Perjalanan 6 Sekawan

Kisah pertemanan di bangku kuliah

Hai, Namaku Anjani atau akrab dipanggil Jani. Sekarang ini aku sedang menempuh pendidikan di bangku perkuliahan. Orang orang biasa melihatku sebagai orang yang pintar, karna apa? Karna prodi ku adalah matematika. Belum tahu saja mereka apa yg anak anak matematika rasakan. Ini kisahku dan 5 teman dekat ku.

Perjalanan sampai dititik ini bukan satu hal yang mudah untuk aku dan Yuni. Begitu juga dengan Lala, Riri, Ebi dan Nadi. Kita dipertemukan dengan tak sengaja, tidak sebenarnya si sengaja karna emang sudah takdirnya, tapi pertemuan kita cukup unik. 

Aku dan Nadi sudah bertemu di pertama kali aku masuk saat rangkaian acara ospek kampus. Cerita ini lucu, bagiku si. Aku dan Nadi kebetulan berada di satu kelompok yang sama. Saat itu, dihari pembekalan dia adalah manusia yang pertama menarik perhatianku. Kalo kalian tanya kok bisa? Ya aku tidak tahu kenapa gitu. 

Anehnya selama ospek berlangsung, aku jarang sekali atau bahkan bertukar sapa dengan Nadi pun tidak. Padahal kita ada di satu kelompok, melakukan apapun bersama tapi tidak pernah berbicara. Hingga pada ujung acara, atau hari ke-tiga. Tiba tiba dia duduk didepan ku. Tanpa basa basi Nadi mengacungkan sebuah lolipop kecil dan bilang "ini buatmu". Aku yang tadinya asyik berbincang dan bercanda dengan teman disampingku akhirnya terdiam. "Ya Allah, apa ini". Batinku untuk seorang Nadi yang sama sekali belum pernah berbicara kepadaku. Aku ragu menerimanya, yang pada akhirnya yaa tetap ku terima juga. Dan dari saat itu, aku dan Nabi saling mengamati satu sama lain. Duhh satu pertemuan dengan Nabi saja sudah panjang banget. Lanjut pertemuan berikutnya?.

Sekarang giliran pertemuanku dengan Lala, Riri dan Yuni. Pertemuan ini juga random, ga tahu kenapa pasti aja gitu. 

Setelah ospek kampus, kita pindah ke acara selanjutnya yaitu Ospek Fakultas. Ternyata ospeknya masih berlanjut man teman. Hari pertama ospek Fakultas aku berangkat sembari membatin "Ya Allah, beda teman lagi. Aku sama siapa yaAllah". Padahal sebenarnya aku tau ada Nadi disana. Ya tapi kalian pasti tahu sendiri, aku dan Nadi mana ada saling bercakap. Singkatnya hari pertama ospek fakultas selesai, dan dihari kedua diujung acara telinga ini mulai mendengar samar samar. Banyak yang meneriakan nama "Yuni". Perlu diakui Yuni emang cantik, pendiam juga keliatannya. Tapi kalo sudah dekat ya tidak menjamin pendiamnya masi berlaku. Oke lanjut lagi.

Setelah mendengar teriakan itu, aku sempat kesal. Dalam pikiran kaya selalu berfikir "ohh iya si cantik emang, pantes". Astaghfirullah iri dengki sekali aku. Tapi akhirnya aku mengabaikan masalah tersebut di detik itu juga. Jujur aku bingung, tengok kanan kiri di antara puluhan manusia mencari mana yang kelasnya sama denganku. Sedih banget kayanya. Aku memberanikan diri menceluk orang didepanku "Hai mba, namanya siapa, kelas apa". Orang nya pun menjawab dan itu pertama kali aku tau orang yang satu kelas denganku, kecuali Nadi. Ketika aku asik berbincang dengan sebut saja dia Fina, tiba tiba orang yang ada disamping fina pun nimbrung. "Namanya siapa mba?". Aku jawab singkat tambah cuek, "Anjani". Tanpa basa basi dia memperkenalkan diri juga. Ternyata itu Lala.

Pertemuan ku dengan Lala kali ini tidak membuahkan hasil yang baik, karna kita terlalu kaku untuk membahas sesuatu. Nahh ini seru si menurutku, tapi tidak tahu menurut kalian.

Hari ini, adalah hari dimana aku dan mahasiswa mahasiswa lain memulai mata perkuliahan pertama untuk MABA. Widihh kelazz. Hari dimana pula aku harus beradaptasi dengan manusia manusia baru yang sangat asing di duniaku. Sekitar pukul sembilan kurang beberapa menit, aku sampai diparkiran belakang gedung fakultasku. Dengan wajah seperti orang kebingungan aku berjalan menyusuri motor motor yang sudah tertata rapi membentuk barisan. Dan akhirnya aku bertemu dia, manusia yang sangat tidak asing. Aku berusaha memanggil namanya dengan suara agak lantang. "Nadii". Celukku hingga dia menoleh kearah ku dan kali ini dia membalas dan berbicara kepadaku. "Hai Jani". Ya Allah apalagi ini, tumben sekali. Dia menungguku datang kearahnya,  yang kemudian aku bergabung disatu kerumunan berisi 3 anak yang salah satunya ada Lala. Mereka menatapaku dengan penuh pertanyaan.  Wajar namanya juga orang baru ya kan. Aku mulai menyalami satu satu sembari menyebutkan nama, ternyata itu Yuni, dan Riri. Nadi yang tadi bersamaku memilih pergi dan mencari kehidupannya sendiri. 

Dan tanpa disangka, Riri adalah teman dari teman organisasiku. Cerita ini terus berlanjut sampai mata kuliah pertama dimulai dan kita saling berbincang satu sama lain. Lagi lagi kecuali Nadi. Terserah kalian mau menganggapnya apa, tapi dia memang seperti itu. Dan manusia yang ga bisa ditebak sama sekali. Mulai dari Hari itu kita semakin akrab, mulai membahas masalalu masing masing. Membahas kehidupan yang rumit bersama, main kerumah bergantian, Makan pergi bersama. Dan tanpa terasa 1 semester akan selesai.

Nadi yang dulunya pendiam dan sering menyendiri kini malah sangat dekat denganku. Dia punya alasan tersendiri kenapa bersikap seperti itu, tapi biarlah tidak apa apa. Kini kita sedang mempersiapkan untuk UAS yang menentukan pencapaian pertama di bangku kuliah.  Duhh cepat sekali rasanya kami ber enam harus menyiapkan diri untuk semester berikutnya. Sebentar ber enam? Tadi ada Nadi, Lala, Yuni, Riri. Eh iyaaa Ebi nya lupa. 

Pertemuan ku sama Ebi saat kita semua, anak satu kelas pergi kerumah panggil saja Ela. Tanpa panjang lebar, aku akrab dengan Ebi setelah aku dan Ebi pulang dari rumah Ela dan kita berbincang sepanjang jalan. Mulai membahas perjalanan hidup, pendidikan, masalah dan lain lain. Dari saat itu juga kita bulai aktif berkomunikasi. Begitu juga dengan Riri, Yuni, lala dan Nadi. Eh perlu di ingat Nadi selalu beda dan tidak bisa kita tebak segampang itu. Jadi kesimpulannya, sampai saat ini kita masih bersama dan lebih dekat dari pertemuan awal kita. Dan sudan memilik rencana ingin liburan bersama, seru yaaa. 

Oh ya Nadi dan Ebi mereka cowo, sama sama tidak peka. Sama sama punya sifat dingin dan cuek. Tapi bedanya si Nadi lebih dewasa dibanding Ebi. Bagitulah sekilas ceritaku bertemu sahabat sahabatku yang sebenarnya pertemuan kita labih absurd dari yang diceritakan.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kebahagian adalah pilihan