5 Alasan Langsung Ambyar Saat Ditanya “Kamu nggak apa-apa?”, Padahal Sebelumnya Merasa Baik-Baik Saja

Ambyar

“Kamu nggak apa-apa?”
“Yep.”
“Yakin?”
“…”
“Lho, kok malah nangis?”

Advertisement

Pernah nggak sih kamu mengalami momen seperti di atas? Awalnya kamu baik-baik saja. Kalaupun sedih dan ingin menangis, masih bisa ditahan-tahan. Kamu pun bersikap ceria seolah nggak ada yang sedang mengganggumu. Sampai akhirnya seseorang bertanya: “Kamu baik-baik saja?”. Lantas, seluruh pertahananmu luruh. Kamu pun seperti Didi Kempot yang tak kuasa menahan sakitnya ditinggalkan, ambyar.

Terkadang heran juga kenapa kamu bisa langsung ambyar ketika seseorang bertanya “Kamu nggak apa-apa?” atau mungkin “Kamu baik-baik saja?”. Padahal sebelumnya kamu merasa baik-baik saja. Barangkali beberapa kemungkinan ini bisa menjawabnya, kenapa hati terasa ambyar dan tangis sering pecah ketika ditanya apakah kamu baik-baik saja.

1. Pertanyaan “Kamu baik-baik aja?” memaksa kamu untuk mengecek kembali perasaanmu. Yakin nggak apa-apa?

diajak mengecek perasaan (photo by donate a pict) via www.pexels.com

Sebagaimana orang lain, kamu juga menghadapi hari yang berat. Masalah yang bertumpuk-tumpuk, dan mungkin fisik yang terasa overwhelmed. Tapi kamu selalu merasa itu bukan hal yang besar. Nggak apa-apa kok, ntar juga selesai sendiri, begitu katamu dalam hati. Namun, pertanyaan “kamu baik-baik saja?” itu seperti sebuah tamparan untukmu mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Lalu, ambyar itu terasa saat kamu menemukan fakta bahwa ternyata kamu memang nggak baik-baik saja.

Advertisement

2. Pertanyaan itu membuatmu merasa gagal menyembunyikan fakta. Bahwa kamu memang nggak lagi “nggak apa-apa”

meruntuhkan topeng yang kamu pakai (photo by Pixabay) via www.pexels.com

Sebenarnya kamu tahu kalau kamu sedang nggak baik-baik saja. Tapi hidup terus berjalan bagaimanapun perasaanmu saat ini. Karena tak ingin membebani orang lain, lantas kamu pun berpura-pura segalanya sempurna dan kamu baik-baik saja. Namun, ketika seseorang bertanya bagaimana kabarmu hari ini, kamu tak bisa berbohong lagi. Kamu gagal menyembunyikan fakta bahwa kamu memang nggak baik-baik saja. Nggak apa-apa kok, karena kamu nggak harus baik-baik saja sepanjang waktu.

3. Di sisi lain, pertanyaan “Kamu baik-baik saja?” menyiratkan tuntutan dan judging bahwa ada yang salah padamu. Mungkin ini memancing amarahmu

lelah dituntut baik-baik saja (photo by Adrien Olichon) via www.pexels.com

Masalah yang begitu berat, membuat moodmu berantakan dan emosimu kurang stabil. Ketika seseorang bertanya “Kamu nggak apa-apa?”, kamu menganggapnya sebagai penegasan bahwa ekspresimu sedang muram durja. Kamu juga menganggapnya sebagai sebuah tuntutan bahwa kamu harus tersenyum, tertawa, dan bercanda sepanjang waktu. Kemuramanmu dianggap sebuah masalah, dan karenanya kamu merasa sangat lelah. Kamu pun kesal, karena, memangnya kamu harus tersenyum dan ramah terus setiap hari?

4. Biasanya kamu memendam rasa karena merasa tak ada yang peduli. Ketika ada yang menanyakan keadaanmu, langsung mbrebes mili

terpancing karena ada yang peduli (photo by pressfoto) via www.freepik.com

Selama ini kamu selalu menyimpan semuanya sendiri. Selain kamu enggan memberati orang lain dengan bebanmu, kamu juga merasa tak akan ada yang peduli. Karenanya kamu selalu berpura-pura baik-baik saja, meski dalam hatimu berantakan. Namun, ketika seseorang menunjukkan kepeduliaannya dengan bertanya “kamu baik-baik aja?”, pertahanan dirimu runtuh. Apa yang kamu tahan-tahan selama ini pun akhirnya luruh. Kamu merasa dimengerti, dan entah mengapa, itu membuat kesedihanmu justru tak tertahankan lagi.

Advertisement

5. Kamu sebenarnya pengen cerita tentang masalah yang sesak di dada. Tapi bingung mulainya, jadinya nangis dulu aja

Nangis dulu aja via www.mtv.com

Sebenarnya kamu sudah memendam kalut sejak lama. Ada banyak masalah yang kamu hadapi dan kamu butuh teman cerita. Namun, ketika kesempatan untuk bercerita itu muncul lewat pertanyaan “Kamu baik-baik aja?”, kamu justru kebingungan harus memulai dari mana. Karena terlalu banyak yang harus diceritakan, dan terlalu banyak emosi yang disimpan. Karenanya, air mata itu jatuh tanpa bisa dikendalikan. Biasanya, setelah menangis ini kamu akan lebih lega dan melihat persoalan dengan lebih jernih.

Terkadang kita yang terbiasa menyembunyikan kesedihan, butuh pancingan untuk bisa mengeluarkan emosi yang menyesakkan jiwa. Sebuah pertanyaan sederhana “Kamu baik-baik saja?” bisa menjadi bom yang meledakkan pertahananmu. Tapi nggak apa-apa kok. Kamu memang nggak harus baik-baik saja sepanjang waktu. Kamu juga berhak mengakui kalau kamu sedang nggak baik-baik saja, dan itu nggak apa-apa :”)

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pecinta harapan palsu, yang berharap bisa ketemu kamu.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE