Akhir Dari Sebuah Pengakuan Cinta yang Belum Sempat Kuungkapkan

Sesederhana itu membangkitkan angan, tapi sulit bagiku untuk merelakan kehilangan

Untuk pertama kalinya, aku merasa dadaku bergemuruh dengan irama yang berbeda. Tepatnya pagi itu ketika aku baru saja masuki sekolah menengah pertama. Melihatmu menari dengan bola, memutarnya secara acak dengan begitu lincah terlihat sangat menarik dimataku. Sinar mentari layaknya follow spot yang seakan-akan membantu mengunciku untuk fokus hanya kepadamu.

Advertisement

Namun, hari itu bukanlah pertama kalinya kami bertemu, bukan pertama kalinya kami saling kenal. Tetapi hari itu, adalah hari dimana aku mulai sadar bahwa kamu itu unik. Dengan penampilan yang hampir selalu amburadul. Seragam yang tidak dikenakan dengan benar, rambut yang hanya sesekali kausisir dengan jari, tetapi anehnya sama sekali tidak membuatku risi. Hei, terkadang aku sampai meragukan penilaianku sendiri. 

Semenjak hari itu, seperti halnya rutinitas, aku mulai terbiasa meluangkan waktu untuk sekadar menontonmu bermain futsal dilapangan. Meski hanya sebentar-sebentar, karena kelasku yang tidak menghadap langsung ke lapangan. Tapi aku juga cukup puas. Sama seperti halnya presensi, ketika aku melewatkannya rasanya pasti tidak nyaman.

Di tahun kedua, rasaku masih tetap ada bahkan malah semakin meningkat. Mungkin itu juga karena aku lebih sering melihatmu. Karena letak ruang kelas yang lebih dekat dengan lapangan dan juga kantin sekolah. Dari balik jendela yang begitu lebar, aku bisa melihatmu dengan jelas. Sesekali bermain, makan, atau hanya sekedar duduk di koridor untuk istirahat.

Advertisement

Siang itu, kupikir kamu lebih menarik daripada penjelasan guru yang ada di papan tulis. Hingga tanpa ku sadari, aku telah melewatkan banyak hal yang membuatku sama sekali tidak memahami apa yang harus ku pelajari. Kamu terlalu banyak mengganggu pikiranku. 

Saat kau tiba-tiba menoleh, aku panik dan berpura-pura membaca buku. Tapi taukah kamu, bahwa apa yang berusaha aku baca sebenarnya adalah pikiranmu. Aku begitu penasaran tentang apa yang sebenarnya kamu pikirkan.

Advertisement

Kulirik kamu diam-diam, tapi kamu ternyata masih memandang kedalam kelas, tersenyum sambil mengangkat sebelah alis. Entah untuk siapa itu, tetapi aku selalu merasa bahwa kamu sedang mengejekku. Dalam hatiku menggerutu. Namun aku tidak tahu pasti, apakah untukmu atau untuk diriku sendiri.

Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa aku sudah memasuki tahun ketiga. Sejak itu pula, lapangan menjadi terlihat sangat membosankan. Karena objek paling menarik bagiku telah menghilang. Kupikir aku masih bisa melihatmu sesekali sepulang sekolah ataupun saat aku bermain, namun ternyata tidak. 

Aku masih menunggu hingga waktu yang cukup lama. Namun, perlahan-lahan aku merasa bahwa melihat bayanganmu saja rasanya sangat mustahil. Aku bahkan tidak tahu dimana kamu berada. Tetapi aku juga tidak berniat bertanya-tanya. Kupikir semua akan ada waktunya. Hingga akhirnya aku tahu, apa yang sebenarnya ingin aku ungkapkan, memang tak mungkin lagi untuk kukatakan. Terlambat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Terkadang menyukai pilihan yang sangat beresiko.

CLOSE