Entah mengapa, di zaman yang super sibuk saat ini, pemikiran lawas tentang digelarnya sebuah pernikahan masih saja menghantui. Orang-orang, khususnya kaum muda, masih berpikiran untuk menggelar pernikahan sebagai solusi atas segala perkara kehidupan. Semacam gelanggang pelarian untuk hengkang dari masalah-masalah yang sedang dihadapi. Ya, memang pernikahan adalah bahtera yang membawa manusia mengarungi utuhnya kehidupan. Namun, bukankah mengarungi lautan masih harus berhadapan dengan badai dan gelombang ganas.

Tak ada seorangpun yang tak setuju bahwa pernikahan adalah peristiwa sakral. Manusia memulainya bukan dengan masalah, melainkan dengan berkah dan anugerah. Dan tak mungkin ada di dunia ini, seorang nahkoda yang berlayar hanya demi menghindari ganasnya topan badai. Jikapun demikian, bukan tidak mungkin dia akan tersesat dan kelabakan di tengah lautan.

Saat semua hal terasa tak bermuara. Pernikahan tidak selalu menjadi dermaga yang tepat untuk menambatkan cinta.

Jangan sembarang menyandarkan kapal via love-theonlyrule.tumblr.com

Ada saat di mana kita semua merasakan kosong yang luar biasa hampa. Seakan-akan, segala hal menjadi sangat rahasia dan tak mengandung sedikitpun petunjuk akan apa yang terjadi. Setiap perkara datang silih berganti : dari gaji yang tak kunjung meninggi sampai orang terdekat yang enggan mengerti. Gambaran esok hari serasa begitu kabur tak berpendar terang sedikitpun. Di sisi lain, teman-teman juga memiliki perkaranya sendiri. Tiada lagi dermaga untuk bersandar selain pasangan.

Pernikahan menjadi jawaban yang begitu saja muncul. Sebuah kendaraan untukmu membawa pergi akan segala perkara yang menyelimuti. Padahal, bahtera rumah tangga bukanlah jawaban atas segala cobaan yang menyapa bergantian. Di dalamnya, gulungan ombak akan terus datang menghadang. Inilah jebakan imajinasi yang cukup berbahaya. Sebab, manusia selalu mencari jalan pintas. Cepat sampai sekaligus cepat bosan.

Hanya demi menjawab pertanyaan orang-orang soal kapan menjadi dewasa? Padahal, pernikahan adalah peristiwamu, bukan milik orang yang menanyaimu.

Advertisement

Temukan jawabanmu sendiri! via weheartit.com

Perkara yang bergantian itu belum ditambah dengan tekanan sosial dari orang sekitar. Pernikahan seakan-akan hanya satu-satunya pertanda kedewasaan. Ya, benar adanya bahwa pelaminan akan membawa manusia pada perkembangan kepribadian. Namun, itu bukanlah satu-satunya. Celakanya, orang-orang menterjemahkan itu sebagai yang utama. Dan hanya karena ingin menjawab semua pertanyaan retoris itu, banyak pasangan segera melangsungkan pernikahan. Alasannya pun sederhana

“Malu, ditanya terus sama tetangga”

Padahal, pernikahan adalah pintu yang kau buka. Dan kau pula yang menjalani; bukan mereka. Jadi sesungguhnya, tak ada alasan bagimu untuk menggunakan pertanyaan tersebut sebagai “alasan” melangsungkan pernikahan. Sebab, itu semua keputusan dari dalam, bukan dari luar.

Ya, kami juga percaya bahwa kesulitan finansial bisa diselesaikan dengan rezeki pernikahan. Tapi ini bukan alasan yang tepat untuk naik ke pelaminan.

Bukan sebagai ajang pelarian via www.huffingtonpost.com

Salah satu keresahan utama dalam perbincangan pernikahan adalah ekonomi. Apakah kondisi perekonomian masing-masing sudah siap untuk layar terkembang? Apakah keduanya telah sepakat untuk membagi beban ekonomi? Tentu saja, ada kepercayaan spiritual yang sangat kuat untuk menjawab itu semua bahwa rezeki pernikahan akan menyelesaikan itu semua. Ya, boleh percaya boleh tidak.

Namun, yang menjadi salah kaprah adalah penyalahgunaan kepercayaan macam itu. Logika dibalik begitu saja. Pernikahan adalah solusi untuk mengatasi masalah ekonomi dengan berharap siraman rezeki pernikahan. Padahal, pernikahan bukan tempat untuk cari uang. Itu adalah sebuah amanah dari yang kuasa. Cukup mengerikan ketika menggunakannya sebagai ajang memperbaiki kondisi ekonomi.

Orang bilang bahwa pernikahan akan membuat manusia lebih fokus mengejar impian. Padahal fokus adalah soal keputusan, bukan tahapan.

Visi lebih penting dari sekadar isi

Mitos lain yang banyak beredar di bumi ini adalah soal kemampuan peristiwa pernikahan yang mampu membuat diri lebih fokus mengejar mimpi. Ini cukup membingungkan karena kata fokus sendiri cukup membuat pusing. Apa yang dimaksud fokus? Lebih serius? Kalau lebih serius, mengapa pernikahan mampu membuat diri lebih serius mengejar mimpi? Jawaban yang keluar sangat klise.

Pernikahan membuat manusia dilekati dengan beribu tanggungjawab hingga mampu memotivasi diri untuk bergerak lebih.

Ya, kami cukup setuju. Tapi apakah nasehat itu juga mengandung peringatan bahwa ada banyak hal yang juga perlu dilakukan dalam pernikahan. Apakah mimpimu sejalan dengan segala yang ada dalam rumah tangga? Kita perlu berpikir ulang soal ini. Perkara fokus tidak fokus, itu adalah soal keputusan. Semua orang bisa fokus kapan dan di mana saja, asalkan ada kemauan untuk terus melangkah dengan atau tanpa terikat janji pernikahan.

Rumah tangga bukanlah tahap yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Di dalamnya justru banyak tantangan yang berdatangan.

justru akan banyak tantangan baru dalam pernikahan

Setiap tahapan kehidupan memiliki tantangannya masing-masing. Begitu pula dengan pernikahan. Sungguh, agak mengerikan juga ketika pernikahan dikira sebagai solusi atas semua masalah. Ironis. Sebab di dalam rumah tangga, manusia masih akan dihadang tantangan yang lain. Jangan sampai menggali lubang untuk menutup jurang. Resikonya akan sangat melelahkan dan menghabiskan energi karena perkara tak pernah selesai.

Motivasi menikah macam ini sepertinya sama sekali menghiraukan tantangan mendirikan rumah tangga. Semata-mata, pandang mata hanya disilaukan oleh segarnya romantisme keluarga yang mampu meluruhkan seluruh perkara. Itu benar, jika dilakukan dengan dasar cinta yang besar; bukan kemauan untuk lari dengan tidak wajar.

Sering orang berpikir bahwa pernikahan adalah jalan menuju kebebasan dan kemandirian. Namun, memulainya demi hal seperti itu hanya akan menipiskan ketulusan.

Kebebasan bukanlah alasan melainkan pencapaian via picterest.info

Kilau bahagia semu yang lain adalah kredo soal kemandirian dan kebebasan. Pernikahan dianggap mampu melepaskan diri dari kemelut masa muda yang penuh batas-batas. Dengan memiliki keluarga sendiri, maka segalanya akan bebas diputuskan secara mandiri. Di lain sisi, citra yang melekat pada pasangan muda adalah kemandirian yang patut diapresiasi. Ada kebanggaan yang ingin digapai agar masalah-masalah dapat tertutupi.

Padahal, ketika kebebasan dan kemandirian begitu dipaksakan, maka akan mengurangi ketulusan. Sebabnya begini. Manusia menjalani hidup berdasarkan semangat awal untuk memulainya. Jika, semangat diawal hanya soal kebebasan, maka bahtera rumah tangga akan mudah goleng sebab angin juga “bebas” menggulingkannya kapan saja.

Apalagi kebebasan yang mengedepankan sah-nya hubungan seksual. Itu bukanlah tujuan yang spesial.

Sabar… via theartmad.com

Apalagi kebebasan yang berhubungan dengan aktivitas seksual. Ini berkaitan dengan semangat religius yang berkata bahwa pernikahan dapat membebaskan kita dari zina. Itu bagus. Namun, yang cukup mengerikan adalah membalik logiknya di dalamnya menjadi “ayo menikah, supaya bebas berhubungan seksual.” Mari bersifat terbuka. Hubungan seksual selalu menggugah rasa penasaran dan ingin rasa mencobanya. Dan pernikahan digunakan sebagai jalan untuk mencapainya.

Ini menjadi celaka, ketika kebebasan hubungan seksual hanya menjadi satu-satunya tujuan. Sebabnya, ketika telah mendapatkannya, maka rasa penasaran turun, hubungan mudah luruh. Orang mungkin akan menjawab klise bahwa cinta akan menyelamatkan. Bagaimana bisa jika semangat yang digunakan untuk memulainya adalah kemandirian semu untuk lari dari masalah dan menikmati kebebasan sebagai anugerah?

Pernikahan bukanlah momentum untuk menyelesaikan masalah, melainkan peristiwa kehidupan yang penuh dengan anugerah. Tak baik untuk disikapi sebagai gelanggang pelarian.

Sakral! via favim.com

Kami hanya ingin berkata bahwa pernikahan bukanlah pegadaian yang dapat menyelesaikan masalah tanpa masalah. Peristiwa itu adalah sebuah momentum seumur hidup yang menandai kematangan sebagai manusia; kebijaksanaan sebagai makhluk berakal; dan kemantapan sebagai jiwa berprinsip. Untuk itu, pernikahan bukanlah gelanggang untuk menghindar dari perkara. Di dalamnya, tersimpan berbagai tantangan yang akan menyenangkan ketika dihadapi dengan motivasi yang tulus dari hati.

Tak ada larangan untuk menikah di usia muda jika memang dua insan siap menanggung rasa. Namun, yang menjadi persoalan adalah motivasi di baliknya. Pernikahan yang sakral akan menjadi begitu spesial jika disusun dengan tulusnya cinta. Cukup. Tak ada tambahan dan tak ada pengurangan. Hanya cinta. Bolehlah ditambah sedikit kemampuan untuk menjaga rumah dengan pundi-pundi tabungan. Selebihnya, tak usahlah menambah alasan yang dibuat-buat.

Kayak Aiman Ricky yang masih belum menikah, bukan karena tak mau tapi memang tak mau terburu-buru.