Artikel ini adalah bagian dari liputan khusus Hipwee seputar ‘Cagub Series Pilkada DKI Jakarta 2017’. Bukan propaganda atau analisis politik, hanya berusaha menawarkan cerita politik dari sudut pandang anak muda. Karena politik sebenarnya adalah dari, oleh, dan untuk rakyat, termasuk kamu.

Ini adalah bagian kedua dari series khusus Hipwee meliput dinamika pencalonan Gubernur DKI Jakarta yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 Febuari 2017 mendatang. Sekali lagi Hipwee bukan tim sukses terselubung atau mau sok menggurui kalian semua masalah politik, cuma ingin menawarkan sudut pandang yang anak muda banget. Meski liputan ini sekedar ‘bego-bego’an bersama, semoga aja pembaca setia Hipwee bisa tergerak untuk punya aspirasi dan nggak apatis sama politik. Nah setelah selesai menghitung kancing, pilihan kedua Hipwee jatuh pada sosok Anies Rasyid Baswedan.

Sesaat sebelum pendaftaran calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017 ditutup, koalisi Partai Gerindra dan PKS menjatuhkan pilihan kepada pasangan Anies Baswedan dan pengusaha muda Sandiaga Uno. Meski nama Sandiaga Uno sudah sering disebut-sebut sebagai wakil poros Kertanegara yang dipenggawai Prabowo Subiyanto, nama Anies Baswedan merupakan kejutan tersendiri. Penggagas program inspiratif seperti ‘Indonesia Mengajar’, reputasi Anies Baswedan sebagai kekuataan pembaharuan dalam dunia pendidikan Indonesia memang sudah tersohor. Namun dibandingkan segala pencapaiannya dalam dunia pendidikan, rekam jejaknya rektor termuda di Indonesia ini dalam politik praktis masih terbilang pendek.

Nah sekali lagi ingin menekankan bahwa harapan Hipwee dengan mengeluarkan liputan khusus ini tidaklah muluk-muluk. Semoga bisa bermanfaat bagi yang tertarik membaca ;))

Sosok akademisi yang berwawasan luas dan pandai bertutur kata pasti dapat jadi panutan. Tapi banyak juga yang menyayangkan serta meragukan kemampuannya bertanding dalam keruhnya persaingan politik

Akademisi yang memutuskan untuk berkecimpung dalam politik via m.aktualpost.com

Akademisi yang lahir di Kuningan, Jawa Barat 47 tahun lalu ini merupakan sosok fenomenal dalam dunia pendidikan Indonesia. Anies Rasyid Baswedan pertamakali menyita perhatian Indonesia ketika diangkat sebagai rektor Universitas Paramadina Jakarta di usia 38 tahun, menjadi rektor termuda dalam sejarah. Rasa syukur dapat mengenyam pendidikan terbaik dan mendapatkan kesempatan melanjutkan studi di ‘negeri Paman Sam’ dengan beasiswa penuh, tampaknya memantik semangat tokoh satu ini untuk meyebarluaskan pendidikan bagi semua lapisan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Dari buah pemikiran itulah lahir program revolusioner seperti ‘Indonesia Mengajar’ pada tahun 2009.

Advertisement

Muda, berwawasan luas, dan revolusioner menjadikan Anies Baswedan sebagai tokoh panutan, tidak hanya bagi pendidik muda yang terinspirasi mengikuti programnya tapi juga berbagai golongan masyarakat yang peduli pada masa depan pendidikan Indonesia. Menjadi tokoh panutan dengan reputasi yang tak tebantahkan, Anies sebenarnya sudah memiliki modal politik yang dibutuhkan untuk terjun ke dalam dunia politik. Modal politik yang penting tapi bukan tanpa cela. Dalam permainan kekuasaan politik yang seringkali menghalalkan berbagai intrik dan muslihat, keputusan akademisi seperti Anies untuk berkecimpung di dalamnya seakan-akan langsung ‘menodai’ karier profesional yang selama ini dibangun.

Banyak orang meragukan akademisi yang identik dengan citra bersih di luar pemerintahan, akan mampu bertahan dalam kotornya persaingan politik. Tapi  benarkah kita tidak mungkin dapat keduanya? Alangkah baiknya jika mereka yang berada di tangga kekuasaan juga memiliki wawasan seluas mereka yang seumur hidupnya berkutat dengan ilmu pengetahuan. Mau politisi yang belajar mati-matian bak akademisi atau akademisi yang belajar aturan main politik tanpa harus kehilangan akal sehatnya, pokoknya demi kemajuan Indonesia, mereka yang punya kekuasaan nggak boleh ‘bego’.

Mungkin motivasinya bersuara dalam politik berangkat dari keyakinan bahwa tiap orang yang punya niat baik itu nggak boleh diam. Walaupun tanpa jaminan kalau niatan baik itu tetap bisa teguh dalam gerusan sistem

Tidak mau jadi golongan yang berdiam diri menyaksikan masalah bangsa ini via ariesadhar.com

Meski masih ada kalangan menyayangkan keputusan akademisi untuk berpolitik, tapi bapak empat anak ini tampaknya justru berkeyakinan sebaliknya. Sebagaimana dikutip di atas, Anies Baswedan percaya bahwa stagnan-nya segala penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini, berakar pada mereka yang mungkin memiliki solusi justru memutuskan untuk diam dan bersikap tidak acuh. Baik dilandasi pesimisme akan sistem yang sarat kultur korupsi atau alasan lainnya, tidak seharusnya mereka yang mampu membuat perubahan justru berdiam diri.

Bagi orang yang memperhatikan sosok ini dari dulu, mungkin keputusan Anies Baswedan menjajaki politik sebenarnya sama sekali tidak mengejutkan. Dalam banyak kesempatan Anies seringkali menjelaskan pedomannya dalam memilih karier, yaitu karier yang membuatnya tetap bisa tumbuh secara intelektual, menjalankan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga, dan memiliki pengaruh sosial. Tidaklah mengherankan jika akademisi yang sudah aktif dalam berbagai organisasi sosial sejak muda ini, memilih bertransisi ke karier dengan pengaruh sosial terbesar yaitu sebagai politisi. Langkah politik pertama yang diambil Anies adalah dengan ikut serta dalam konvensi calon presiden Partai Demokrat pada tahun 2013 demi mewujudkan misi-misi yang disebutnya sebagai ‘Janji Kemerdekaan’.

Bukan hanya di Indonesia, politisi seringkali dicap negatif sebagai orang-orang yang haus kekuasaan hanya demi mengedepankan kepentingan pribadi atau golongan. Meski miris namun ketika semua yang berjanji manis di depan hanya akan mempersalahgunakan kepercayaan rakyat dan mereka yang tampaknya memiliki idealisme berbeda pun akhirnya ‘takluk’ pada sistem yang sudah terlanjur rusak, pandangan tersebut dapat dipahami. Tapi janganlah anggap itu sebagai sebuah kelumrahan yang serta merta diterima, ya politikus itu memang biasanya korup dan nggak bisa dipercaya. Anggaplah itu sebagai alarm bahaya yang menandakan sistem demokrasi kita sedang dalam kehancuran. Semoga datang waktu dimana kita bisa melihat politisi sebagai orang-orang yang bisa dipercaya dan inspiratif.

Meski punya jabatan penting dalam kabinet, nyatanya tetap susah mewujudkan semua misi dan visinya untuk Indonesia. Kekuasaan Presiden akan formasi kabinetnya memangkas setengah masa bakti jabatannya

Berpisah jalan dalam politik memang semudah itu via www.widodogroho.com

Salah satu jalur masuk politik yang tampaknya ‘lebih terhormat’ bagi kelompok akademisi adalah melalui penunjukkan kabinet. Setelah mengambil langkah pertama, Anies Baswedan memantapkan langkahnya dalam politik dengan menjadi juru bicara untuk pasangan Jokowi dan Yusuf Kalla dalam Pilpres 2014. Rekam jejaknya sebagai tokoh pendidikan dan andilnya memenangkan pemilihan tersebut menjadikan Anies sebagai pilihan pertama Presiden terpilih Jokowi untuk posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2014-2019. Sayangnya belum genap dua tahun memangku jabatan tersebut, posisinya dilengserkan dalam reshuffle kabinet pada bulan Juli 2016 yang lalu.

Meski tidak sebombastis Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti atau seheboh program pembersihan PSSI dari Menpora Imam Nahrawi, kinerja Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan jauh dari kata gagal. Banyak yang menyayangkan dan gagal paham akan keputusan Presiden Jokowi tersebut. Banyak pula yang yakin bahwa proyeksi peta kekuatan politik masa depan membuat kubu Jokowi was-was akan posisi Anies. Apapun alasannya, pengalaman ini tentunya menjadi pelajaran politik tersendiri bagi cucu pejuang nasional Abdurrahman Baswedan untuk melanjutkan perwujudan semua visi dan misinya untuk Indonesia.

Setelah alami jatuh bangun dalam karier politiknya yang singkat, sosok pendidik satu ini belum menyerah menyuarakan aspirasi politiknya. Langkah strategis untuk menerima pinangan partai politik pun diambil

Tahu dengan siapa harus bergandengan tangan dalam politik itu mutlak untuk bertahan via indowarta.com

Drama pencopotannya sebagai menteri, tampaknya tidak membuat seorang Anies Baswedan jera mencoba peruntungan dalam politik. Meski kali ini harus berjuang lewat jalur yang lebih konvensional sebagai kandidat partai politik dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, Anies masih ingin menyuarakan aspirasi politiknya. Jalur yang ditengarai sebagai momok hilangnya semua idealisme dan independensi tokoh paling bersih sekalipun.

Meski harus bergandeng tangan dengan partai-partai politik yang mungkin tidak mewakili pandangannya, kita tidak perlu langsung berhenti berharap pada sosok pembaharu pendidikan ini. Terutama ketika salah satu program yang turut membangun reputasi spektakulernya adalah program anti korupsi. Anies juga merupakan salah satu orang yang dipercaya Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) memverifikasi fakta kasus ‘Cicak versus Buaya’ sebagai Tim 8 pada tahun 2010 yang lalu. Bukan berarti dia akan kebal dari tarik-menarik kepentingan partai, tapi anggap saja reputasinya tersebut sebagai jaminan sosial yang mestinya dia pegang kukuh.

Terlepas dari kepentingan partai atau golongan, program kerja yang disusun haruslah demi kemajuan Ibu Kota. Boleh saja mempertahankan program terdahulu, tapi sudah sepatutnya pemimpin baru menawarkan terobosan baru

Semoga ada terobosan baru yang membedakannya dari kandidat lain via www.aktualpost.com

Sebelum masa kampanye resmi dimulai, Anies Baswedan sudah menyita perhatian media karena pernyataannya terkait program pembersihan sungai. Anies yang mengapreasiasi inisiasi gubernur Jakarta terdahulu Fauzi Bowo menciptakan program Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI), dianggap mendiskreditkan usaha Jokowi dan Ahok yang benar-benar menjalankan program itu sampai menuai hasil seperti sekarang. Terlepas dari apakah itu strategi atau blunder politik yang tidak disengaja, tapi Anies berkali-kali menegaskan bahwa tidak peduli siapa pun penggagasnya jika sebuah program memang baik untuk kemajuan Ibu Kota maka pasti akan diteruskan dan ditingkatkan.

Tapi lagi-lagi Anies harus ingat aturan main politik terutama menyangkut pemilihan populer. Tampaknya dia akan kesulitan meningkatkan popularitasnya jika hanya menawarkan program yang sama dengan program terdahulu, terutama melawan incumbent yang punya reputasi bagus menjalankan programnya. Memang baik sebagai seorang pemimpin untuk mengutamakan kemajuan bersama di atas kepentingan atau perselisihan politik, tapi sebagai kandidat pemimpin baru Anies harus tetap bisa menawarkan terobosan tersendiri. Mumpung masih beberapa bulan menjelang pemilihan, semoga akademisi satu ini bisa menunjukkan kenapa dia akan menjadi pemimpin Ibu Kota yang lebih baik dari dua calon lainnya.

Terimakasih telah membaca bagian kedua dari liputan ‘bego’ politik ala Hipwee ini. Bagian ketiga dari series khusus ini bakal segera mengikuti. Meski sudah nggak misterius lagi, ya iyalah kandidatnya cuma tiga dah dibahas dua, semoga kalian tetap setia menanti. See you next time. 

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!