Akankah Kecerdasan Buatan Mengalahkan Manusia?

Mengerikan bukan jika manusia dikalahkan oleh kecerdasan buatan

38 tahun lalu sebuah film blockbuster The Terminator meramalkan umat manusia akan berperang melawan robot. Cerita nya dibuat sangat meyakinkan sehingga membuat semua umat manusia menganggap film ini akan benar-benar terjadi dimasa depan terutama dengan adanya kecerdasan buatan. Namun saat ini robot dan kecerdasan buatan masih jarang terlihat digunakan dalam agresi militer. Tetapi perkembangan robot dan kecerdasan buatan justru mengancam mengambil pekerjaan kita dari pada mengambil nyawa kita. Dalam sebuah artikel berjudul As Robots Threaten More Jobs, Human Skills Will Save Us oleh Mohanbir Sawhney menulis bahwa menurut Unversitas Oxford 47% pasar kerja di Amerika Serikat beresiko dapat tergantikan oleh komputer. Penelitian McKinsey Global Institute menunjukkan bahwa sebanyak 45% aktivitas pekerjaan dapat diotomatisasi, dan 30% pekerja menghadapi prospek bahwa setidaknya 60% konten pekerjaan mereka dapat dilakukan oleh mesin. Meskipun hasil penelitian ini mengerikan namun perayalah dengan adanya robot, computer dan kecerdasan buatan justru akan membuka banyak peluang pekerjaan baru. Robot tidak sepandai manusia, tidak akan bisa menggantikan sentuhan manusia.

Sejak masa Revolusi Industri Pertama, belum ada sejarahnya teknologi meningkatkan tingkat pengangguran. Dalam karyanya Capital, Karl Marx meramalkan bahwa mekanisasi akan mengarah pada pengurangan pasar tenaga kerja. Sepintas, tampaknya tidak ada keraguan dalam keakuratan pendapatnya: mesin bor otomatis dapat mengebor 400 lubang per jam, tidak seperti orang yang hanya dapat mengebor 40. Artinya, satu mesin dapat menggantikan sepuluh orang. Namun, sesuatu yang berbeda telah terjadi: sifat pekerjaan telah berubah. Misalnya, persentase pekerjaan di AS di bidang pertanian telah menurun dari 81% menjadi 31% pada tahun 1910 selama seratus tahun.

Terlebih lagi, Elon Musk, Bill Gates dan Stephen Hawking memprediksi akan adanya pengangguran besar-besaran karena mesin, mungkin itu juga salah. Mari kita lihat contoh dengan adanya mesin bor. Jika teknologi baru ini mampu menggantikan 10 pekerja, maka manusia akan dituntut untuk memproduksi mesin bor. Mereka yang sebelumnya mengebor lubang secara manual sekarang akan menghasilkan mesin. Selain itu, mesin akan membutuhkan baja. Itu juga harus dilebur oleh seseorang, dll. Kami telah mengamati proses seperti itu sepanjang sejarah umat manusia.

Misalnya, kemunculan mobil Model T oleh Ford telah mengurangi kebutuhan pandai besi, tetapi lebih banyak tenaga kerja dibutuhkan untuk membangun jalan dan membuat ban. Mengacu pada artikel Why Robots Will Not Take Over Human Jobs? oleh Andrew Arnold, sebuah studi dari Gartner Research menyebutkan bahwa pada tahun 2020 sekitar 1,8 juta pekerjaan akan hilang dan 2,3 juta akan tercipta. Saya yakin robot hanya akan menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang bergaji rendah, membosankan dan akan menciptakan pekerjaan yang akhir akhir ini sering di cari seperti orang yang mengembangkan perangkat lunak, pembuat robot, software maintainer dan lain-lain.

Alasan lain kenapa manusia tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan adalah karena manusia jauh lebih pintar dari pada sebuah robot. Kecerdasan buatan tidak tau bagaimana cara bertindak sesuai dengan keadaaan, kurang beradaptasi untuk bekerja sama dengan orang lain. Dan mereka hanya mengerjakan pekerjaan yang monoton. Dengan kata lain robot hanya bisa melakukan tugas tertentu sesuai dengan algoritma,

Alasan terakhir kecerdasan buatan tidak akan bisa menggantikan manusia karen kebutuhan kerja tim, kepemimpinan creative thinking, problem solving dan lain lain, bahkan jika sekalipun kecerdasan buatan menjadi sangat canggih masih banyak hal yang belum tentu bisa dilakukan misalkan menciptakan ide baru, seni, ilmu pengetahuan, hiburan, kepedulian terhadap sesama, sebuah kecerdasan buatan juga tidak akan bisa menjadi psikolog, artis, atau musisi. Bisakah robot menyanyi dengan pemikirannya sendiri? Bisakah robot mengubah kanvas kosong menjadi suatu karya seni yang indah? Jawabannya kemungkinan besar tidak. Selain itu manusia saling membutuhkan. Mungkin menganalisis dan memberikan solusi adalah suatu pekerjaan kecerdasan buatan. Tapi siapa yang akan bicara dengan orang-orang, membantu membuat keputusan berdasarkan keadaan, manusia juga masih butuh dengan seseorang yang bisa jadi teman bicara dalam beberapa kasus.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Informatics Engineering Student at Universitas Pamulang, Loving to explore new ways of solving problems, finding new solutions to existing problem and looking for problems that need solutions. Highly passionate on learning Front-End Developer.