Mencintai adalah anugerah, jatuh cinta adalah bukti bahwa Tuhan benar-benar ada dan menyelipkan sedikit ke-maha-an-Nya kepada makhuk. Cinta adalah sebuah perwujudan dari rasa yang sulit untuk dijabarkan. Sehingga cinta hanya cukup diucap satu kata "cinta". Cinta merupakan hak kemerdekaan tanpa tendensi dan paksaan. Siapapun tidak bisa melarang untuk tidak boleh dicintai. Sehingga aku begitu saja mencinta dan tak tahu berapa banyak alasan untuk menjawab kalimat tanya "mengapa".

Mungkin aku terlalu pasif sehingga tak dapat memberikan alasan, tak dapat mengekspresikan dan tak "mengusahakan" supaya aku selalu ada. Dan kemudian cinta ini kau anggap bualan tanpa ada realisasi. Akupun diam, membebaskan setiap imajinasimu tentang keinginanmu, perlakuanku, dan kesinambungan hubungan. Hingga tak ada satupun alasan lagi yang mampu merekonstruksi aku kamu menjadi kita kemudian bahagia. Dan pada intinya kamu kecewa.

Advertisement

Bisa apa aku yang memang menyadari setiap kekurangan ini. Bisa apa pula aku yang sebenarnya berharap untuk tidak kau usik kekurangan yang aku segerakan untuk berubah, walau masih proses. Bisa apa aku selain melepas senyum dan menyimpan dalam hati. Aku lelah dalam setiap usaha untuk memberikan yang terbaik. Namun aku tahu kau lebih lelah karena menunggu aku melakukan yang terbaik, menurut versimu.


Aku tersungkur bersama setiap tetesan peluh perjuangan memperbaiki kualitas diri, namun aku yakin engkau lebih sering jatuh, bangkit dan tersungkur dengan harapan yang kau anggap semu tentang aku. Aku tahu itu, engkau lebih capek menunggu kebahagiaan versi kamu. Dan aku hanya mampu tersenyum, "Maaf telah mengecewakan kamu".


Segala hal selalu ada puncaknya, begitupun dengan kekecewaan. harapan semu semakin memupuk keyakinan bahwa semua hanya sebatas mimpi. Kemudian menggulingkan nalar, melunturkan ingatan bahwa kita pernah berbahagia dalam waktu yang cukup lama. Itu puncak kekecewaanmu terhadap aku lelaki seadanya yang hanya bisa berjuang dalam diam, berharap kelak akan menghadirkan kejutan bahwa aku memang layak untuk engkau. Jika semua ada titik puncak, maka alur ceritapun menghadirkan waktu klimaks. Begitupun aku dengan rasa yang aku yakini adalah cinta.

Advertisement

Lagi-lagi dengan senyum aku hanya mampu berkata "Carilah yang kau inginkan, dan yakinlah kau akan mendapatkanya. Aku akan selalu ada disini untuk menanti, hingga pemilik rasa ini memnyuruhku untuk berhenti". Engkau melenggang pergi dengan keraguan, sedang aku masih tetap diam dengan senyum palsu penuh harapan.

Waktu terasa cepat, lengkungan senyum tak lagi cekung namun semakin berubah cembung. Dan cinta, perlahan memudar hingga aku lupa bagaimana rasanya mencinta. Tak pernah aku sesali pilihan untuk melepas dan menyuruhmu mencari kebahagiaan Jika merpati yang baik saja bisa kembali, tak mustahil parkit kecil kuat menyusuri jalan dan kembali dengan cuitan kebahagiaan.

Mungkin cinta sejenis jelangkung, dia tak pernah diundang namun datang, dia tak pernah ku antar namun seketika pergi. Hingga kemudian sang waktu membenturkan dengan setiap drama, seolah memberitahu dengan frontal, "Cukup, kau menunggu sampai detik ini".


Rasional jika aku menghibur diri, bahwa engkau tidak pergi. Melainkan hanya enggan menemaniku disini.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya