Aku bersyukur dan sangat bersyukur, kau hadir dalam sekejap lalu memintaku menjadi masa depanmu, namun maaf berkata ya tidak semudah mereka berbicara kita pantas!

Aku harus berkata tidak karna memang aku merasa tidak pantas berkata ya, karena di lain pihak aku akan mengecewakan hati yang lain dengan jawaban ya padamu. Semua orang menganggapmu baik, sopan, dan ramah termasuk pada keluarga, ya tak aku pungkiri juga bahwa memang kau memiliki hati yang baik, niat yang baik, dan sikap yang baik.

Sungguh aku menjadi perempuan yang sangat beruntung, kau yang tak begitu mengenal sosokku namun mantap ingin menjadikanku pendamping hidupmu di masa depan, kemudian aku bertanya padamu dengan alasan apa kau memilihku? Lalu kaupun menjawabku bahwa kau melihatku dengan agamaku yang pantas dan sifatku yang dewasa, juga orangtuamu yang sangat menginginkanku menjadi menantunya, simple sangat simple dan mengharukan jawabanmu, aku sungguh terharu akan itu.

Namun bagaimana pun juga aku tak bisa terburu-buru untuk berkata ya, karna aku memahami satu hati ada yang selalu mencintaiku di sana dengan tulus, dan akupun mencintainya lebih dari yang dia tahu, maaf karena aku belajar setia untuknya.

Aku tak mungkin memilihmu lalu kemudian mengecawakan harap dia padaku, sungguh rasanya tak pantas! Dia juga ingin aku berada di masa depannya sama sepertimu, aku hanya ingin belajar setia untuknya karena aku tahu dia pun tak pantas untuk aku kecewakan dengan menjatuhkan pilihanku padamu.

Advertisement

Telat, mungkin kata ini yang cocok saat ini untuk kita karena kau telat menyadari akan hadirku padahal kita sudah dari dulu saling melihat namun tak pernah sempat saling menyapa, apalagi untuk saling dekat.

Kau bilang kau menyesal, mengapa tak dari dulu kau menyapaku dan mendekatiku, kau bertanya mengapa baru sekarang?Jawabannya adalah mungkin karena baru sekarang kita pantas untuk saling mengenal. Tapi bersyukurlah, karena tenyata Tuhan masih memberi kesempatan untukmu, jujur akan niat tulusmu itu. Aku pun menjadi orang yang sangat beruntung, terima kasih dariku.

Sungguh rasanya berat mengecewakanmu dengan seperti ini, sejujurnya aku tak pernah ingin mengecewakan siapapun karena aku tahu persis kecewa itu menyakitkan, maaf beribu maaf karena aku harus berkata tidak untuk permintaan tulusmu menjadikanku pendamping hidup.

Advertisement

Mungkin kau memahami posisiku seperti apa? karena kita sudah berada di tiik dewasa, jadi aku harap kau memahami keadaan ini yang sungguh tak mudah bagiku, sejujurnya kau dan dia adalah dua orang yang pantas! Karena kalian adalah keluarga, namun aku adalah orang yang tak mungkin mencintai keduanya.

Akupun harus memilih dan jatuhnya pilihanku pada dia yang lebih dulu darimu, pada dia yang terlanjur aku cintai.

Aku ingin setia mencintainya, menunggunya sampai pada saat dia siap menjemputku datang ke rumahnya, mencintai dia selama ini sudah menjadi keajaiban sendiri buatku, kami bersama dengan begitu banyak ujian yang dilalui, lalu apakah aku semudah itu harus meninggalkan dia demi kamu? Tidak, aku harap Tuhan melihat dan tahu bagaimana kami berjuang untuk saling bertahan meski dengan banyak ujian namun bersamanya aku ingin melalui semuanya.