Sosok ayah menjadi salah satu sosok terpenting dalam hidup kita sebagai manusia. Beliau adalah kepala keluarga, yang punya andil besar dalam proses pembentukan anak dan istrinya. Namun tidak jarang, kita sebagai anak kerap merasa terbatasi untuk bisa menyampaikan perasaan yang paling jujur padanya.

Barulah saat waktu dan kesempatan tak lagi ada, orang menyesal karena belum mengungkapkan rasa terdalam pada pria yang jasanya terkira di hidup kita. Tentu kamu tak mau jadi orang yang menyesal ‘kan? Maka sebelum semua terlambat, cobalah katakan hal-hal ini pada ayahmu.

1. “Bagaimana pekerjaanmu, Pak? Beratkah? Membuatmu pusingkah”

Kita pulang ya, nak. via www.flickr.com

Pertanyaan yang sederhana tapi penuh makna. Namun, seringkali kita sebagai anak lupa menanyakannya. Setiap kali ayah pulang dari tempat kerja kita sering terlalu sibuk untuk sekedar menanyakan kabarnya. Memilih fokus pada ponsel, serial TV, bahkan tak jarang pura-pura tidur agar tidak ditanya-tanya.

Pernahkah kamu berpikir, bahwa dia juga manusia biasa yang juga perlu ditanya bagaimana kabarnya? Sebelum terlambat, cobalah tanyakan bagaimana pekerjaannya dan hari-harinya. Buktikan kamu peduli dengan segala apa yang ia kerjakan.

2. “Sesungguhnya, kenapa kita sering beradu argumen ya, Pak?”

Advertisement

sekeras apapun ayahmu, dia bermaskud melindungimu via junebugweddings.com

Sebagai dua orang beda pemikiran yang tinggal serumah, pertengkaran memang sering tak terhindarkan. Tidak jarang adu argumen antara ayah dan anak menuju ke arah yang keras. Di satu sisi kamu hanya ingin didengar, di sisi lain ayahmu ingin agar ia bisa bertindak tegas. Rasa kesal, sebal, merasa ayah egois hingga pernyataan macam, “Bapak nggak sayang aku!”  jadi biasa dilontarkan.

Kenapa tidak mulai sekarang kamu menanyakan penyebab perselisihan yang kerap kamu alami dengan ayah? Tanyakan bagaimana perasaannya saat berselisih paham denganmu, apa yang sesungguhnya ada di benaknya setiap kamu menyuarakan keberatanmu.

3. “Maukah Bapak menceritakan sejarah keluarga kita? Aku mau tahu.”

SIlsilah keluarga kita seperti apa, yah? via simomot.com

Pernahkah kamu bertanya tentang sejarah keluargamu pada ayah?  Bagaimana silsilahmu seutuhnya? Menceritakan silsilah keluarga pada anaknya adalah kebanggaan bagi seorang ayah. Seolah ia adalah pintu yang membukakan wawasanmu tentang nama besar dan seluk beluk keluarga yang mengalir dalam darah di tubuhmu.

Kalau kamu masih belum tahu tentang silsilah keluargamu, segera tanyakan ayahmu, dengan senang hati dia akan menjelaskannya padamu. Ayahmu pasti juga ingin menceritakan tentang sejarah keluargamu dan nantinya kamu akan meneruskan cerita itu ke anak-cucumu. Akan beda rasanya jika yang menjelaskan silsilah keluarga adalah pamanmu, bukan ayahmu — yang sudah berpulang lebih dulu.

4. “Aku bangga jadi anak Bapak!”

Aku bangga jadi anak ayah! via aliyamuafa.wordpress.com

Orang tua tidak segan mengatakan mereka bangga punya anak seperti kamu. Apalagi jika kamu bisa memberikan suatu prestasi besar yang membuat mereka senang dan bahagia.

“Wah, Pak Budi pasti bangga ya punya anak si Yogie. Hebat loh anaknya, pak!”

Ayahmu pasti tersenyum bangga jika orang lain memujimu. Namun, pernahkah kamu mengutarakan langsung kebanggaanmu pada sosok ayahmu? Dia mungkin tidak mempunyai prestasi besar dan tidak dikenal banyak orang, tapi dia menjadi sosok terpenting yang membimbingmu sedari kecil hingga kamu beranjak dewasa.

Jangan pernah malu untuk mengatakan ke ayahmu: “Pak, aku bangga jadi anaknya bapak!”

5. “Terima kasih sudah mengantarkanku melewati sekian banyak jenjang hidup, Pak” 

melihatmu menuju pelaminan, salah satu impiannya via irulia.blogspot.com

Ayahmu adalah orang hebat yang sesungguhnya berusaha kuat menyokong semua usaha yang kamu lakukan. Di bali segala pencapaianmu, ada usaha dan keringatnya yang tak pernah ragu ia curahkan demi kesuksesan anak tersayangnya. Ia adalah orang yang paling bangga mengantarmu wisuda, dadanya sesak sata melihatmu masuk kerja untuk pertama kalinya, ia pula yang paling sedih dan bahagia ketika kamu menikahi atau dinikahi anak orang dan tak lagi jadi anak kecilnya.

Pernahkah kamu mengucapkan terima kasih atas segala perjuangannya itu?

6. “Maafkan anakmu ini ya, Pak.”

Maafkan anakmu ya, Pak via callielindsey.com

Ada saja kelakuan kita yang membuat ayah geleng-geleng kepala. Karena kecerobohan anaknya, dialah yang harus menghadapi semuanya. Bertemu polisi karena anaknya kena razia, menghadap kepala sekolah karena anaknya bolos sekolah, dan masih ada kelakuan lain yang membuat dia harus sibuk mengurus kita.

Dia dengan sigap keluar dari kantor saat kamu menelepon butuh bantuan. Dia rela berputar arah demi menjemputmu yang tak berani pulang sendiri. Namun, pernahkah kita, sebagai anak, meminta maaf atas segala perlakuan kita yang merepotkan dan tak jarang menyakiti hatinya?

Kalau kamu belum meminta maaf pada ayahmu, segera katakan semuanya sebelum terlambat. Kita tidak pernah tahu berapa lama bisa dapat kesempatan untuk bersama dengannya ‘kan?

7. “Aku pun memaafkanmu, Pak.”

Aku memaafkanmu, yah! via funny-pictures.picphotos.net

Ayahmu juga seorang manusia yang membuat kesalahan dalam hidupnya. Beliau bukanlah malaikat yang harus tampil sempurna. Mungkin saja dia pernah berbuat kesalahan yang membuatmu marah dan kesal. Namun, ingatlah: kamu dan ayahmu adalah satu darah. Tidak ada kata ‘mantan’ diantara kalian. Semarah apapun kamu dengan ayahmu, maafkan dia.

Jangan segan untuk mengutarakan perasaanmu: “Pak, aku maafin kesalahan bapak.” Kamu tak mengerti betapa leganya perasaan ayahmu saat mendengar anak kesayangannya ikhlas memaafkan segala alpanya.

Jangan tunggu sampai ayahmu terbaring di rumah sakit dengan segala selang yang menempel di tubuhnya, ia memohon maaf dari anaknya. Itu akan menjadi penyesalan terbesarmu sebagai anak. Selagi ayahmu sehat, katakanlah!

8. “Untuk segala upaya dan pengorbanan yang kamu lakukan dalam diam, terima kasih Pak”

terimakasih sudah melindungiku, ayah! via www.trekearth.com

Seringkali kita mengucapkan terimakasih pada orang lain, tapi seringkah kamu mengucapkan ‘terimakasih’ pada ayahmu?

“Dek, papa sudah kirim ya uangnya.”

“Oke pa. Nanti adek cek ya. Udah dulu ya pa, mau kuliah lagi.”

Perbincangan sederhana yang sering kita alami di awal bulan. Ayah yang mengirimkan uang bulanan untuk anaknya dan seringkali kita lupa mengucapkan ‘terimakasih’ untuk itu. Padahal, banyak hal yang harus kita syukuri dan kita harus mengucapkan terimakasih kepada ayah kita.

“Terimakasih sudah mengajarkanku berdoa,pak.”

“Terimakasih sudah menungguku pulang hingga larut malam, pak.”

“Terimakasih sudah kirimin uang bulanan ya, yah.”

‘Terimakasih atas semuanya, pak!”

terimakasih sudah mengajarku berdoa, yah. via www.tumblr.com

Terima kasih telah berjuang untukku. Dalam diammu, dalam doamu, dalam kerja keras yang terus kau lakukan sepanjang waktu. Maafkan aku sering lupa menyadarinya.

9. “Meski jarang diungkapkan lewat kata-kata, Bapak perlu tahu kalau aku selalu cinta”

Kapan terakhir kalinya kamu mengungkapkan rasa sayang terhadap ayahmu? Kalau belum, katakan sekarang juga. Sebelum semua terlambat, katakanlah. Jangan malu untuk mengungkapkan betapa sayangnya dirimu pada sosok ayah yang kamu cintai itu. Kamu tidak akan tahu kapan ayahmu akan pergi meninggalkanmu, dan sebelum itu terjadi, katakanlah sejujurnya.

Akan berat dan sangat berbeda rasanya mengungkapkan rasa sayang itu saat kamu harus mengantarkan ayahmu menuju tempat peristirahata terakhirnya. Hanya ada rasa sesal kenapa saat kamu menjaganya di rumah sakit atau obrolan terakhirmu via ponsel, kamu tidak mengucapkannya.Yang terngiang hanyalah pesan terakhir ayahmu: “Jangan manja lagi ya, nak.”

Jika memang Tuhan berkehendak lain, katakan rasa sayang itu dalam doa. Pasti ayah mendengarmu. Dimana pun ia berada, ayahmu akan tetap menyayangimu. Kamu akan tetap menjadi anak kebanggaannya.

Berbahagialah kamu yang saat ini masih mempunyai sosok ayah yang mendampingimu. Segera katakan padanya apa yang kamu rasakan, dia pasti sangat bahagia mendengar apa yang kamu ucapkan.

Dimana pun ayahmu berada, yakinlah bahwa ayahmu selalu berdoa dan mengawasimu. Jika dia sudah tidak lagi bersama denganmu, ingatlah bahwa kamu masih bisa mengirimkan doa untuknya. Walau raganya sudah tidak ada,  jiwanya tetap ada bersama denganmu, darah dagingnya.

Hey dad, I love you!