“Apa kabar kamu? Kalau aku lihat-lihat kamu kok mirip ya sama dia? hahaha

Ya, kata-kata itu yang terus terngiang di kepalaku kala aku ingat dirimu. Entah apa yang membuatmu berpikir bahwa aku mirip dengan dia. Seseorang yang sangat kau sayangi. Yang aku tahu pasti bahwa kau takkan pernah melupakan dia. Kau akan selalu menyayangi dan mencintai dia. Sampai kau tak sadar bahwa hatimu telah dipenuhi oleh dia. Janganlah kau berbohong padaku, aku tahu semuanya. Meski kau tak pernah mengungkapkanya.

Advertisement

Kau selalu berkelit, kau tak pernah jujur pada dirimu sendiri. Kau masih dan akan selalu menyayanginya. Apalah arti hadirku dulu dan sekarang? Hanya bayangannya. Itukah yang kau pikirkan? Kau merasa aku hanya bayangannya. Dan mungkin kau mencintaiku karena aku bayangannya, bukan karena aku yang berdiri di depanmu sebagai diriku sendiri.

Kau bilang sayang, kau bilang cinta, dan kau pun takut kehilangan aku. Apa itu artinya kau tak bisa merelakan dia yang telah berbeda denganmu? Apa kau masih merasa bersalah tentang semua hal yang terjadi sebelum dia pergi.


Hey! Bukalah matamu, aku ada di depanmu!

Advertisement

Berdiri, menanti, dan berharap kau bisa melihatku sebagai aku bukan dia.


Sejujurnya aku tahu apa yang membuatmu seperti ini. Kau tahu, ceritamu waktu itu membuatku hancur. Dan malam ini kau ceritakan hal yang sama dan lagi-lagi kau buat aku jatuh pada sakit yang sama. Tak pernahkah kau sedikit saja berpikir akan asa ku? Tak pernahkah kau menerka apa yang ku rasakan ketika kau ceritakan semua itu lagi dan lagi? Aku terluka. Haruskah aku teriakkan semua amarah dan rasa sakit dulu agar kau mengerti bahwa hatiku tersakiti karena ucapanmu?

Harusnya aku lakukan itu sejak awal. Namun apalah daya, aku hanya mampu menelan lagi rasa sakit untuk kesekian kali. Hanya mampu berharap suatu saat nanti kau akan menyadari sesuatu yang telah kau lakukan berulang-ulang sejak dulu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya