Artikel ini adalah bagian dari campaign #30HariTerimaKasih dari Hipwee. Kirimkan fotomu ke Instagram @hipwee untuk menunjukkan apa yang membuatmu bersyukur hari ini!

Ramadhan yang akbar,

Terima kasih telah sudi menampakkan diri di depan pintu kami lagi. Sejak tadi malam, tanda akan berakhirnya bulan Sya’ban telah ramai berkumandang. Anak-anak kecil di komplek kami pun mulai menumpuk dan membunyikan petasan. Semua gembira menyambut dirimu, yang 11 bulan ini dinanti-nantikan.

Advertisement

Jika harus jujur, aku bukanlah orang yang paling dekat dengan-Nya. Bulan Ramadhan selalu kulewati dengan biasa-biasa saja. Cukup menegakkan ibadah yang wajib, yakni sholat dan berpuasa. Belum terpikir untuk melakukan lebih dari yang diminta.

Ramadhan kali ini ingin kucurai dengan lebih baik lagi. Menjadi manusia yang lebih peka, lebih pandai berterima kasih tiap hari. Saat Idul Fitri nanti datang, aku tak puas sekadar senang karena THR atau bisa kembali makan siang. Yang kuinginkan: meraih sebenar-benarnya kemenangan.

Tahun ini akan kucoba untuk beribadah tak hanya yang wajib-wajib saja. Semoga tarawihku lebih sempurna — semoga diri lebih banyak berdoa daripada berbicara

Selamat datang, Ramadhan! Jangan malu-malu menemui kami via instagram.com

Sejauh ini aku lebih banyak berusaha menjalani ibadah yang wajib-wajib saja. Sholat fardu, lalu berpuasa. Itupun mati-matian berjuangnya. Kadang diriku masih dihinggapi kemalasan untuk sholat lima waktu. Ketika sudah terbiasa, tantangannya berganti menjadi sholat tepat waktu. Untuk sholat yang wajib saja aku masih sering menunda-nunda. Untuk tarawih, semangatku biasanya kendor di minggu ketiga bulan puasa.

Advertisement

Tahun ini aku akan menjalaninya dengan berbeda. Ibadah sunnah akan mendapat proporsi perhatian yang lebih besar dari biasanya. Semoga tahun ini, tarawihku lebih sempurna. Tak terlalu banyak bolos karena malas atau “sibuk” buka bersama. Semoga tahun ini, aku bisa lebih banyak mengaji. Kutargetkan khatam barang beberapa lembar sehari.

Dan semoga tahun ini, aku lebih banyak berdoa daripada mengeluarkan kata-kata yang tak perlu. Menggunjingkan orang dan kemarahan harus ku-delete dari kamusku.

Aku pun ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman dan keluarga. Selama ini, kesibukan pribadi telah menjauhkan aku dari mereka

Sebentar lagi, akan kembali begini via instagram.com

Ramadhan yang mulia,

Kadang aku bisa terlalu sibuk mengejar dunia. Tanpa sengaja membentengi diri dari kehangatan teman dan keluarga karena ingin memenuhi deadline dan target yang merongrong. Waktu bermain bersama teman-teman jadi berkurang. Makan bersama dengan keluarga pun tak bisa sesering yang diinginkan.

Karena itu, terima kasih telah mengizinkanku lebih banyak menghabiskan waktu dengan anggota keluarga dan kawan-kawan lama. Meski tak jarang aku membuat orangtuaku kesal karena susah dibangunkan untuk sahur, duduk bersama dengan mereka untuk menyantap makan saja sudah bisa membuatku bersyukur. Momen kedatanganmu pun kumanfaatkan untuk menelepon kakek, nenek, pakde dan budhe di luar kota. Senang rasanya mendengar suara mereka saat kuucapkan selamat berpuasa. Mereka tersenyum walau aku tak bisa secara langsung melihatnya.

Kau pun membantuku bertemu lagi dengan banyak teman lama. Satu per satu undangan buka bersama datang dan aku dengan senang hati menghadirinya. Bercengkerama kembali dengan mereka yang selama ini sibuk dengan urusan sendiri-sendiri, membuat hatiku penuh terisi. Kadang aku baru sadar betapa kangennya dengan mereka saat kembali bertemu di dunia nyata.

Kedatanganmu ingin kujadikan momentum untuk berterima kasih pada-Nya. Selama ini aku bahagia dengan hal-hal sederhana yang aku punya

Dengan apa yang aku punya, aku bahagia 🙂 via instagram.com

“Semoga kita bisa mendapatkan Lailatul Qadar, teman-teman.”

Aku tercenung saat membaca doa itu di grup Whatsapp-ku. Selama ini, aku belum berani memiliki cita-cita setinggi itu. Untuk menggapai Lailatul Qadar sepertinya aku masih terlalu hina. Kalau boleh jujur, tadinya doaku jauh lebih sederhana: semoga Ramadhan ini membuatku jadi manusia yang pandai berterima kasih.

Aku ingin berterima kasih pada Tuhan, atas nyawa yang masih bersatu dengan tubuhku hingga saat ini.

Aku ingin berterima kasih pada Ibu, atas makanan yang terhidang lengkap sebelum pukul 3 pagi di atas meja kami.

Aku ingin berterima kasih pada office boy di kantor yang mau membelikanku hidangan berbuka saat aku masih terikat di depan komputer kerja.

Ada banyak kebahagiaan sederhana yang setiap hari kutemui — dan aku ingin lebih menyadari bahwa mereka punya eksistensi.

Bahkan kalau perlu, kuluangkan saja waktuku untuk tantangan #30HariBerterimaKasih selama bulan puasa. Ramadhan yang mulia, bantu aku menjadi sebaik-baiknya manusia.

Semoga ini bukan perjumpaan terakhir kita. Semoga, niatku untuk menjadi lebih baik lagi di tahun ini diiyakan Sang Sutradara

Tak sampai di sini saja, ya? via instagram.com

Aku bersyukur, tahun ini diizinkan kembali menemuimu. Namun semoga ini bukan pertemuan terakhir kita. Semoga Sang Sutradara masih akan mempertemukanku dengan bulan-bulan Ramadhan yang lainnya.

Mari datang, wahai Ramadhan. Tak usah malu-malu lagi. Lihatlah — sudah kami buka lebar-lebar pintu rumah ini. Izinkan kami mencumbumu hingga genap 30 hari. 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya