Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, 6 tahun sudah kau berada di dunia ini. Maaf jika aku jarang menghabiskan waktu bersamamu. Aku tahu kamu kecewa, tetapi kamu terlalu baik dan cerdas sehingga kamu mampu memahami orang dewasa yang menyebalkan ini. Aku mencintaimu sejak ku ketahui kamu berada di dalam rahimku. Sembilan bulan lamanya aku harus sabar menunggu untuk melihatmu lahir. Aku sungguh tak menyangka, Tuhan memberikan kepercayaan begitu besar kepadaku.

Rasanya seperti mimpi ketika aku mendengar tangisanmu untuk yang pertama kali. Kau begitu mungil sayang. Aku ingin sekali menggendongmu dan mengajakmu jalan-jalan, tetapi tenagaku sudah hilang terkuras. Aku hanya bisa duduk dan memberimu ASI ketika kamu merasa lapar ataupun haus. Aku memandangimu tanpa bosan.

Advertisement

Mungkin aku terlihat seperti anak kecil ketika bersamamu. Merengek minta dipeluk ketika tidur bersamamu. Menangis ketika kamu menangis bahkan aku menangis ketika kamu seharian melakukan hal yang tidak seperti biasanya. Aku selalu memeluk dan menciummu di kala kamu terlelap. Hanya cara itulah yang membuatku merasa dekat denganmu.

Sayang, maafkan orang dewasa ini terlalu sibuk dengan urusannya. Namun aku berjanji akan menebus momen-momen kita lain kali. Ibumu sibuk bekerja walau aku tak sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhanmu dari penghasilanku. Setidaknya aku berusaha yang terbaik untukmu. Aku juga sibuk melanjutkan pendidikan agar suatu hari nanti aku mendapatkan pekerjaan yang lebih layak lagi untuk bisa memenuhi semua kebutuhanmu.

Memang kamu tak pernah meminta apapun kepadaku, namun setidaknya aku ingin hidupmu lebih baik nantinya. Mungkin alasan ini terlalu sulit dimengerti oleh anak seusiamu, namun satu hal yang kamu harus ketahui bahwa Ibu bangga terhadapmu dan Ibumu ini akan berjuang untukmu sampai Ibu masih ada di dunia ini.

Advertisement

Sayang aku merasa sangat beruntung memilikimu. Kamu adalah anugerah terbaik yang aku miliki di dunia ini. Jangan terlalu cepat menjadi dewasa ya sayang? Karena menjadi orang dewasa itu menyebalkan. Terlalu banyak urusan dan masalah yang kami hadapi.


Belajarlah dengan baik agar kelak ilmu yang kamu peroleh bisa kamu terapkan dalam kehidupan. Tersenyumlah sesering mungkin karena senyumanmu itu adalah obat untuk ketika aku merasa lelah dengan dunia. Aku bangga menjadi Ibu sekaligus Ayah untukmu, nak.


Aku mencintaimu dari awal kehadiranmu hingga akhir kematianku. Janganlah pernah berhenti mencintaiku diriku yang egois ini!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya