Ada sepasang kekasih. Karena kondisi tertentu mereka terpaksa harus..

Lie.. It was just a lie
But you didn’t even recognize it
It’s a little bit stupid for sure
For anything I did, it’s fvckin' fool

And by any chance
If you’ve ever heard that I’ve moved on
You got it wrong, Babe
It’s totally just a lie

But still, you ain’t even got it
It’s a lie, Honey
I didn’t even know exactly
The reason why..
I eventually made such a fool decision
To leave you behind
Mess up anything on purpose, then

Every single thing we built up together
It’s over..
Just because of me

Now you gotta know, Babe
All I did before was to love you
To heart you much more

And the only one reason
For all the things I did to you is..
To love you more than before
No.. No, Honey..
I couldn’t even love you properly before

So shame, right?
That I could do nothing very long time ago
Ain’t do anything to draw a smile
Beautiful smile on your face

I’m sorry, Babe
So sorry to make you cry all over of instead
When you’re with me, especially
Almost getting suffered every single time
Just because of me..

Kinda stupid person like me
But still, you ain’t even got it
That’s a lie, Honey

It’s totally just a lie
That I don’t love you anymore
That I never think about you all these time
That’s a lie, Babe
A lie to make you got better

But now the question would be, is..
Did it work, Babe?
I really hope so..
No, I mean that it has to be like that
Cause it’d be useless for sure
If you weren’t happy after that, damn decision!

Then in the end,
It’ll only remain very big regret on me
Who hurted you that bad, Honey..

What do you think, Guys? About that man, especially.

Apa yang terlintas di benak kalian setelah baca untaian kata-kata itu? Bukankah pria itu terkesan begitu tidak bertanggung-jawab atas komitmennya sendiri? Bukankah ia begitu menjijikan karena harus menyakiti perasaan wanitanya hanya karena ia merasa tidak mampu lagi membahagiakannya? Apakah ia itu begitu bodoh? Sehingga harus melukai dua hati sekaligus. Menghancurkan perasaan wanitanya.

Dan sisi paling tololnya adalah bahwa secara nggak langsung, ia juga harus mengorbankan perasaannya sendiri yang sebenarnya masih sangat menyayangi kekasihnya itu.

Advertisement

"Berengsek banget tuh cowok! Egois banget jadi orang! Niatnya sih bagus buat bikin ceweknya bahagia. Tapi apaan sih? Nggak gentle banget, anj*r. Kenapa nggak terus terang aja ke ceweknya kalo misalkan dia itu lagi dalam kondisi sulit?

Kalo misalkan si cewek bener-bener cinta sama itu cowok, dia juga pasti ngertiin, 'kan. Tapi ini apa? Bukannya terus terang aja jelasin heart to heart, malah sengaja ngerusak hubungan yang sudah mereka jalin lama, dengan alibi kasihan sama ceweknya karena nggak dapet kebahagiaan yang seharusnya bisa ia dapetin" –A

"Mungkin si cowok udah terlampau sayang kali ya sama ceweknya itu. Jadi, jauh dari hatinya yang paling dalem ngerasa nggak tega kalau misalkan cewek yang sangat disayanginya itu terus-terusan sedih, terus-terusan nggak bahagia, nggak kaya cewek-cewek lain pada umumnya; karena basically dia juga masih belum punya capability buat ngebahagiain si cewek, mungkin.

Bisa juga karena si cowok ini lebih rela lukain perasaannya sendiri demi kebahagiaan ceweknya. Karena dia ngerasa kalo ceweknya itu deserve to be happy. Bahkan ketika nantinya ceweknya itu bakal bahagia sama orang lain, dia bakal usaha keras buat tetep ikhlas. Tapi emang ada ya sosok lelaki kayak gitu? Kayaknya zaman sekarang agak impossible ya, hihihi. Satu hal yang nggak gue suka dari attitude ini cowok adalah karena dia harus nutupin keadaan yang sebenernya, malah bohong, dan justru sengaja memperkeruh suasana biar mereka putus,. So shame bangetlah kalo menurut gue. Tapi gimana ya, kalo gue mikirnya ini cowok pasti do this kinda action for a reason, a good reason" –B

Gue rasa dua sample di atas cukuplah ya untuk mewakili response para pria dan wanita di luar sana yang sudah so professional masalah beginian. So, how about ya'll guys? Lebih sehati sama response A atau B nih? Kalo yang cewek-cewek, gue yakin lebih sehati ke response A. Am I wrong?

Advertisement

Well well well, coba kita tarik garis tengahnya ya

Possitive thinking dulu ya. Mungkin itu cowok memang lagi dalam kondisi yang cukup sulit, lagi krismon atau lagi ada masalah internal keluarga, misalnya. Jadi nggak bisa jalanin jobdesks pacarannya dengan baik.

Straight away as we knew, gaya orang berpacaran zaman sekarang 'kan berbasis hedonism & materialism. Jalan ke mall, makan di restoran mewah, nongkrong di kafe, karaokean, dll. Dan semua itu butuh duit, Coy!

Mungkin hal yang kaya gitu so easy bagi mereka yang cukup beruntung bisa terlahir sebagai keturunan keluarga konglomerat. Tapi buat mereka yang asalnya dari keluarga yang pas-pasan pasti juga mikir-mikir kalau mau hedon kayak gitu juga. Meskipun mungkin ada beberapa couple yang nggak doyan nge-hedon, tetep aja salah satu dari couple itu terutama si cowok pasti punya keingingan buat bahagiain ceweknya. Pengen ceweknya juga bisa ngerasain kebahagiaan yang cewek-cewek pada umumnya rasain. Misalkan ngajakin makan bareng di restoran mewah, beliin gifts perhiasan, boneka, pakaian, dll.

Sorry to say.. Tapi mereka yang dari keluarga pas-pasan bisa apa? Hanya bisa ngekhayal. Mungkin si cowok ini juga begitu. Jadi dia lebih rela ceweknya jadi milik cowok lain dan bahagia sama cowok itu dibandingkan tetep sama dia tapi gak bisa bahagia. Baginya kebahagiaan si cewek jauh lebih penting dibanding perasaannya sendiri yang otomatis bakal hancur juga pada akhirnya. Tapi baginya, it doesn't matter anymore.

"Toh cinta itu tak harus memiliki :)"

Terus barangkali itu cowok lagi ada masalah internal keluarga, parents divorce issue atau hare pressed misalnya; jadi fokusnya lagi bener-bener terpusat ke keluarga. Secara nggak langsung, kesannya ceweknya jadi terabaikan. Nggak keurus kalo istilah agak kasarnya. Dan pada akhirnya, si cowok itu mulai sadar kalo dia memang belum capable buat bisa bahagiain ceweknya. Galau dah, tuh.

Bingung dia gimana caranya biar waktunya bisa balance antara keluarganya dan juga ceweknya. Tapi kenyataannya hal itu susah buat dilakuin. That’s hard enough to care about both his beloved family and girlfriend all at once. Terlebih dalam satu level prioritas yang sama. Susah, Coy.

Ketika satu pihak diprioritaskan, satu pihak lainnya otomatis akan kurang terprioritaskan. Dalam kata lain satu pihak yang bukan dalam prioritas utama akan sedikit atau bahkan cukup terabaikan. Pada kondisi ketika cowok ini sedang punya masalah internal keluarga, tentu ia akan try too hard hard to be some good for solving it, right? Selain itu, si cowok ini juga sadar diri kalo dirinya itu masih belum mampu bahagiain ceweknya di kondisinya yang sekarang ini. Too much limits. Mungkin dia mikirnya gini nih, di luar sana masih banyak sosok-sosok lelaki yang jauh lebih mapan, jauh lebih capable buat bisa bikin ceweknya bahagia. Dan seperti itu seterusnya. Tapi kalo keluarganya? Siapa lagi yang bakal peduli selain si cowok itu sendiri? Tentu si cowok ini pasti ngerasa punya tanggung jawab lebih ke keluarganya. Gimana pun caranya kudu bisa selesein masalah internal keluarganya. No matter what obstacle is..

Taaapiiiiii, ada yang salah juga nih. Apa yang salah? Coba perhatiin kata-kata si cowok yang gue kutip ini,

I eventually made such a fool decision
To leave you behind
Mess up anything on purpose, then

Yep! Dari awal dia ini udah tau betul kalo tindakannya itu adalah tindakan bodoh. Sengaja bikin relationship yang sudah dia jalin sama ceweknya jadi hancur gitu aja. Sengaja bikin ribut. Bikin berantem. Dan akhirnya putus dah, tuh. Bego nggak sih? Jelas iya. Kenapa? Karena si cowok ini 'kan bilang kalau dia ini sebenernya masih sangat sayang sama ceweknya. Tapi malah sengaja ngerusak semuanya biar ceweknya jadi enek sama tingkahnya, biar lebih gampang putusnya. Katanya demi kebaikan ceweknya. Tapi apa iya itu yang hal yang diinginkan ceweknya?

Has he ever asked to her about that? About her dream with him in the future? Has he ever told about his problem to her? I guess he hasn't. Itu semua hanya asumsi belaka dari si cowok.

Darimana dia bisa tahu kalo ceweknya itu prefer sama hedonism & materialism, tanpa sekali pun nanyain tentang hal itu. Justru bisa aja, ceweknya itu malah lebih comfort sama kondisi apa adanya si cowok, sama simple life style-nya si cowok. Such a false speculation kalo menurut gue. Ujung-ujungnya cuma bisa nyesel doang kan kalo misalkan spekulasi kita bener-bener salah.

Message buat kita semua nih, guys:

Lain kali kalo sudah komitmen buat jalin special relationship, ya dijaga baik-baiklah keharmonisan hubungannya. Kalaupun ada masalah ya coba diomongin bareng-bareng sama pasangannya. Jangan sok pinter. Jangan pernah ngerasa spekulasi kita yang paling bener. Apapun itu yang bikin kita jadi overthinking, cobalah selalu dikomunikasikan sama pasangan kita.

Kalo doi bener-bener tulus sayang sama kita, dengan intuisi kedewasaannya, dengan ketulusan feelingnya, Insyaallah all izz well *kalo kata 3 Idiots 😀

Jangan sampai nyesel di akhir, hanya karena spekulasi-spekulasi konyol kita ya!