Dunia orang dewasa memang lebih rumit. Seiring bertambahnya usia, bertambah pula tanggung jawab yang ada di pundak kita. Salah satu yang paling kentara tentu saja soal pekerjaan. Pertanyaan:

“Pekerjaan macam apa yang dijalani? Apakah penghasilan dari pekerjaan itu sudah mencukupi? Dan apa kita merasa nyaman melakoni?”

Advertisement

adalah pertanyaan-pertanyaan yang seringkali terlintas dalam benak kita. Tak jarang pula kita justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Bahwa pekerjaan yang saat ini dijalani ternyata belum bisa mencukupi, apalagi membuat kita merasa nyaman.

Tapi, bukankah bekerja memang tak semata-mata mengejar gaji tinggi? Dan bukankah kadar rasa nyaman juga sebenarnya tak punya ukuran yang jelas? Jadi buat apa merutuki apa yang sekarang kamu jalani, ketika sebaik-baik sikap adalah menghargai perjuangan diri.

Pekerjaan terkadang bukan soal pilihan, tapi desakan keadaan yang memaksa kita untuk berjuang.

pekerjaan terkadang bukan soal pilihan

pekerjaan terkadang bukan soal pilihan via www.launch-angels.com

Saat masih sekolah, segala kebutuhan biasanya masih ditanggung oleh orang tua. Makan, tinggal, dan uang jajan pun jadi tanggung jawab mereka. Tapi setelah lulus, rasa-rasanya berdosa jika masih saja menggantungkan kebutuhan sendiri di pundak mereka. Bukankah kita sudah punya bekal pendidikan dan skill untuk mencari pekerjaan?

Advertisement

Sayangnya, mencari pekerjaan juga bukan perkara gampang. Terkadang, pekerjaan yang datang juga tak selalu sesuai keinginan. Bahkan, di era ini pun sudah menjadi lumrah ketika seseorang bekerja di bidang yang tak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Jangankan soal kenyamanan, yang penting mencukupi kebutuhan!

Wajar jika muncul perasaan tak nyaman, tapi bukankah mengeluh juga rasanya terlalu kekanak-kanakan?

mengeluh = kekanak-kanakan

mengeluh = kekanak-kanakan via www.huffingtonpost.com

“Stres banget deh harus ngerjain ini itu di kantor.”

“Tugas lagi, target lagi, tugas lagi, target lagi, mati aja gue!”

“Duh, kesel banget tuh sama temen kantor yang males-malesan kerja.”

Sah-sah saja ketika kita merasa tak nyaman dengan pekerjaan yang dijalani. Entah itu dengan tugas-tugas sehari-hari atau bahkan dengan lingkungan kerja itu sendiri. Toh, perkara kenyamanan dalam pekerjaan juga terdengar absurd. Tidak ada ukuran pasti atau indikasi yang bisa benar-benar menjelaskan soal ini ketika segala yang terjadi di tempat kerja memang sangat kompleks.

Dan jika pekerjaan itu yang kita jalani setiap harinya, atau kantor itu juga yang kita tuju setiap paginya – apa harus mengeluh setiap hari juga? Sebagai individu dewasa, gampang melontarkan keluhan soal pekerjaan rasa-rasanya sangat kekanak-kanakan.

Bukannya diabaikan, namun ada kalanya passion memang harus sejenak diredam. Persetan – satu-satunya pilihan adalah bertahan!

passion-mu harus sejenak diredam

passion-mu harus sejenak diredam via debtblag.com

Ketika bekerja di bidang yang tak sesuai latar bekang pendidikan, mungkin orang-orang di luar sana akan mencecar kita dengan berbagai pertanyaan. Mungkin ada juga orang-orang yang akan berkomentar dengan pedasnya saat kita memilih mengesampingkan passion demi tetap bisa bekerja.

Padahal, satu-satunya yang paling mengerti tentang diri ini adalah kita sendiri dan bukannya orang lain. Terserah jika mereka menilai kita sebagai seorang yang pragmatis atau lebih mengutamakan soal materi misalnya. Kita yang tahu kebutuhan hidup kita, dan bukannya mereka. Kita pula yang harus menanggung beban hidup kita, dan bukannya mereka.

Tapi kamu bukan robot pekerja tanpa hati. Justru perjuangan ini adalah “ikhtiar”-mu demi bisa menggapai mimpi.

kamu bukan robot yang bekerja tanpa hati

kamu bukan robot yang bekerja tanpa hati via www.businessinsider.com

Meski pekerjaan itu tak kita sukai, setidaknya kita menjalaninya dengan sadar. Kita bukan robot yang bekerja semata-mata demi uang. Kita hanya sedang bersikap realistis dalam menghadapi berbagai tekanan kebutuhan. Bertahan bukan berarti pasrah menerima keadaan, tapi kita hanya sedang berdamai dengan keadaan.

Bahkan lebih dari itu, bertahan dengan pekerjaan yang sebenarnya tak disukai bisa jadi bagian dari “ikhtiar”. Berusaha sekaligus bertahan dan bersabar demi sesuatu yang sesungguhnya paling kita inginkan. Sesuatu yang disebut sebagai mimpi – yang untuk mencapainya harus melewati perjalanan terjal ini.

Pekerjaan yang kamu benci tak harus dirutuki. Tapi lihatlah betapa hebatnya kamu yang bisa bertahan sampai hari ini!

bukankah kamu hebat sekali?

bukankah kamu hebat sekali? via drastic-plastic-fantastic-plastic.blogspot.co.id

Mengeluh soal pekerjaan seperti sudah jadi sesuatu yang lumrah, misalnya saat bercerita dengan teman atau ketika update di media sosial. Sesekali tentu tak ada salahnya, tapi terus-menerus merutukinya hanya akan membuat hidup kita sendiri semakin menderita.

Jangan tenggelam merutuki pekerjaan yang dibenci, tapi alihkan pandangan dan lihatlah dirimu sendiri. Betapa dirimu sendiri memang layak dihargai? Sudah bertahan sedemikian rupa untuk sesuatu yang tidak disukai, bukankah diri kita ini memang hebat sekali?

Perkara suka atau tidak suka terkadang hanya soal cara pandang. Lihat sesuatu dari sisi yang positif, maka kita akan menemukan kesimpulan yang berbeda pula.

Semoga hidup selalu berbahagia! 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya