Semua berawal dari ‘perhatian kecil’ lalu menjadi terbiasa. Sebuah kehangatan yang membuat kita dekat. Kenyamanan yang membuat aku betah.

Dan semesta memainkan perannya dengan sangat baik. Membawa pada jarak yang memberi harap. Lalu jeda memupuk rindu padahal jelas diantara kita sudah tak ada sekat. Tidaklah salah jika aku mengartikan ‘kepedulianmu’ dengan sudut yang berbeda. Sampai akhirnya aku dibangunkan oleh kesadaran.

Advertisement

Aku salah menangkap ‘kebaikanmu’. Aku terlalu lengah akan tatapan yang kau beri.  Aku keliru menerjemahkan ‘kode’ yang kerap kau beri. Salahku yang terlalu terbawa perasaan tanpa menengok  lebih jauh alasannya.  

Aku kira aku istimewa. Sebab seringkali mengambil peran sebagai penyejuk saat gusarmu.

Ku kira hanya untuk diriku perhatian itu tertuju. Ternyata tersebar pada seluruh penjuru. Ku kira hanya padaku kehangat itu kau beri. Nyatanya kau bagi pada setiap hati. Masih kurangkah telinga ini untuk mendengar aduanmu ?  Tidak cukupkah diriku untuk menenangkanmu ? Belum cukupkah waktu yang ku sediakan untuk membalas keluh kesahmu ?

Advertisement

Mengemis cinta pada seseorang bukanlah diriku. Sebuah kesia-siaan yang tidak perlu aku lakukan. Mungkin kamu tidak peduli betapa kecewanya ketika dibuat berharap tanpa berniat memberi kepastian. Tanpa sadar ada seseorang yang dengan sengaja kamu patahkan hatinya. Namun tak bisa aku pungkiri, hadirmu sempat menjadi bagian dari bahagiaku. Selepas ini mungkin aku akan benar-benar menghilang dari atensi-mu. Belajar untuk lebih peka bahwa tidak semua perhatian itu harus diterima dengan baik.

Sejak aku tahu atensi-mu bukan hanya pada diriku, menjauh adalah pilihan. Kemudian menjadi biasa walau sempat merasa spesial . Menyakitkan memang saat ku tau prioritasmu bukan aku lagi. Kehilangan sosok yang aku nanti hadirnya. Ada jejakmu yang hilang dan diam aku rindukan. Aku cukup mengerti,  ternyata yang kubutuhkan bukanlah sebuah perhatian, tapi pembuktian dengan kepastian.

Kamu mengajariku banyak hal tentang sebuah keseriusan. Perhatian saja ternyata tidak cukup untuk dijadikan pegangan dalam memutuskan sesuatu.

Hubungan yang serius itu butuh sebuah kepastian bukan sekedar ucapan tanpa pembuktian.  Kamu membuka mataku untuk berhati-hati dalam setiap ucapan yang keluar pada mulut laki-laki. Untuk tidak mudah terpancing akan sebuah ucapan yang menyentuh hati. Kamu tahu dipermainkan itu tidak enak !

Kamu, walau ada sedikit kecewa dan luka namun izinkan aku mengabadikan segala hal indah denganmu lewat tulisan-tulisanku. Walau kau menoreh kecewa tapi aku menikmati setiap kedekatan yang pernah terjadi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya