Aku tahu persis bagaimana aku dan bagaimana kamu, kita memiliki banyak kesamaan, bagaimana tidak? Hampir semua yang ada padamu aku tau, baik yang tak tampak maupun tak tampak. Bahkan segala desas-desusmu tentang masa lalumu dengannya aku paham benar detailnya. Tapi sayang, mungkin waktu memang belum memihak kepadaku.

Entah berapa banyak waktu yang aku buang percuma hanya untuk meladeni dan memikirkan seseorang yang bahkan untuk sekedar berfikir meluangkan waktu untukku saja tak ada.

Advertisement

Aku laki-laki yang sampai saat ini berwujud malaikat namun berhati setan, bagaimana tidak? Setiap hari aku selalu menunggu kabar burukmu baik itu tentang harimu, tentangmu dengan sahabatmu bahkan tentangmu dengannya. Karna hanya dengan hal semacam itulah kamu bisa datang sendirinya kepadaku. Karna hanya dengan hal semacam itulah aku bisa berada disisimu, berada disampingmu tanpa harus bersama denganmu.

Aku selalu bahagia mendengar cerita-cerita pertengkaranmu dengannya, karna dengan begitu peluangku untuk menggantikannya untukmu semakin terbuka lebar.

Aku tak mampu mengingat dengan persis kapan perasaan semacam ini muncul. Perasaan yang dengan kokohnya menancap dan bertahan selama ini. Perasaan yang semakin hari semakin seperti luka yang semakin menganga lebar. Aku juga tak paham kapan perasaan antusias ini muncul saat lawan bicaraku membahas tentangmu, aku juga tak ingat kapan pertama kalinya jantungku bergedup tak beraturan saat kamu duduk di sampingku dan bercanda denganku.

Advertisement

Aku juga tak ingat kapan terakhir kali aku merasa biasa saja saat berdebat hal-hal yang membuat orang biasa berfikir itu membosankan, memperdebatkan bagaimana bumi ini bekerja, bagaimana dunia dan segala isinya ini mampu melakukan tugasnya. Aku lupa kapan perdebatan semacam itu menjadi hal yang mampu kujadikan salah satu alasan untuk berbincang lama bersamamu, kujadikan alasan untuk memperhatikan gaya bicaramu, memperhatikan bagaimana senyum puasmu saat memenangkan perdebatan, bagaimana cara kamu memandang dunia dengan fikiran-fikiran positifmu, bagaimananya kamu dan segala sisi rasionalmu.

Aku lupa. Lupa bagaimana caranya kamu masuk mengisi bagian kosong hati ini, aku lupa.

Yang aku ingat hanya kapan aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh di diriku saat berpapasan denganmu, seperti ada desiran di dalam ulu hatiku saat berpapasan denganmu. Dan momen ketika kejujuranku mengenai itu semua terpaksa terkuak karena permainan kejujuran buatan mereka. Seakan permainan itu menjadi awal terberat bagiku untuk berjuang. Padahal selama ini aku sudah nyaman memperhatikan semua gerak-gerikmu tanpa diketahui siapapun. Aku sudah nyaman mengagumimu diam-diam.

Dan aku tau pasti hal semacam ini tak akan butuh waktu lama untuk sampai di telingamu karna tentu banyak yang dengan senang hati menjadi mulut dan mata untukmu, kan? Dan benar saja, memang tak mudah membungkam mulut mereka jika sudah mengenai perasaan. Namun sialnya tanggapanmu setelah mengetahui semuanya hanya seperti angin lalu, seakan semua ini hanya candaan belaka. Kamu tak pernah paham bagaimana rasanya saat kamu ceritakan bahagiamu dengannya di depanku, kamu tak pernah paham pedihnya saat kau banggakan dia di depanku. Kamu tak pernah paham bagaimana sakitnya saat kau gandeng dia di depanku. Tak taukah kamu aku juga sangat ingin menjadi sosok yang sangat kamu banggakan, sangat kamu idolakan, sangat kamu kagumi di depan semua orang.

Melihatmu bahagia seperti sekarang ini membuatku ingin menggantikan sosoknya, menggantikannya di sisimu. Aku benci dia, aku benci caranya memperlakukanmu hingga menjadikanmu terluka, menyia-nyiakan yang aku harapkan selama ini kamu berikan kepadaku. Hatimu! Aku benci tapi disisi lain bahagia karna hanya dengan caranya yang melukaimu lah kamu akan datang dengan sendirinya kepadaku. Namun aku tetap membencinya karna telah menyakiti orang yang tak ingin kulihat tersakiti. Aku iri dengannya yang selalu mampu ada di sisimu, dengannya yang selalu kamu harapkan dalam keadaan apapun, aku iri dengannya yang mampu menjadikan alasanmu tersenyum bahagia. Berbeda denganku, aku hanya kamu butuhkan saat kamu tak punya siapa-siapa lagi, ah bukan butuh sebenarnya. Aku hanya tempat pelarianmu saat kamu tak punya siapa-siapa lagi. Aku hanya menjadi telingamu saat mereka yang biasa menjadi telingamu sudah bosan dengan cerita dan masalah klasikmu. Aku mungkin hanya menjadi pundak saat kamu benar-benar lelah, tapi sayangnya kamu seperti tak pernah lelah dengannya hingga kamu tak mengizinkanku menyediakan pundakku untukmu. Padahal andai sekali saja itu benar-benar terjadi aku tak hanya akan menyediakan pundak untukmu, aku akan merentangkan tangan dan mendekapmu hingga kamu lupa dengannya dan sadar bahwa yang kupunya untukmu bukan main-main, bukan untuk semua orang, hanya untukmu. Itu Hatiku!


  • Kali ini hampir habis dayaku, membuktikan padamu ada cinta yang nyata. Setia hadir setiap hari, tak tega biarkan kau sendiri. Meski sering kali kau malah asik sendiri -

Jadi kita sama, kan? Sama-sama usaha kita tak dihargai, sama-sama yang kita punya untuknya tak dianggap, sama-sama bertepuk sebelah tangan, sama-sama membuang waktu untuk menunggu seseorang yang kita harapkan sadar. Sayangnya, ada yang membuatku berbeda denganmu. Aku kuat, aku sudah punya banyak bekas luka disini hingga luka kecil karenamu sudah tak terasa lagi. Aku sabar dan tak perhitungan hingga tak perduli lagi berapa waktu yang kuhabiskan percuma untuk menunggumu sadar. Dan yang terpenting aku tak mudah menyerah, aku tak akan menyerah menunggumu menyerah dengannya!

- I won’t give up on us, even if the skies get rough I'm giving you all my love. I'm still looking up -

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya