Nasib Kesetaraan Gender di Era Globalisasi, Sudahkah Terwujud?

Globalisasi merupakan sebuah fenomena dimana terjadinya kemajuan di bidang teknologi, komunikasi, maupun transportasi, yang mana kemajuan-kemajuan tersebut memudahkan masyarakat dalam melakukan aktivitasnya. Di era globalisasi ini, informasi sangat mudah dan cepat untuk didapatkan, sehingga hal tersebut juga dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan pandangan maupun pemikiran masyarakat di dunia. Seperti halnya mengenai pandangan masyarakat terkait kesetaraan gender. 

Kesetaraan gender menjadi sebuah isu global yang cukup penting untuk diperhatikan karena seringkali terjadi kesenjangan peran suatu gender di kehidupan sosial masyarakat terutama pada negara berkembang. Namun sayangnya, masyarakat masih banyak yang memiliki pemahaman yang kurang tepat mengenai apa arti dari kesetaraan gender itu sendiri. Seringkali kesetaraan gender diartikan sebagai penyamarataan tindakan ataupun aksi-aksi yang dilakukan antara laki-laki dengan perempuan, dan juga kesetaraan gender bukan tentang gender mana yang ada di posisi paling atas. Pengertian tentang kesetaraan gender disini merujuk pada pemenuhan hak-hak dan kewajiban yang setara antara laki-laki maupun perempuan. Singkatnya, setiap gender memiliki hak asasi yang tidak dibeda-bedakan dalam menjalankan kehidupannya baik pada aspek sosial, budaya, politik dan ekonomi. 

Perempuan seringkali menjadi korban kesenjangan gender

Terlebih lagi para perempuan masih sering menjadi korban dari ketimpangan gender. Perempuan, terutama di negara ketiga, sering dianggap sebagai beban di masyarakat, tidak bisa memimpin, dan tidak harus berpendidikan tinggi,  sehingga menyebabkan terjadinya pengurangan peran perempuan. Selain itu, institusi yang kurang mendukung, membuat perempuan terbatas dalam melaksanakan pekerjaannya.

Namun, adanya perkembangan teknologi dan informasi, para perempuan kini mulai bergerak. Mereka sekarang berani menuntut posisi mereka yang sering terpinggirkan serta membuktikan bahwa mereka juga berperan penting dalam pembangunan. Sebagai contoh, pada sektor publik, perempuan memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, para perempuan mampu membangun bisnis mereka sendiri, yang disebut sebagai online shop. Melalui bisnis yang mereka bangun sendiri ini juga dapat membantu untuk memperluas lapangan pekerjaan. Selain itu, perempuan juga telah berpartisipasi aktif dalam dunia politik. Jadi, perempuan yang dulunya sudah melekat pada pekerjaan di sektor domestik saja, kini juga berpartisipasi pada sektor publik. 

Bukan hanya tentang perempuan, tetapi juga laki-laki

Kesetaraan gender ini bukan hanya berfokus pada perjuangan perempuan saja, tapi juga untuk laki-laki. Stereotip laki-laki di masyarakat selalu dikaitkan dengan maskulinitas. Laki-laki dituntut harus menjadi lebih kuat, tangguh, berani, mendominasi dan bahkan tidak boleh cengeng. Bahkan mengenai pekerjaan, laki-laki tidak banyak yang mengerjakan pekerjaan domestik seperti melakukan bersih-bersih rumah, mencuci piring maupun mengurus anak di rumah. Jika mereka melakukan itu akan dipandang lemah karena melakukan pekerjaan domestik dianggap sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan saja. Padahal pekerjaan domestik harusnya bisa dilakukan oleh semua orang tanpa melihat dari gendernya.

Selain itu, laki-laki juga tidak bebas dan terbilang kaku dalam mengekspresikan perasaannya, contohnya yaitu menangis. Laki-laki sangat jarang sekali terlihat menangis karena apabila mereka menangis takut akan dianggap lemah, sehingga laki-laki mereka sering menyembunyikan kesedihannya. Sedangkan menangis merupakan cara manusia mengekspresikan emosinya dan bukanlah sebagai tanda lemah atau tidaknya manusia. ‘Toxic Masculinity’ tersebut masih saja sering terjadi hingga di era globalisasi ini, yang mana memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan sosial. Adanya toxic masculinity ini juga berpengaruh pada adanya tindak kekerasan laki-laki kepada perempuan dan juga ketimpangan gender di masyarakat selama ini. 

Bagaimana kondisi kesetaraan gender di era globalisasi?

Globalisasi memberi dampak pada perkembangan dunia yang begitu cepat. Keterbukaan dunia ini dapat memberikan pengaruh pada pemikiran manusia. Perkembangan pemikiran masyarakat memberikan peluang kepada perempuan maupun laki-laki untuk mendapatkan hak-haknya secara setara.  Namun, sayangnya di era globalisasi ini meskipun dunia telah mengalami kemajuan, pada kenyataannya masyarakat masih banyak yang kurang memperhatikan akan pentingnya kesetaraan gender.

Persoalan-persoalan tentang kesetaraan gender hingga saat ini menjadi perdebatan di masyarakat. Untuk itu, pemahaman mengenai kesetaraan gender di Indonesia perlu untuk diajarkan pada generasi muda Indonesia saat ini sebagai penerus bangsa, terutama generasi muda seperti generasi Z hingga generasi Alpha yang sudah melek dan familier dengan adanya kemajuan teknologi. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan kemudahan dalam mengakses informasi, kesetaraan gender harusnya lebih digaungkan lagi, dengan melakukan kampanye pada media online sehingga dapat menjangkau seluruh lapisan dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sebuah kesetaraan gender. Karena, tercapainya sebuah kesetaraan gender memberikan pengaruh besar pada kesejahteraan masyarakat dan negara.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini