Betapa Menantangnya Bekerja dari Rumah Saat Kamu Masih Tinggal sama Orang Tua

WFH di rumah orang tua

Dulu, saat mendengar istilah bekerja dari rumah atau work from home, yang terbayang di benak saya adalah santai dan bisa nyambi-nyambi pekerjaan. Soal deadline? Alah itu gampang! Kan kerjanya dari rumah, waktunya bisa diatur sesuka hati. Urusan rumah juga pasti bisa diselesaikan. Toh di rumah ini, akan ada waktu paling tidak untuk memasak, bersih-bersih, sampai ngeteh santai di sore hari.

Advertisement

Namun semua itu lenyap ketika pandemi datang. Meski jauh sebelum ini saya sudah pernah menjalani work from home seminggu sekali, tapi kali ini bekerja dari rumah rasanya sungguh menantang. Apalagi saya masih tinggal dengan kedua orang tua, yang beranggapan kalau di rumah itu bukan kerja namanya 🙂

Awalnya susah menjelaskan pada mereka bagaimana saya bekerja meski harus di rumah aja

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via www.pexels.com

Kedua orang tua saya adalah pekerja kantoran, dengan jam kerja yang saklek yaitu pukul 7 sampai 4 sore. Mungkin karena sudah puluhan tahun berjibaku di pekerjaan yang sama, jam kerja teratur dan segala printilannya, membuat kedua orang tua saya awalnya menganggap saya kena pemutusan hubungan kerja ketika mulai bekerja dari rumah.

Ibu: Kok jam segini masih di rumah? Nggak kerja? Kamu nggak kena PHK kan?

Aku: Work from home, bu. Kerja dari rumah

Ibu: Oh emang bisa ya? Trus nanti kerjaanmu gimana?

Advertisement

Perihal jam kerja, ternyata susah ya mengatur waktu untuk bekerja dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga~

Photo by Oleg Magni from Pexels via www.pexels.com

Bayangan soal “enaknya” bekerja dari rumah seketika buyar ketika menghadapi kenyataan susahnya mengatur waktu antara bekerja dan mengerjakan urusan rumah tangga. Apalagi saya merupakan anak perempuan satu-satunya. Yang mau tidak mau punya kewajiban tidak tertulis untuk mengemban semua tugas utama. Mencuci, nyapu, ngepel, sampai ganti bohlam lampu, you name it lah pokoknya.

Awal-awal, aduh, rasanya 24 jam nggak cukup untuk bisa mengerjakan semua. Apalagi ketika mendekati deadline pekerjaan sementara urusan rumah masih mengantri untuk dikerjakan. Akhirnya lembur pun menjadi kebiasaan. 

Apa itu selesai kerja pukul 5? Apalagi kalau ada perintah “besok bisa jadi ya~”

Belum lagi kebiasaan mengonsumsi kafein yang dirasa orang rumah sebagai pemborosan dan mengabaikan kesehatan

Photo by Peter Olexa from Pexels via www.pexels.com

Saat bekerja di kantor, ngopi adalah kegiatan yang wajar. Sehari dua kali pun, tak ada yang melarang. Giliran bekerja di rumah, kegiatan mengonsumsi kafein ini menjadi salah satu sorotan. Apalagi ketika tadi pagi sudah ngopi lalu lepas makan siang sudah menyeduh lagi. Bukannya kecanduan, tapi entah kenapa mata ini selalu jadi lebih berat ketika bekerja di rumah dengan segala godaan kasur, netflix dan swipe kanan.  

Belum lagi kalau kopinya beli dari luar, saya sudah pasti mendapat komentar “Kok jajan terus sih mbak?”.

Bekerja dari rumah berarti akan sering meeting virtual. Kegiatan ini pun nggak luput dari tantangan

Photo by Anna Shvets from Pexels via www.pexels.com

Salah satu keuntungan bekerja dari rumah adalah bisa kerja dengan piyama, celana gemes sampai daster pun tak apa. Lagi bad hair day pun hajar aja, toh nggak ada yang melihat juga. Namun lain halnya ketika harus meeting virtual. Mau tak mau perlu sedikit menyeret diri untuk memakai pakaian yang lebih proper, meski cuma atasan. 

Dan tantangan yang lain datang kalau keadaan rumah sedang riuh. Susah fokus sih pasti dan jadi sering mematikan kamera depan serta mikrofon demi lancarnya meeting virtual. 

Pressure yang dihadapi pun kadang bisa datang bersamaan. Mau menyerah tapi kok malu dengan previlege yang diberikan

Photo by Anna Shvets from Pexels via www.pexels.com

Iya, bagi saya bekerja dari rumah adalah salah satu previlege yang diberikan. Namun ada kalanya pressure dari pekerjaan dan urusan rumah maupun keluarga datang bersamaan. Saat kedua pressure itu datang, rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya, “Bisa nggak sih datangnya nggak keroyokan?”. Namun yang bisa dilakukan hanya berhenti sejenak, ambil nafas dalam-dalam sambil mendengarkan suara hujan yang menenangkan.

Meski tidak mudah dan penuh tantangan, bekerja dari rumah membuat saya menyadari satu hal

Photo by Anna Shvets from Pexels via www.pexels.com

Shout out untuk semua orang yang bekerja dari rumah dan bertahan sampai sekarang. Kamulah sebenar-benarnya perjuangan karena bekerja dari rumah sungguh tidak mudah. Belum lagi kalau kamu masih tinggal sama orang tua dan punya banyak sanak saudara. Pun denganmu yang sudah memiliki keluarga sendiri, jujur saya mau sungkem sama kalian nih!

Atas segala tantangan bekerja dari rumah ini, nggak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain bersyukur. Bersyukur atas kesempatan menempa diri yang diberikan sampai akhirnya bisa sejauh ini bertahan. 

Untukmu yang sampai sekarang masih bekerja dari rumah, saya nggak mau memintamu untuk selalu bersemangat. Nggak apa-apa kok kalau kamu lagi merasa hidup sedang tidak baik-baik saja. Take your time! Tapi setelah itu, mari sama-sama angkat kepala dan kembali menghadapi dunia 🙂

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Not that millennial in digital era.

CLOSE