keluarga yang mengawasi, hingga hati-hati dalam berbelanja agar kiriman yang seadanya dari orangtua tetap mencukupi. Merantau juga membuatmu dapat lebih menghargai berbagai kemudahan yang dulu terlihat remeh dan sederhana. Rasa rindu kampung halaman yang kadang menyeruak juga melatihmu untuk sabar dan mendewasa.

Namun terkadang hasrat untuk pulang bisa terasa begitu kuatnya. Salah satunya adalah ketika bulan puasa tiba. Memang tak ada yang bisa menyamai nikmatnya sahur dan berbuka di sisi Ayah-Ibu tercinta. Tak ada pula yang bisa menyaingi kebahagiaan sederhana ketika kamu dan keluarga shalat tarawih bersama. Namun apa daya, puasa kali ini harus kamu lalui sendiri. Di kamar kost yang sederhana, dengan menu makan yang tak kalah ala kadarnya.

Tapi haruskah kamu menyerah saat perjuangan masih setengah matang? Bukankah rindu pada keluarga adalah risiko yang pasti ada saat seseorang pergi demi memperbaiki nasibnya?

Kamu pasti pulang pada waktunya. Sebelum waktu itu tiba, memasang antena sabar dan menyingsingkan kedua lengan jadi satu-satunya pilihan. Masih ada cita-cita di perantauan yang harus diperjuangkan. Ada jauh lebih banyak alasan untuk bertahan daripada pulang.

Memang semakin hari rasa rindu makin menjadi. Namun perantauan tetap harus dilewati agar kamu mampu mengembangkan diri

Ini demi diri sendiri

Ini demi diri sendiri

“Sebaik-baik manusia adalah yang tak terlena pada hangatnya rumah. Ia memilih mengembara demi menyaksikan dunia yang lebih megah.”

Andai kerinduan pada keluarga bisa membuat seseorang kaya-raya, mereka yang merantau pasti sudah punya uang yang bukan main banyaknya. Rasa rindu memang selalu ada dalam dada. Mungkin memang kehidupan di daerah asal lebih mudah, lebih nyaman, dan begitu sulit ditinggalkan.

Di sisi lain, lewat merantau dirimu telah belajar banyak hal. Bahwa ketidaknyamanan yang kerap dirasakan di daerah rantau sebenarnya adalah syarat bagi kesuksesan masa depan. Bahwa rindu yang kerap menyelimuti justru bisa dijadikan cambuk untuk menempa diri.

Jadi jangan berkecil hati karena harus berpuasa jauh dari keluarga di tahun ini. Semua itu hanyalah bagian dari perjalananmu untuk mengembangkan diri. Lagipula, berpuasa jauh dari keluarga sebenarnya mengajarkanmu berbagai hal berharga. Mungkin Ramadhanmu akan lebih berat dari biasanya — namun akan jauh dari kata sia-sia.

Berpuasa saat hidup sendiri justru melatihmu menahan hawa nafsu. Ibadah dijalani atas dasar panggilan hati, bukan karena takut amarah Ayah-Ibu

Ibadah karena panggilan hati

Ibadah karena panggilan hati

Terpisah secara fisik dari keluarga, otomatis kamu bebas dari sebagian besar pengawasan mereka. Misalnya, orangtua tak bisa lagi mengontrol ke mana kamu pergi, jam berapa dirimu sampai rumah, kegiatan ekstrakulikuler apa yang kamu jalani, atau tipe teman-teman yang kamu akrabi. Ketika Ramadhan tiba, mereka pun tak akan bisa mengawasi apakah memang setiap hari kamu berpuasa. Puasa atau tidak menjadi soal panggilan hati. Jika tak kamu jalankan, toh takkan ada yang memarahi.

Kamu tahu kamu beribadah dari hati saat tetap melakukannya tanpa paksaan siapa-siapa.

Dengan berpuasa di tempat berbeda dari keluarga, dirimu bisa mengecek niat ibadah selama ini: apakah kamu melakukannya karena takut dimarahi, atau memang kesadaran sendiri?

Toh dirimu punya banyak teman untuk mengobati sepi. Merekalah temanmu berjuang sehidup-semati

Ada teman yang bisa dianggap saudara

Ada teman yang bisa dianggap saudara

Berpuasa jauh dari keluarga bukan berarti kamu harus selalu sendiri. Masih ada teman-teman sesama perantau yang bisa menjadi “keluarga pengganti”. Mereka yang kamu jumpai sehari-hari di kantor, kost, atau kampus akhirnya jadi tempatmu berbagi suka-duka, berburu makan sahur dan menu berbuka. Tak jarang, kalian mengajak satu sama lain untuk mengaji atau pergi tarawih bersama-sama. Karena adanya mereka, Ramadhanmu bisa tetap ceria.

Namun memang kehadiran teman-teman tak bisa menghapus jejak rindu pada Ayah-Ibu. Pasalnya, ada beberapa hal yang hanya bisa dilakukan bersama anggota keluarga. Ziarah ke makam anggota keluarga, misalnya. Bahkan mungkin dirimu rindu pada suara Ayahmu saat menyuruhmu segera shalat, atau sindiran Ibu saat kamu memilih menonton tivi daripada mengaji. Tentu saja suruhan-suruhan ini tak akan kamu dapat dari teman sebaya sendiri.

Belum lagi soal makanan. Kamu harus rela menyantap menu sederhana di perantauan. Apa yang mampu kamu beli pun berbanding lurus dengan kondisi keuangan yang semakin loyo semakin mendekati akhir bulan.

Mungkin dirimu sudah terlalu akrab dengan nasi bungkus dan mie instan. Setiap menelepon rumah, selalu terbayang aroma lezat ayam mentega — hingga kolak dan bubur mutiara yang selalu tersedia di dapur. Rindu pada rumah semakin mendidih, hingga semangat khas anak rantaumu menjadi kabur.

Ada waktu untuk semua hal, termasuk untuk pulang. Rasa rindu justru seharusnya membuatmu semakin gigih berjuang di perantauan

Jangan pulang. Bertahan.

Jangan pulang. Bertahan.

Ada dua hal yang bisa kamu lakukan saat sedang rindu-rindunya pada Ayah dan Ibunda. Pulang tiba-tiba dan mangkir dari tanggung jawab yang ada, atau bersabar dan makin gigih berjuang demi meraih cita-cita dan membuat mereka bangga.

Menjalani Ramadhan di perantauan tak layak disebut menyedihkan. Yang Maha Besar hanya ingin melihat seberapa bisa dirimu bersabar. Ya, rasa rindu yang mendalam pada keluarga bukan alasan untuk hilang semangat lalu bermalas-malasan. Justru seharusnya, mengingat mereka dalam kepala bisa membuatmu lebih gigih bekerja.

Kamu rela pergi dari rumah demi mengejar hidup yang lebih besar. Percuma kiranya dirimu berkorban jika di perantauan kamu justru bermalas-malasan.

Sudah saatnya dirimu membuktikan pada keluarga bahwa kerelaan mereka untuk melepasmu tak sia-sia. Pulanglah pada keluargamu dengan membawa sesuatu. Tak melulu harus barang mahal. Cobalah pikirkan apa yang paling mereka butuhkan, atau mungkin bisa membuat mereka senang.

Kamu juga bisa memberi hadiah ramadhan satu per satu pada Ayah, Ibu, kakak dan adik-adikmu. Cukup dengan modal Rp250.000, Tokopedia telah menyiapkan voucher senilai Rp1.000.000 untukmu. Ada juga voucher senilai Rp500.000 yang bisa kamu dapatkan dengan Rp150.000. Yang paling terjangkau adalah voucher senilai Rp100.000 dengan harga Rp20.000 saja. Dengan berbagai pilihan harga ini, kamu bisa membeli barang di online marketplace Tokopedia sesuai kebutuhan pribadi. Kamu pun mampu memberikan hadiah yang terkenang bagi ayah serta ibumu.

Mungkin memang kamu belum bisa menghadiahi mereka benda semewah mobil atau rumah. Mungkin memang hanya sedikit yang bisa dirimu beri. Namun penuh harap, hadiah ramadhan ini berarti.

Jangan sesali keputusanmu untuk hidup mandiri. Sel-sel rindu yang sudah menjangkiti akan segera terobati

Sel-sel rindu akan segera terobati

Sel-sel rindu akan segera terobati

Bulan puasa memang membuatmu semakin ingin pulang. Namun keputusanmu untuk merantau tak perlu kamu sesalkan. Menetap di luar rumah telah mengajarkanmu banyak hal berharga. Tanpa pernah melakukannya, hidupmu tak akan pernah sama.

Merantaulah hingga tersesat berkali-kali. Itulah cara terbaik untuk menemukan jati diri.

Orang bilang “Merantaulah, agar kau menjadi sebaik-baiknya manusia.” Ada yang bercanda juga dan berkata “Merantaulah, agar kau tahu mahalnya harga tiket pulang.”

Alasan apapun yang melatari keputusanmu, jangan pernah berhenti berjuang. Ada mereka di rumah yang menunggumu mengecup kesuksesan.

“Pak, Bu, terselip rindu dariku untukmu. Semoga Allah masih mengizinkanku menjalani sedikit hari di bulan puasa bersamamu.”

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya