Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan rencana. Kegagalan demi kegagalan membuat orang frustrasi dan membenci dirinya sendiri. Merasa tak becus menangani sesuatu ini sangat menyiksa, karenanya banyak yang kemudian mencari kambing hitam demi mengurangi sedikit rasa kecewa pada dirinya sendiri. Harus ada yang disalahkan, harus ada yang dijadikan alasan.

Padahal segala hal yang terjadi tak lepas dari apa yang kamu lakukan sendiri. Hukum sebab akibat itu nyata, dan kamu akan mendapatkan sebesar yang kamu usahakan. Daripada terus-terusan menyalahkan keadaan, mungkin kamu perlu instropeksi diri. Benarkah apa yang kamu lakukan selama ini sudah final dan tidak bisa pilihan lain lagi?

1. Kita sering menyalahkan realita saat rencana tak berjalan sesuai keinginan. Padahal apa benar rencanamu sudah matang?

Apakah rencanamu memang sudah matang? via strive-for-da-best.com

Apakah kamu tahu mengapa realitas selalu terdengar menakutkan di telinga kita? Karena kita terbiasa menyebut ‘realitas’ pada hal-hal tidak sesuai dengan keinginan. Karena itu, ketika semuanya berjalan keluar dari jalur rencana, kamu akan melimpahkan kesalahan itu pada realitas. Seolah-olah kamu sudah berusaha sekuat tenaga, namun memang bukan takdirmu untuk mendapatkannya. Tapi sebelum kamu menyebut kegagalan sebagai realitas, tanyakan dulu pada diri sendiri, apakah rencana yang kamu susun selama ini sudah cukup mumpuni? Ataukah kamu melupakan detil-detil kecil yang menjadi membuat rencanamu ambruk di tengah jalan?

2. Kita sering merasa tak punya cukup banyak kesempatan. Padahal satu kesempatan yang dimanfaatkan dengan maksimal jauh lebih berguna daripada ribuan kesempatan yang kamu sia-siakan

mencari kesempatan via racikankata.com

Advertisement

Mimpi-mimpi yang tak segera terealisasi membuatmu merasa hidup hanya begini-begini saja. Mungkin banyak rencana yang kamu susun di kepala, namun selalu saja hanya berupa rencana. Katamu, kamu tidak punya kesempatan untuk mewujudkannya. Namun ada kalanya kita tidak menyadari ketika sebuah kesempatan datang. Bisa juga rasa malas yang menguasai diri, membuatmu menunda-nunda dengan dalih mencari momen yang paling tepat. Kamu tak butuh banyak kesempatan, bila hanya untuk disia-siakan. Kesempatan mungkin tidak akan datang sendiri, karena itu kamu harus aktif mencari. Sebab semuanya itu berawal dari dirimu sendiri. Bila kamu tak segera mengambil langkah pertama, mimpimu hanya akan menjadi mimpi selamanya.

3. Kamu bilang semesta tak mendukung. Padahal itu hanya alasan untuk menutupi sifatmu yang mudah mundur perlahan setiap kali menerima satu kegagalan

Menyerah via azumamakoto.com

Jangan terburu-buru menyalahkan keadaan. Karan sesungguhnya musuh utama kita bukanlah halangan dari luar, melainkan halangan dari dalam. Rintangan terberat dalam melakukan sesuatu adalah rasa enggan yang berasal dari dirimu sendiri. Satu kegagalan itu tidak berarti banyak. Seperti kamu yang bisa mengambil berbagai jalur yang berbeda untuk mencapai tempat janjian, kamu juga bisa menempuh banyak cara untuk mewujudkan impian. J.K. Rowling mengalami penolakan berkali-kali sebelum akhirnya Harry Potter menjadi karya fenomenal yang kita kenal saat ini. Sebelum membangun kerajaan bisnis film animasinya, Walt Disney pernah dipecat dari pekerjaannya sebagai kartunis. Namun satu kegagalan tak membuat mereka mundur perlahan, melainkan justru memutar otak untuk menemukan jalan lainnya. Apakah kamu sudah melakukan hal ini juga?

4. Mimpi yang pudar karena tak mendapat cukup dukungan, adalah salah satu efek dari terlalu mempedulikan omongan orang. Toh, hidup ini kamu yang tentukan

berhenti memperdulikan omongan orang via mic.com

Merasa diremehkan dan tidak diperhitungkan adalah perasaan terburuk yang mungkin pernah kamu rasakan. Tak hanya merasa tidak didukung, disepelekan orang lain bisa membuatmu mempertanyakan ulang kemampuanmu sendiri. Menurunkan rasa percaya dirimu sampai ke titik minus satu, dan membuatmu terpuruk dalam kesedihan serta rasa tak berarti. Padahal memang begitulah dunia bekerja. Apapun yang kamu lakukan, sekeras apapun kamu berusaha menjaga citra positif, orang-orang akan tetap bicara dan komentar. Sekeras apapun kamu berusaha menyenangkan dunia, pasti ada saja orang tidak suka. Namun semua itu kembali pada dirimu sendiri. Rasa diremehkan, disepelekan, dan dipandang sebelah mata itu bersumber dari dalam dirimu sendiri. Bila kamu memutuskan untuk tak peduli, langkahmu akan tetap tegap meski cari maki muncul di kanan kiri.

5. Kamu sibuk menyalahkan pekerjaan yang menyiksa dan pendapatan yang tak sesuai kebutuhan. Tapi kamu lupa bahwa kamu punya pilihan untuk pergi atau tetap tinggal

kamu bisa saja resign via www.entrepreneur.com

Hari-hari yang membosankan, karir yang tak berkembang, dan kesejahteraan hidup yang masih jauh dari harapan, seringkali membuat kita merasa berada di tempat yang salah. Kamu tidak menyukai pekerjaanmu, dan karena itu kamu mulai menyalahkan ini dan itu. Kamu bilang, sistem perusahaan berantakan membuatmu kebingungan, gaji yang tak sesuai ekspektasi membuat diri hilang motivasi, dan pekerjaan yang tak manusiawi membuatmu stress nyaris setiap hari. Namun anehnya, kamu masih tetap bertahan di sana, dan terus mengeluh setiap hari. Padahal, kamu bisa saja mengambil keputusan untuk pergi dan mencari tempat lain yang lebih layak untuk kamu tinggali. Kita selalu punya pilihan, namun rasa enggan keluar dari zona nyaman seringnya mengambil jalan pintas dengan memangkas semua pilihan.

6. Kamu menyalahkan jodoh yang tak kunjung datang untuk menjelaskan kesendirian. Padahal jodoh memang tidak dikirimkan begitu saja, melainkan dicari dan ditemukan

Jodoh tak bisa hanya ditunggu via loveizlyf.blogspot.co.id

Seiring bertambahnya usia, tekanan untuk berkeluarga semakin terasa. Terutama bila kamu seorang perempuan, yang masa produktidnya ada batasan. Jawaban ‘belum ketemu jodoh, ya mau bagaimana?’ sering kita jadikan alasan. Dengan demikian, kamu tak perlu lagi menjelaskan lebih lanjut mengenai status lajang yang kamu sandang. Namun, sudahkah kita cukup membuka hati? Membiarkan seseorang masuk dan mencobai berbagai kemungkinan? Atau memang kamu yang terlalu takut untuk memulai sebuah hubungan? Hidup tidak seperti FTV, dan jodoh tidak akan datang sendiri. Meskipun kamu tak harus ngoyo mencari, setidaknya kamu perlu membuka hati dan belajar mencintai untuk bisa menemukan dia yang kamu nanti selama ini.

7. Pencapaian diri yang tak sesuai keinginan memang membuat kecewa. Tapi barangkali itu karena kamu enggan menerima ketidaksempurnaan diri sendiri

Terima kekurangan diri via www.jelenapantic.com

Segala hal yang melenceng dari rencana, mimpi yang tak kunjung bisa menjadi nyata, kegagalan demi kegagalan yang terus mendera, dan berbagai kesalahan-kesalahan yang sengaja maupun tidak sengaja ini bisa membuat kita membenci diri diri sendiri. Hal ini semakin diperparah dengan hobi memperbandingkan diri sendiri. Kenapa saya tidak seperti si A? Seandainya saya harus begini dan tidak bisa begitu? Seandainya saya seperti si B, tentu tidak akan begini jadinya. Kecewa karena kegagalan itu wajar. Namun tidak perlu sampai membenci diri sendiri. Toh setiap orang memiliki kekurangan dan pernah melakukan kesalahan. Ketidaksempurnaan itu memang manusiawi. Belajar menerimanya akan membuatmu lebih mempercayai diri sendiri.

8. Keadaan memang akan selalu seperti itu, tapi kamu bisa berkreasi untuk menjadikannya sesuai keinginanmu. Menyalahkan keadaan tak akan membawamu ke mana-mana

Meski sesaat membuat diri merasa lebih baik, menyalahkan keadaan tidak akan memberikan manfaat apa-apa. Tanpa kamu yang berusaha mengubahnya, keadaan akan tetap seperti itu. Lika-liku hidup itu nyata. Tidak ada rencana yang sempurna. Tak semua mimpi bisa diwujudkan dengan sekali mengedipkan mata. Namun sebagai manusia, kita punya daya dan kekuatan untuk mengubah keadaan. Dengan segala keterbatasan, kita bisa menciptakan kemungkinan-kemungkinan. Meski tak sesuai keinginan, toh kita selalu bisa mengambilnya sebagai pelajaran. Sekarang tinggal kita, yang memilih untuk hidup seperti apa.

“If you don’t like where you are, move. You are not a tree.” – Anonymous

Kamu bukan tumbuhan yang tak mampu menciptakan takdirnya sendiri. Sesempit apapun itu, kamu selalu punya pilihan untuk menjalani hidupmu seperti apa. Kamu yang memegang kendali apakah mimpi bisa terwujud ataukah hanya menjadi mimpi selamanya. Kamu yang menentukan apakah omongan orang terbukti benar ataukah sebaliknya. Berhenti menyalahkan kehidupan, karena itu tak akan mengubah keadaan.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!