Hubungan beda agama adalah hubungan yang tidak akan pernah berhasil, itu siH yang orang banyak katakan. Sejak 2011, menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang berbeda keyakinan adalah hal yang biasa saja untuk anak remaja yang baru saja duduk di bangku SMA. Seperti pasangan lainnya, berpikir ke arah lebih seriuspun belum terpintas. Senang-senang, dan berpetualang bersama adalah hal utama yang kami fokuskan di samping menuntut ilmu di satu sekolah yang sama. Yup, tapi masa-masa inilah yang tidak akan terlupakan.

Bayangkan saja, kami satu sekolah dan setiap hari bertemu. Untung saja tidak satu kelas, mungkin sudah bosan kalo setiap detik melihat wajahnya hahaha. Tapi dulu teman-teman selalu senang melihat kami berdua, bagaimana tidak setiap jam istirahat kami bisa saling menunggu didepan kelas hingga salah satu dari kami keluar lebih awal. Terkadang kami makan bekal bersama didalam kelasku, saat itu orang tua nya sering sering sekali membawakan kami bekal atau aku yang bawa dari rumah.

Advertisement


Hubungan kami cukup baik, dan justru membawa kami untuk mengenal lebih banyak orang. Aku dan dia selalu memperkenalkan teman kami masing-masing. Tidak jarang saat dia olahraga futsal aku sering menemani, jadi sudah hampir hafal dengan semua teman-temannya.


Beranjak ke tahun kedua, kami semakin saling memahami. Keluarga kami saling mengenal, bahkan setiap ada acara keluarga aku sering sekali diajak bahkan liburan keluar kota pun aku selalu ikut. Namun pada tahun kedua inilah, kami mulai merasa jenuh. Permasalahan sering sekali muncul, hingga akhirnya kami sempat berhenti sejenak dan saling intropeksi diri. Hingga beberapa bulan akhirnya kami kembali, dan merasa lebih baik.

Sampai akhirnya kami benar-benar merasa bahwa kami sangatlah cocok, lalu terbesit sekilas mengenai keyakinan kami. Ah, masih lama jadi aku pun tidak membahasnya. Karena saat itu, kami selalu saling menghargai. Jika aku beribadah di hari minggu, dia akan selalu menungguku. Begitupun dengannya, aku selalu menghargainya jika dia harus beribadah terlebih dahulu di saat waktu tertentu. Di hari raya pun kami saling menghormati, hingga aku sering sekali diajak keliling kerumah saudaranya untuk bersilahturahmi rasanya seperti memiliki keluarga kedua.

Advertisement

Saat akan tiba Ujian Nasional, kami selalu belajar bersama. Hingga akhirnya kami berada ditahun ketiga. Kami akan sama-sama lulus dan melajutkan pendidikan. Sebelum acara kelulusan tiba, kami merencakan untuk memakai kostum yang sama. Ibu nya membantu ku memilih kain dan warna yang cocok, hingga kami bertiga berburu pakaian bersama hingga harus ketukang jahit untuk menjahit dress ku. Kami memilih warna cokelat tua sebagai kostum kami nanti. Hingga akhirnya hari terpentingpun tiba, kami sangat sedih harus berpisah dengan semuanya namun kami harus tetap melanjutkan mimpi-mimpi kami. Oya, tanpa diduga aku dan dia mendapatkan penghargaan sebagai pasangan terbaik di sekolah kami.


Ah, andai kalian tau, memang sejak dulu dari ibu kantin dan guru-guru selalu senang melihat kami bersama.


Singkat cerita, kami pun sudah melanjutkan pendidikan di kampus yang kami mau. Ya, dia di Jawa Timur dan aku di Jawa Barat. Long distance relationship bukan hal yang cocok untuk kami ternyata. Kami sering sekali sibuk masing-masing. Hingga akhirnya, orangtua kami saling mengingatkan bahwa kami harus fokus dengan pendidikan kami. Lagi pula, kami memiliki perbedaan keyakinan yang dimana kedua keluarga tentunya saling menghormati tapi tetap saja tidak akan bisa bersatu dalam hal itu.

Liburan awal semester kami bertemu, dan kami membicarakan hal ini. Sungguh, berat andai kalian tahu kami meneteskan air mata bersama. Tapi aku senang, kami berbisah dengan baik-baik tanpa menyakiti perasaan masing-masing. Tahun 2014, kami harus saling merelakan. Walau kami berpisah, tapi kami sebisa mungkin saling bertukar kabar. Bahkan hingga saat ini hingga kami sudah bekerja, di tahun 2019 ini kami masih saling berkomunikasi. Bukan berarti kami masing saling menyimpan perasaan, tapi lebih kearah dewasa.

Perasaan kami berubah menjadi sebuah ikatan keluarga, keluarga kami masih baik-baik saja bahkan lebih baik. Tidak jarang akupun bertukar kabar dengan Ibunya lewat telfon. Bersyukur kami dulu cukup dewasa untuk mengambil keputusan, sakit teramat yang kami rasakan diawal hingga sekarang berubah untuk menjadi lebih iklas membuat kami belajar banyak hal.

Saat ini jika di antara kalian yang berpikir bahwa hubungan beda agama tidak akan pernah lancar, kalian mungkin keliru. Justru hubungan ini mempererat kami dalam sebuah ikatan keluarga yang saling toleransi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya