Salah satu momen paling mesra dengan Sang Pencipta tak lain adalah saat kita berbincang denganNya. Mengungkapkan apa yang kita inginkan, memohon kebaikanNya untuk mengabulkan pengharapan. Saat melakoni kegiatan satu ini ada rasa tenang sebagai Hamba yang tak bisa dijelaskan. Perasaan didengar, rasa terhubung pada Zat Maha Besar yang menciptakan. Indah bukan? 

Dalam 20 tahun lebih waktu hidup kita menyebut waktu mesra itu sebagai momen berdoa, ketika bisa dengan mudah mengungkapkan apa yang diinginkan di hadapanNya. Hanya saja belakangan ada rasa tak sepenuhnya lega ketika melakukannya. Sebab mengapa momen yang harusnya penuh kepasrahan ini jadi lebih mirip proses memesan makanan di restoran? Minta ini itu, memohon tambahan sesuai yang kita mau.

Advertisement

Bukankah seharusnya Tuhan lebih tahu apa yang kita perlu?

Seorang sahabat pernah berujar– “Memasrahkan kehendak pada Sang Pencipta adalah bentuk kepasrahan terbesar.” Kali ini saya harus mengangkat topi dan mengamini bahwa dia benar

Dalam perbincangan sore, kepasrahan seorang sahabat menyadarkan saya

Dalam perbincangan sore, kepasrahan seorang sahabat menyadarkan saya via roadiezine.com

Seorang sahabat baik yang jadi teman tumbuh bersama adalah saksi hidup bagaimana makna doa berkembang seiring kami dewasa. Semasa SMP dan SMA, terutama di kelas 3, doa di tiap awal hari bunyinya selalu hampir sama. Kami memohon bisa diterima di sekolah A, dimudahkan jalannya untuk masuk ke jurusan B, hingga minta diluluskan dalam Ujian Nasional yang sempat membuat kami sakit perut karena tingkat stres yang jawara.

Masuk ke masa kuliah doa kami pun bergeser jadi makin spesifik. Kami memohon dilancarkan jalannya untuk mengejar karir yang sejalan dengan jurusan tempat belajar. Doa ingin lulus seleksi student exchange juga pernah beberapa kali dipanjatkan. Permohonan untuk dipertemukan dengan jodoh yang punya sifat A, B, C pun rajin kami utarakan. Ah, memang naif sekali kami saat itu. Menganggap diri paling tahu, merasa permohonan harus selengkap itu.

Advertisement

Di suatu petang yang santai dengan ditemani 2 gelas jus segar dan pofertjes gula, sahabat saya mengeluarkan celetukan yang masih tertancap di kepala sampai sekarang:

Menyerahkan padaNya adalah sebuah bentuk kepasrahan

Menyerahkan padaNya adalah sebuah bentuk kepasrahan via www.shprehja.com

“Aku udah gak pernah berdoa minta macam-macam, tau. Sekarang doaku cuma minta diberi yang terbaik sama Tuhan. Ditempatkan di sebaik-baiknya ruang yang bisa membentukku untuk banyak belajar.”

Saya hanya tersenyum kecil mendengar pengakuannya. Bagi saya saat itu, jika tidak ingat kami sudah seperti saudara, ingin rasanya berujar ke depan mukanya: “What the hell? Dipikir Tuhan cenayang apa sampai bisa tahu apa yang kita mau? Minta itu harus spesifik, tau!”

Untungnya celetukan emosional itu tidak sempat saya lontarkan. Sebab hari ini, setelah sekian banyak kejadian yang menghampiri, tindakan kawan saya yang satu itu memang jadi pilihan yang paling layak diikuti. Ternyata Tuhan pasti jauh lebih tahu, dari cecunguk-cecunguk macam kita yang lebih sering SOK tahu.

Sebagai manusia, wajar jika ada geram saat merasa doa tidak didengar. Satu yang sering saya dan kita semua lupa: saat itu mungkin Tuhan hanya sedang ingin menyuruh kita bersabar

Manusiawi jika ada rasa geram saat permintaan tidak didengar

Manusiawi jika ada rasa geram saat permintaan tidak didengar via tumblr.com

Mau diakui atau tidak, sebenarnya ada sisi kekanakan yang tidak bisa begitu saja hilang dari diri kita. Semasa kecil, kita bisa dengan mudah tantrum waktu keinginan beli mainan tidak dikabulkan. Menangis panjang, mengurung diri di kamar, bahkan mogok makan sampai mainan idaman tergenggam tangan. Hal yang mirip kembali terulang saat dewasa, dalam kasus yang berbeda.

Coba lihat di sekeliling kita. Jika mau peka sedikit saja, bisakah kita menghitung berapa banyak kawan dan kerabat yang sedang ngambek pada Tuhannya? Atau coba lihat saja pada diri sendiri, pernahkah kita merasa Tuhan amat tak adil dalam memberi?

Rasanya seperti patah hati. Keinginan digagalkan, permohonan seperti tidak didengarkan. Alhasil kita-kita yang kurang dewasa ini memilih untuk menjauh sementara. Seperti ingin menunjukkan bahwa kita bisa hidup tanpaNya.

Kemarahan yang diikuti keinginan menjauh memang membuat kita merasa menang sementara. Seakan mendapat kesempatan berlenggak-lenggok di red carpet di hadapanNya demi, mengatakan: “Hey, I can live without you!” 

Geram memang wajar. Satu yang sering kita lupakan, ada hal lain di balik keputusan yang mungkin tidak kita pahami karena hati yang kurang besar. Ia hanya sedang meminta kita untuk bersabar. Ia mengajarkan kita cara menghargai waktu tunggu, sementara Ia sedang mempersiapkan kita di jalan yang paling benar.

Semakin dewasa, doa ternyata bukan cuma soal meminta. Ini lebih tentang bagaimana kita mempercayakan apa yang diharapkan pada tangan pemberiNya

Doa ternyata bukan cuma soal meminta. Ini soal percaya

Doa ternyata bukan cuma soal meminta. Ini soal percaya via tumblr.com

Bukankah doa dan permintaan lain memiliki hukum yang sama? Sebagai pemohon, ada kewajiban tak tertulis untuk percaya dan patuh pada sang pengabul permohonan. Seperti saat kecil kita bersikap baik sepanjang tahun demi mendapat hadiah dari Santa. Atau menahan keinginan batal puasa sebab ingin mendapatkan uang bersabar dari Bapak sebesar 5 ribu tiap harinya.

Kita pernah mengikuti aturan main, mau percaya sepenuhnya, yakin pada aturan-aturan yang diciptakanNya. Aneh bukan jika setelah makin dewasa kita justru makin banyak meminta? 

Pengalaman dan ilmu yang makin matang justru menyisakan ruang kecemasan. Kita menghitung dan mengukur, kemudian merasa keputusan kitalah yang paling membawa rasa bahagia dan mujur. Ada rasa takut jika diberikan jawaban yang tak sesuai harapan. Plot twist yang dulu mendebarkan kini dengan mudah bisa dianggap sebagai sebuah penolakan.

Keengganan diberi hal yang bertolak belakang dengan keinginan mengubah kita dari Hamba jadi konsumen menyebalkan. Tanpa sadar doa kita perlakukan seperti proses memesan makanan. Selama membayar, kita bebas memesan apapun yang kita mau. Tak lagi peduli pada masukan chef yang jelas lebih tahu.

Ironisnya, orang yang enggan menerima keputusan lain dari Bos terbesarnya ini adalah orang yang sama yang berkoar-koar ingin keluar dari rutinitasnya. Kita mengutuk kehidupan sebagai orang dewasa yang rasanya mengekang dan minim kebebasan. Tapi kejutan Pemberi Kehidupan justru sebisa mungkin kita singkirkan.

MembiarkanNya memutuskan tanpa perlu didikte memang terdengar sedikit mengerikan. Tapi bukankah Dia adalah pemberi sebaik-baik jalan, meski rutenya penuh lubang dan bercabang?

...sebab Dia toh sebaik-baik pemberi jalan

…sebab Dia toh sebaik-baik pemberi jalan via www.pinterest.com

Tentu tidak mudah untuk sampai pada level bisa benar-benar memasrahkan apa yang kita inginkan tanpa menuntut macam-macam. Dibutuhkan bukan hanya keberanian, tapi juga kepasrahan dan keyakinan besar bahwa Dia adalah pilot terbaik yang tak akan menyesatkan jalan.

Mengubah permohonan dari,

“Aku ingin…”

menjadi

“Aku percaya kau akan memberi yang terbaik.”

Tidak akan begitu saja terjadi dalam semalam. Kadang kita butuh tamparan keras, kegagalan bertubi-tubi, atau patah hati parah sampai rasanya enggan hidup lagi sebelum sampai pada titik ini.

Namun, meyakini bahwa Dia lebih tahu akan menciptakan rasa hangat dari hati sampai ke ulu. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan jika begitu, toh lewat jalanNya kita pasti akan sampai pada destinasi yang ingin dituju.

Jika toh ada lubang dan tanjakan yang melelahkan, itu berarti Bos besar memang yakin kita memang sanggup bertahan. Tak ada lagi yang pantas dikeluhkan.

Semua keputusan kembali pada kita. Dia akan tetap murah hati membuka telinga demi mendengarkan permohonan kita yang beratus-ratus kalimat panjangnya. Hanya saja,

Bersediakah kita mengikuti jalan yang memang sudah Ia siapkan, tanpa perlu lagi mendikteNya macam-macam? Atau kita akan tetap bertahan, dan merasa diri paling benar?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya