Urut berdasarkan

Ketika Takdir Menghempasmu: Biarkan Hening di Mulut, tapi Berisik di Kepala

Terkadang memilih diam adalah bahasa terbaik saat kecewa dan terluka pada keadaan.

Curahan Hati Pejuang Garis Dua: Bisakah Aku Dipanggil Ibu?

Mungkin tidak hari ini, mungkin besok, minggu depan atau tahun depan…

Akan Ada Waktunya Kami Menikah. Jadi Berhentilah Mencibir Kami yang Masih Betah Menyendiri

Pernikahan bukan lomba lari, bukan adu hebat. Pernikahan adalah awal sebuah kehidupan yang baru dengan banyak lika-likunya.

Duniaku Runtuh Seketika Saat Kupeluk Buah Hatiku Sudah Tak Bernyawa

Ibu dan Ayah menyayangimu bahkan sebelum kami melihat wajahmu. Kamu adalah titipan Allah yang sangat berharga. 

Saat Kau Lelah dengan Cobaan, Tetaplah Kuat dan Percaya Semua Akan Baik-baik Saja

Sesungguhnya ujian itu tidak hanya mengajarimu untuk bersabar dan tawakal. Namun juga menguji mentalmu untuk tangguh

Untukmu Lelaki yang Datang dengan Kepastian, Maaf Aku Belum Mampu Memutuskan

Tidak ingin memberimu harapan. Biar kau telan pil pahit ini sebelum harapanmu semakin besar padaku

Dia yang Pasti Tidak Akan Mengulur Waktu Untuk Menghalalkanmu, Berhenti Terbuai dengan Janjinya

Ku jaga pandangan demi terjaganya hati dari sinyal-sinyal tak pasti. 

Teruntuk Wanita yang Telah Berhasil Mengoda Suamiku, Terimakasih Telah Merusak Kebahagian Anak-anaku

Jadilah perempuan terhormat dengan tidak merusak kebahagian orang lain.

Surat Terbuka untuk Diriku di Masa Lalu. Terima Kasih Sudah Mau Berjuang Sekeras dan Sehebat Itu

Kini aku semakin siap menghadapi masa depan. Terima kasih ya, diriku di masa lalu 🙂