Kita berteman sudah sejak lama. Kita saling mengenal ketika kita masih duduk di bangku SMA. Kita sangat dekat, kita mengetahui kekurangan kelebihan masing-masing. Lalu, tiba saatnya kita memasuki dunia perkuliahan.

Kamu mengenalkannya sebagai kekasihmu. Aku senang akhirnya kau memiliki kekasih karena aku tahu kamu sangat sibuk hingga tidak begitu memikirkan suatu hal tentang percintaan. Kita sering jalan bertiga. Aku, kamu, dan dia. Kita sering menghabiskan waktu bersama.

Advertisement

Awalnya aku hanya coba-coba. Tak ada niatan sama sekali untuk merebutnya darimu hingga aku mendapatkan respon tak terduga darinya. Dia sering mengajakku jalan berdua, awalnya aku kira karena aku adalah teman baikmu, dia berusaha untuk berbuat baik kepadaku saja. Aku kira kau tahu bahwa kami sering pergi berdua.

Tetapi ternyata, kamu tidak tahu apa-apa dan dia baik terhadapku juga karena ada maksud di balik itu semua. Dia menyatakan bahwa dia menyukaiku, dia bosan denganmu karena terlalu memprioritaskan pekerjaanmu. Lalu, aku bisa apa? Aku hanyalah seorang perempuan biasa, sekalipun aku tahu kita berteman.

Pihak ketiga itu selalu ada di setiap hubungan. Tergantung kesiapan kalian untuk menghalaunya. Jika aku merebut kekasihmu, lantas apakah aku tergolong seorang penggoda? Bukankah kamu juga salah telah membiarkan kekasihmu melirik diriku yang secara terbuka dia telah memilikimu. Lalu, kini kamu menyalahkanku atas semua ini? Apakah kamu tidak berpikir bahwa aku hadir di antara kalian akibat kelalaianmu? Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sendiri sehingga dia merasa kesepian.

Advertisement

Lalu, jika aku adalah perempuan yang dipilih olehnya untuk menjadi kekasih barunya, kamu mau marah kepada kami? Apa salahnya jika kami saling menyukai? Jika aku membalikkan kepadamu, aku juga tidak mau bekas pacarmu. Tapi aku tidak bisa menolak suara hati.

Kini kami sudah bahagia, ikhlaskanlah hubunganmu sebelumnya dengannya. Biarkan kami kini jalani hidup bahagia berdua.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya