Biar kutulis semua rasa dalam lembar ini..

Indah, awal yang manis jika dikecap rasanya.

Ketika kita saling percaya, merajut kasih bagai semut yang membangun sarangnya.

Hingga terbentuklah janji di antara kita,

tak mengikat, namun dipegang teguh.

Tak terlihat, namun digenggam erat,

selalu bersama di kala suka maupun duka.

Berjalan berdua mengarungi arus, melekat betul dalam benak ini.

Hanya saja ada pepatah mengatakan, roda kehidupan selalu berputar.

Dari atas ke bawah, dari bawah ke atas.

Yang berbahagia, tentu akan berduka.

Yang berduka, tentu akan bahagia.

Begitu pula kebahagiaan ini, lambat laun memudar,

berganti menjadi duka nestapa..

Bagaimana tidak sedih,

Bagaimana tidak rapuh,

Bagaimana pula tidak hancur..

Hati yang senantiasa berseri,

dicabik begitu saja..

Aku, manusia yang tidak mengerti manusia

Apakah dirimu pemegang teguh habis manis sepah dibuang?

Akukah yang kau buang?

Mengapa kau lebih dekat dengannya?

Tak sadarkah dirimu, siapakah aku?

Aku yang dulu kau bahagiakan hatinya,

Aku yang selalu kau cari kabarnya,

dan aku yang dulu kau perjuangkan..

Lupakah dirimu tentang kisah perjuanganmu?

Tak bernilaikah semua itu?

Semudah itukah kau hempaskan kenangan?

Kini, aku rapuh..

Tak punya arah ke mana harus melangkah

Ingin aku murka rasanya,

tapi aku sadar sebagai apakah aku di dalam hatimu.

Jikalau hati ini bertuan,

maka mungkin di hatimu itu pasti ada nyonya.

Sayangnya, itu hanya harapan yang semu

Lelahnya menjalani kisah semu ini..

Ingin bertindak tapi tahu diri,

sakit namun tak berani bersuara..

Asingnya dunia cinta,

kejamnya rajutan kisah ini,

memilikimu, namun hanya semu semata.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya