Tak ada kehilangan yang tidak meninggalkan bekas luka. Seiring berjalannya waktu, mungkin ikhlas itu akan ada tetapi tetap meninggalkan luka.

Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang paling kau sayangi. Aku tahu bagaimana rasanya ketika orang yang paling ingin kau jaga, ingin kau bahagiakan, orang yang paling kau cintai, pergi dan tak akan pernah kembali. Kecuali dalam mimpi.

Advertisement

Aku tahu semua perasaan yang sedang berkecamuk di dalam hatimu kini. Aku tahu kau marah, kesal, benci, sedih, hingga kau ingin mengutuki dirimu sendiri. Karena aku percaya kau tidak mungkin menyalahkan Tuhan atas semua yang telah terjadi.

Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Kau pasti berpikir bahwa dunia ini sangat tidak adil memperlakukanmu. Kau pasti berpikir apa kesalahan yang telah kau lakukan hingga Tuhan mengambilnya darimu.

Aku tahu kau bahkan tak sanggup untuk memikirkan bagaimana hari-harimu tanpanya. Hanya satu yang kau mau, kau ingin dia kembali.

Advertisement

Aku tahu apa yang kau rasakan. Tapi tetap saja lidahku kelu ketika ingin menyampaikan beberapa patah kata semangat untukmu. Aku takut kau membenciku karena berlagak seolah-olah menjadi orang yang paling tahu tentang kehilangan.


Tidak apa-apa jika kau ingin menangis.

Tidak apa-apa jika kau ingin marah.

Tidak masalah ketika kau merindukannya.


Tidak masalah ketika kau ingin dia kembali. Tidak ada yang salah dengan apa yang kau rasakan kini. Sebab itu adalah bentuk pembelajaran yang akan menuntunmu untuk ikhlas. Sebuah proses yang akan mengajarkanmu apa arti kehilangan.


Kau tahu, kehilangan tidak hanya tentang melepaskan. Tapi juga mengikhlaskan.

Dan, ikhlas itu tidak cukup dengan melepaskan, ia juga menuntut kita untuk menerima (Ephemera).


Aku tahu, kamu adalah seseorang yang kuat. Tapi bukan berarti kau bisa melalui ini seorang diri. Kau butuh orang lain untuk berbagi. Berbagilah tentang semua kepahitan, kesedihan, kerinduan, dan semua yang kau rasakan. Berbagialah dengan orang-orang di sekelilingmu. Kau tidak sendiri. Banyak yang menyayangimu.

Masih sangat jelas di ingatanku tentang hari-hari setelah aku kehilangan orang yang paling berharga di hidupku. Kau, jadi salah satu orang yang selalu kusiksa dengan semua cerita sedihku. Terima kasih telah mendengarkanku. Kali ini izinkan aku menjadi satu di antara banyak orang yang menjadi tempat berbagimu.

Aku tidak ingin kamu merasa sendiri, seperti halnya yang aku pernah rasakan dulu ketika aku memilih untuk menyimpan semua luka itu sendiri. Aku ingin menjadi seperti bagaimana kamu mendengarkan, memberi semangat, dan membuatku tertawa meskipun hanya dengan obrolan sederhana dan candaan garingmu.


Kau ingat tentang apa yang kau katakan padaku?

'Ya hidup memang begitu. Suka tidak suka kau tetap harus menerimanya'

Dan aku ingin kau tau bahwa apa yang pernah, sedang, dan akan terjadi pasti ada hikmah di baliknya.


Aku ingin kau tetap kuat menjalani hidupmu. Seperti yang sudah kau lakukan sebelumnya.

Aku ingin kau tetap mencintai Tuhanmu. Aku ingin kau tetap mencintai dirimu.

Jika kau rindu, bilang saja pada Allah bahwa kau merindukannya. Sesekali Allah akan hadirkan dia di mimpimu.

Tetaplah hidup dengan penuh semangat, canda, tawa, dan bahagia. Tetaplah menjadi sumber kebahagiaan orang-orang di sekitarmu. Berbahagialah.

Dari aku, sahabatmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya