Sudah Jelas Salah Karena Lawan Arah, Malah Marah. Kenapa, sih, Kita Sulit Mengakui Kesalahan Sendiri?

Salah Malah Marah

Beberapa waktu lalu, sebuah video pelanggaran lalu lintas viral di media sosial. Dalam video tersebut, seorang pengendara motor besar melawan arah di jalur yang ramai lancar. Ketika dua orang pengendara dari arah sebaliknya menegur, si pengendara yang lawan arah justru membentak marah karena merasa kedua pengendara itu menghalangi jalannya. Ia bahkan sempat melepas helm dan menantang berkelahi, sehingga dua pemotor yang benar memilih untuk pergi. Aneh, ya?

Advertisement

Memang video ini sudah cukup lama. Tapi masalah “salah malah marah-marah” ini cukup sering terjadi. Kita tentu masih ingat tentang pengendara ojol yang melaju di atas trotoar, ditegur, dan malah memarahi yang menegur karena dianggap tidak berwenang. Kasus-kasus seperti ini tentu mengundang rasa geli dan prihatin di saat yang sama. Yang salah siapa, yang marah-marah siapa?

Lantas dari kasus-kasus ini, muncul pertanyaan lain. Kenapa sih kita sulit untuk mengakui kesalahan sendiri? Padahal tanpa dasar ilmu dan cukup dilihat dengan mata telanjang, apa yang dilakukan itu jelas keliru. Ngotot tidak mau disalahkan dan malah marah-marah bukankah justru akan merusak citra sendiri? Barangkali beberapa hal inilah yang membuat kita sulit untuk mengakui kesalahan sendiri.

1. Ada dua hal yang tidak sesuai ketika sebuah kesalahan terjadi. Pikiran terkadang sulit menerima ketidaksesuaian ini

menolak salah via www.cpacanada.ca

Menurut psikologi, ada istilah cognitive dissonance, yaitu kontradiksi yang terjadi dalam pikiran kita ketika terjadi sebuah masalah. Jadi, di sini ada dua kepercayaan atau pengetahuan yang berbeda. Misalnya, kamu percaya diri bahwa kamu adalah orang baik-baik yang nggak pernah menyakiti orang. Tapi kemudian kamu menyadari kamu melakukan kesalahan. Tapi, terjadi penolakan atau kebingungan dalam dirimu yang membuatmu mengambil jalan pintas dengan menolak mengakui kesalahan. Atau bila dalam kasus pengendara motor, merasa yang menegur kesalahannya justru mengajak bertengkar.

2. Banyaknya orang yang melakukan hal itu membuat kamu merasa itu “nggak apa-apa”. Padahal dilakukan banyak orang belum tentu benar

banyak yang lawan arah (foto: Immanuel Antonius/Liputan6) via www.liputan6.com

Yang satu ini adalah penyakit kebanyakan dari kita, nih. Yaitu merasa benar saat melakukan hal-hal yang dilakukan orang lain. Kelakuan massa atau komunal adalah standarisasi kebenaran. Hal-hal yang salah bisa menjadi benar karena alasan “Orang lain juga gitu kok!”. Jadi, ketika diingatkan pun dia nggak terima karena merasa melakukan apa yang dilakukan orang lain. Ya meski memang banyak yang sering melanggar aturan dengan lawan arah, sampai kapan pun hal itu tetap saja salah dan berbahaya bukan?

3. Rasa malu dalam diri itu terkadang membuat kita bersikap defensif. Karenanya kita membuat berbagai alasan untuk membuat diri sendiri seolah-olah benar

rasa malu membuat sikap defensif (Photo by Christian Fregnan) via unsplash.com

Alasan ketiga yang sangat mungkin terjadi adalah kesadaran akan kesalahan tersebut menimbulkan rasa malu dalam dirinya. Dia tahu bahwa dia salah, tetapi dia malu mengakuinya. Dia takut kesalahan itu akan membunuh karakternya. Lantas orang-orang akan menganggapnya sebagai pribadi yang sembrono, egois, pelanggar lalu lintas, dan punya sifat-sifat yang tercela. Karenanya, dia memilih untuk membuat berbagai alasan untuk membuat dirinya seolah-olah benar. Padahal, bukankah setiap orang memang bisa melakukan kesalahan? Yang lebih penting justru kebesaran hati untuk mengakui kesalahan itu dan minta maaf.

4. Masih banyak yang merasa mengakui kesalahan itu berarti lemah. Padahal bukankah membuktikan jiwa yang besar bila kita mau mengakui kekhilafan?

Advertisement

Kata maaf nggak membuatmu lemah (Photo by Suzy Hazelwood) via www.pexels.com

Sama seperti sebuah kekalahan, masih banyak juga yang menganggap mengakui kesalahan akan menempatkan dirinya sebagai sosok yang lemah. Sosok yang sudah berbuat keliru atau melakukan kekhilafan. Dia takut harga dirinya tercabik dan wibawanya luntur jika mengakui dirinya salah. Di sinilah konsepsi salah sama dengan lemah yang menyesatkan itu terjadi. Mengakui kesalahan ataupun kekalahan nggak akan membuat seseorang terlihat lemah, melainkan menjadikannya sosok berhati besar yang mau mengakui kekeliruannya. Nggak cuma itu lo, setelah mengakui kesalahan tentunya ada upaya untuk menghindari kesalahan yang sama. Di sini, terlihat jelas karaktermu seperti apa.

Dunia memang sudah telanjur lucu. Yang salah siapa, yang marah siapa. Yang keliru siapa, yang menantang berkelahi siapa. Memangnya kalau berkelahinya menang, lantas dia menjadi benar? Satu yang perlu diingat, mengakui kesalahan dan meminta maaf nggak membuat seseorang terlihat lemah apalagi menyedihkan. Karena hal itu membutuhkan kebesaran hati, dan seperti yang kita lihat sendiri, nggak semua orang bisa melakukannya.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta harapan palsu, yang berharap bisa ketemu kamu.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE